Mari! Ikuti Passion dan Ide Liar Anda

share on:
Dari kiri ke kanan: Heri Pemad, Kamili Andini, Ria Papermoon dan moderator Ari Wulu dalam sesi Creative Culture Hub & Hack || YP/Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Sejumlah dedengkot festival hadir menjadi pembicara dalam hajatan Jogja Festivals Forum Expo, Kamis (21/11) di Pendopo Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta.

Pada sesi diskusi Festive Your Passion hadir sebagai narasumber Anas Alimi dari Rajawali Indonesia yang menginisiasi event Prambanan Jazz, JogjaRockarta dan Mocosik. Kemudian ada sosok Lulut Wahyudi pendiri Kustomfest serta Ajie Wartono penggagas Ngayogjazz.

Ajie Wartono mengungkapkan, setiap membuat festival tidak perlu memikirkan berapa audiens yang akan datang. Namun yang lebih penting adalah bagaimana running festival tersebut.

“Terutama bagaimana passion dari penggiat festival persiapan saat pra-festival dan selama prosesnya. Jika hal tersebut berjalan baik sesuai ide-ide yang berkembang, niscaya audiens akan datang dengan sendirinya. Ikuti passion dan ide-ide liar Anda. Plan, prepare, excused,” ungkap Ajie Wartono sahabat karib mendiang Djaduk Ferianto ini.

Sementara Lulut Wahyudi bercerita bagaimana Kustomfest sudah diliput sekitar 127 media dari luar negeri dan semakin berkembang tiap tahunnya. “Kustomfest identik dengan otomotif, motor, mobil, lifestyle, dan anak muda. Namun kami berupaya merangkul aspek publik yang lebih luas. Seperti membuat area playground bagi anak-anak, serta menghadirkan ambience dekorasi yang homy. Lakukan apapun yang sesuai passion, karena kamu tidak merasa kerja tapi melakukan sebuah yang berbonus,” ujar pria yang akrab disapa LT ini.

Sedangkan Anas Alimi dari Rajawali Indonesia lebih menekankan pentingnya referensi dan riset jika ingin membuat sebuah festival. “Penyelenggara festival harus berani berinvestasi. Termasuk investasi kerugian, terutama untuk event rutin atau tahunan. Seni tertinggi adalah membahagiakan orang banyak. Selamat membuat festival,” kata Anas singkat.

Adapun pada sesi Creative Cultural Hub & Hack, menampilkan narasumber Heri Pemad founder ArtJog, Ria Papermoon penggagas Pesta Boneka, serta Kamila Andini dari Jogja Netpac Asian Film Festival.

Heri Pemad mengungkapkan, ArtJog telah dilaksanakan selama 12 kali. Up and down, pasang-surut pernah dirasakan. “Berawal dari rembugan kanca-kanca seniman yang ingin membentuk wadah pameran seni rupa. ArtJog akhirnya berkembang menjadi festival seni multi disiplin ilmu. “Penyajian karya secara maksimal harus diutamakan. Sehingga suatu karya ketika dinikmati secara langsung atau saat diarsipkan sudah menjadi karya yang elegan dan berkelas,” tutur Heri Pemad.

Kamila Andini dari JAFF mengungkapkan festivalnya telah berlangsung sejak 2005, didirikan oleh beberapa film maker serta sejumlah komunitas film. “Sejak awal berdirinya, JAFF berkontribusi mengajak penonton mengapresiasi tak hanya film-film Indonesia, tapi juga Asia,” imbuh Kamila yang juga putri sineas Garin Nugroho.

Berbeda lagi dengan kisah Festival Boneka yang dituturkan Ria Papermoon. Acara dua tahunan ini tergelar tidak sengaja. Semua berawal dari inisiatif Papermoon dengan para mahasiswa luar negeri, yang sama-sama ingin menggelar sebuah pementasan boneka. “Serba diluar skenario. Spontan saja waktu itu. Namun selalu kami evaluasi setiap pasca acara. Dan kini telah kami garap secara serius dari lini konsep, cerita dan program,” pungkas Ria.  (Dol)

 


share on: