Yogyapos.com (YOGYA) - Dalam perhitungan kalender Jawa, pada tahun 2020 ini Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X genap bertahta selama 32 tahun. Dan menjadi siklus windu ke-4 peringatan Tingalan Jumenengan.
Pada Hari Selasa Wage, 7 Maret 1989 atau 29 Rejeb Tahun Wawu 1921, KGPH Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja ke-10 Keraton Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Sejumlah agenda pun telah dipersiapkan panitia. Seperti Ngebluk, Ngapem, Sugengan dan Labuhan. Disamping kegiatan rutin yang bersifat tradisional, juga akan dihelat Pameran Budaya, Simposium Internasional, Pertunjukan Seni Adiluhung dan Pameran Hadibusana.
GKR Hayu didampingi GKR Bendara dalam temu media, Sabtu (15/2) menjelaskan, serangkaian acara memperingati Tingalan Dalem Jumenengan 32 Tahun Sri Sultan HB X meliputi acara tradisional serta kegiatan pameran dan simposium. “Kegiatan dimulai tanggal 7 Maret dengan suguhan tarian Beksan Golek Menak yang dilaksanakan di Pagelaran Kraton. Ada juga simposium internasional pada tanggal 9-10 Maret di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo. Kemudian pada 22 dan 23 Maret diadakan Hajad Dalem Ngebluk dan Ngapem di Bangsal Sekar Kedhaton. Sementara pada 25-26 Maret digelar Labuhan Parangkusuma, Labuhan Dlepih, Labuhan Merapi serta Labuhan Lawu. Dan penutupan rencananya akan dilaksanakan pada 4 April di Pagelaran denga pertunjukan Wayang Wong,” ungkap GKR Hayu di Pendopo Royal Ambarrukmo.
GKR Bendara menambahkan, untuk simposium internasional akan mengusung tema ‘Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta’ dan dibuka dengan menampilkan Beksan Lawung Ringgit, persembahan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta. “Agenda ini akan menghadirkan pembicara tamu dari dalam dan luar negeri. Selain itu juga terdapat pembicara dari call for paper terpilih yang diikuti oleh sejumlah akademisi, peneliti atau peminat budaya Jawa,” imbuh GKR Bendara.
Perkembangan motif busana di Yogyakarta justru tidak bersumber dari keraton. Setiap bangsawan membentuk pola kainnya sesuai dengan strata sosial guna membangun identitas. Fenomena ini lantas melahirkan pelbagai pola batik, yang justru banyak lahir dari Dalem-dalem Pangeran. Tidak hanya keraton, tetapi para pangeran yang mardika pada wilayah kekuasaannya turut memberi warna pada peradaban busana di Yogyakarta. Bahkan, sifat busana yang begitu personal bagi pemakainya sehingga sukar untuk diwariskan. Dengan demikian, melalui busana maka, cermin peradaban dari suatu pemerintahan dapat dikisahkan. (Dol)
