Memamerkan Spirit Merapi di Tengah Pandemi

share on:
Karya salah satu peserta yang akan dipamerkan, di Golf Borobudur, 7 Desember-7 Januari 2020 || YP-Katalog Pameran

Yogyapos.com (MAGELANG) - Karya seniman seni rupa Kartika Affandi, Jeihan Sukmantoro, Nasirun, Yusman, Wage Es, M Baiquni, Budi Ubrux, Mbah Pur dan lainnya akan meramaikan sebuah pameran seni rupa untuk merespon pandemi Covid-19 dan erupsi Merapi. Pameran akan berlangsung pada 7 Desember 2020- 7 Januari 2021, di Borobudur Golf Magelang, Jawa Tengah.

“Pameran ini merupakan kolaborasi Tidar Heritage Foundation, Desa Kebangsaan Ilmu Giri, Golf Borobudur, Magelang dengan didukung Studio Patung Yusman, Museum Affandi, Omah Watu, President University, Kayana dan Jababeka,” ujar Kurator sekaligus penanggung jawab pameran, HM nasrudin Anshoriy Ch, Jumat (4/12/2020).

Nasrudin mengungkapkan, Pandemi Covid-19 adalah bencana kesehatan sekaligus bencana kemanusiaan. Erupsi gunung Merapi adalah bencana alam sekaligus bencana kemanusiaan. Keduanya direspon oleh manusia dengan cara berbeda, tetapi sama-sama memiliki makna sebagai alternatif mitigasi, melahirkan peradaban baru. Pandemi direspon secara saintifik oleh dunia kedokteran, erupsi oleh sebagian manusia kreatif Indonesia direspon secara estetik. Respon saintifik melahirkan vaksin fisik yang bisa membentuk kekebalan tubuh, respon estetik melahirkan kaya seni, salah satunyas enirupa yang bisa membentuk kekebalan ruhani seihingga dunia spiritual menjadi bertambah kaya potensi.

Sebagaimana diketahui Gunung Merapi yang terletak di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sumber inspirasi yang tidak ada habisnya. Baik ketika diam seperti raksasa bertapa memamerkan keindahan pemandangan dan suasana kehidupan nyaman dan damai, maupun ketika gunung ini aktif erupsi memuntahkan awan panas, lava pijar, gas dan material bersuhu tinggi, sama-sama menjadi sumber inspirasi lintas bidang. Bagi ilmuwan dia adalah sumber ilmu dan obyek penelitian yang menantang, bagi kaum agamawan dia adalah pintu untuk memasuki alam spiritual yang dahsyat. “Bagi seniman, bencana dan penderitaan dan narasi Merapi erupsi mengguncang kesadaran akan kemanusiaan sekaligus menawarkan estetika yang kental, puncak dan kadang ekstrim. Kengerian dan keindahan berpadu menawarkan pengalaman hidup yang dramatik dan baru,” tukas Nasrudin.

Keindahan dalam damai dan keindahan dalam bencana yang tersampaikan oleh dinamika vulkanis gunung Merapi inilah yang menjadi pemicu munculkan ide atau gagasan penyelenggaraan Pameran Seni Rupa Membaca Makrifat Merapi dengan tema ‘Seni Sebagai Mitigasi Erupsi dan Penguat Daya Imun di Era Pandemi.

Sementara itu, Prof Dr Komauddin Hidayat selaku Ketua Tidar Heritage Foundations, menyambut baik penyelenggaraan pameran seni rupa ini, sebagai bagian dari kerja gotong-royong budaya untuk mempertinggi marwah keadaban dan mutu sumber daya manusia berbasis seni dan spiritual di Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi pameran ini. Momentumnya tepat, di saat pandemi dan bencana Merapi,” ujarnya.

Pameran Seni Rupa Bersama ini diharapkan bisa menjadi doa di penghujung tahun, dikandung maksud agar bangsa Indonesia pada umumnya, serta masyarakat DIY dan Jawa Tengah pada khususnya, selalu mendapat limpahan pitulungan, perlindungan dan bangkit bersama menyongsong zaman baru yang lebih bermutu, berkeadilan, berkeadaban dalam bingkai kebhinekaan Indonesia yang berkemakmuran. (Mwh)

 


share on: