Lini UMKM Adalah Denyut Nadi Ekonomi Masyarakat Kecil

share on:
Nasrul Khoiri

Yogyapos.com (YOGYA) - Dimasa pendemi ini, pelaku UMKM sangat terdampak. Stakeholder terkait harus memberikan solusi jitu, lantaran UMKM menjadi sektor perekonomian yang punya peran strategis.

Ketua DPD PKS Yogya Nasrul Khoiri SFar Apt menyatakan, sektor UMKM seolah masih terpinggirkan dan belum mendapat perhatian dukungan yang cukup bila dibanding sektor ekonomi yang lain. “Pelaku UMKM itu tangguh dan tetap mampu bertahan di saat krisis seperti sekarang. UMKM adalah sektor ekonomi mayoritas di Indonesia, sekitar 90 persen. UMKM adalah denyut nadi ekonomi masyarakat kecil, sehingga pemerintah seharusnya memberikan dukungan dalam bentuk affirmatif action untuk melindungi sektor tersebut," kata Nasrul Kamis (25/2/2021).

Nasrul melanjutkan, tindakan afirmatif yang dimaksud merupakan kebijakan yang diambil yang bertujuan agar kelompok UMKM ini memperoleh peluang yang setara dengan kelompok/golongan lain dalam bidang yang sama.

“Dalam survei Dinas Koperasi dan UKM Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Jogja Economic Resilience for Covid-19 (Jercovid) sebanyak 1.000 UMKM yang masuk sebagai koresponden melalui aplikasi 'Sibakul' dan Google Form dari seluruh DIY, sebanyak 321 pelaku usaha perdagangan terdampak paling parah, atau 32,1 persen, disusul industri pengolahan sebanyak 250 pelaku usaha (25 persen),” imbuhnya.

 Bidang berikutnya adalah ekonomi kreatif (21.2 persen). Sedang bidang Usaha lainnya terdata 133 pelaku (13.3 persen) UMKM, atau pelaku usaha yang belum bisa menentukan kategori bidang usahanya atau memang merupakan jenis usaha yang melibatkan lebih dari satu bidang usaha, bidang jasa 46 (4.6 persen).

 Sedangkan bidang usaha dengan peringkat persentase paling banyak adalah pertanian 16 (1.6 persen), pariwisata 8 (0.8 persen), transportasi 5 (0.5 persen), kelautan dan perikanan 4 (0.4 persen ), real estate dan properti 3 (0.3 persen), konstruksi 2 (0.2 persen).

Sejak pertengahan Maret hingga Juni 2020, pendapatan UMKM turun dari Rp 19,3 miliar menjadi Rp 3 miliar atau turun hingga 80 presen. (Fadholy)

 

 

 

 


share on: