Masyarakat Jawa Kuna dan Stunting

share on:
Diskusi di basecamp Kandang Kebo || YP-Wahjudi Djaja

ADA yang menarik dari diskusi kerjasama Dinas Kebudayaan Sleman dan Komunitas Kandang Kebo di basecamp Kandang Kebo, Sabtu (17/6/2023) siang.

Mengambil tema Pangan Lokal, Etnobotani, dan Pelestarian Kebudayaan Gastronomi Nusantara, menampilkan arkeolog BRIN Drs Sugeng Riyanto MHum dan pakar gastronomi UNY Dr Minta Harsana MSc dengan moderator Transpiosa Riomandha MA. Berikut catatannya sebagai bahan perenungan bersama:

Kehidupan masyarakat Jawa Kuna selain telah mengenal dan mempraktikkan sistem pertanian, juga memiliki pola hidup yang penuh kemandirian. Dari penelitian terhadap beragam sumber, prasasti dan relief candi, terbukti bahwa mereka telah menggunakan beragam peralatan untuk memproduksi dan mengolah hasil pertanian. Tiga cara dilakukan untuk mengolah dan mengawetkan makanan, yakni pengeringan, pengasinan dan pengasapan. Dari situs Liyangan di Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, tidak saja ditemukan benda-benda yang berkaitan dengan budaya agraris tetapi juga pola pemukiman dan persawahan. 

Komoditas utama periode Jawa Kuna adalah padi dan beras serta menjadi tulang punggung perekonomian kerajaan. Kedua komoditas itu ditopang dengan produksi buah-buahan, cabai, bawang, kapas, kesumba, jahe, mrica, pisang, sirih dan daun mengkudu, juga kluwak dan kelapa. Artinya, sejak periode Jawa Kuna masyarakat sudah memiliki ketahanan pangan yang mampu memenuhi dan menjaga kebutuhan hidup mereka. Dan itu semua berbasis pertanian dengan tanah yang memiliki kesuburan tinggi.

Kawasan utama yang menjadi penyangga masyarakat Jawa Kuna berada di area yang amat strategis. Diantara gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu dengan berpuluh jenis sungai, menjadikan kawasan ini sangat subur untuk dijadikan basis pertanian. Apakah ini kebetulan atau karena kecerdasan masyarakat Jawa Kuna? Nampaknya faktor kecerdasan yang lebih dominan. Dan itu sangat dipengaruhi atau didukung oleh pola makan mereka yang menunya memiliki kandungan protein, vitamin, lemak dan beragam unsur yang amat dibutuhkan tubuh.

Dengan pola hidup yang mapan, produktivitas yang tinggi dan kemandirian dalam penyediaan makanan serta penggunaan beragam teknologi pertanian seperti yang dimiliki masyarakat Jawa Kuna itu, kita menjadi paham kenapa mereka memiliki kebudayaan yang tinggi.

Karya mereka adiluhung dan bisa kita lihat sampai saat ini. Jika masyarakat Jawa Kuna menjadi ukuran atas imaji dan kreatifitas maka tak ada yang menolak predikat yang disematkan kepada mereka dengan peradaban yang paripurna. Karya mereka berdurasi peradaban dan menjadi master piece yang sulit dipadani.

Jika gastronomi dipahami sebagai hal ihwal yang berkaitan dengan seni, praktik, dan kajian tentang pemilihan, preparasi, produksi, penyajian dan penikmatan berbagai makanan dan minuman (Eni Hermayani, FTP UGM) maka masyarakat Jawa Kuna telah dengan nyata tidak saja memahami tetapi juga mempraktikkan dalam keseharian hidup mereka.

Konsekuensi logisnya, mereka mempunyai pola hidup dan pola makan yang amat beradab dengan tetap mempertimbangkan pemakaian produksi rumah tangga sendiri. Diluar urusan makanan, studi gastronomi adalah studi peradaban. 

Apa relevansinya dengan kita sebagai pewaris peradaban Jawa Kuna? Indonesia sedang menghadapi masalah yang teramat serius yaitu stunting. Sebuah kondisi dimana ada mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan karena kurangnya asupan nutrisi pada masa pertumbuhan.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) masih tinggi yakni 21,6%, hal yang tak bisa dibiarkan sebagai kewajaran. Mengapa? Terbayang apa yang akan terjadi pada anak jika sedari belia mereka dicekoki dengan beragam jenis makanan junk food maupun kemasan. Tidak saja menimbun sampah pada tubuh anak tetapi juga menanam benih penyakit yang sekaligus mengganggu perkembangan dan kecerdasan mereka.

Omong kosong dengan Indonesia 2045 jika orang tua, institusi bahkan negara gagal dalam menghadang derasnya pola konsumtif yang berbasis makanan kemasan dan menegasikan produk tanah dan olahan sendiri. Jangan salahkan tanah, air, hutan dan laut jika bangsa ini tak mampu meneladani pola hidup berkarakter peradaban seperti yang dimiliki masyarakat periode Jawa Kuna. Sejarah itu bukan hanya soal catatan peristiwa dengan kisah para tokohnya, tetapi juga studi tentang hidup dan peradaban. (Wahjudi Djaja, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada/KASAGAMA)

 

 

 


share on: