Najwa Shihab: Penting Kuasai Skill di Tengah Dunia yang Terus Bergerak

share on:
Sebagian peserta webinar || YP-Mufti

Yogyapos.com (YOGYA) - Tanpa disadari dunia berubah sedemikian cepat. Begitu pula perkembangan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan. Saat ini kompetensi merupakan hal teramat penting, terutama bagi kalangan generasi muda. Menurut satu penelitian, Generasi Z diprediksi bakal berganti pekerjaan sebanyak 14 kali sehingga kompetensi menjadi sesuatu yang wajib dimiliki serta dikuasai.

Kondisi tersebut diungkapkan Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, dalam webinar bertajuk ‘Kebutuhan Skill Milenial di Era Industri 4.0’ yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Jumat (28/8/2020). Menurut Najwa, kompetensi tak cukup hanya berbekal kemampuan teknis pada satu bidang ilmu tertentu saja, tetapi pengetahuan berikut keterampilan lain pun diperlukan.

“Seorang pembelajar seumur hidup (life long learner) penting untuk menguasai skill, pengetahuan maupun keterampilan agar bisa menyesuaikan diri di tengah dunia yang terus bergerak dan berubah,” ujar Najwa Shihab melalui virtual Zoom.

Najwa menyampaikan bahwa perubahan ini sangat dirasakan semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan membuat manusia berbeda dibanding spesies lainnya, bahkan menghadapi keadaan paling ekstrim sekalipun. Masa pandemi sejak kurun waktu lima bulan terakhir memaksa masyarakat menyesuaikan diri menghadapi situasi baru seperti menjaga jarak, selalu pakai masker, cuci tangan, menghindari kerumunan.

“Terkait teknologi, paling nyata adalah pembelajaran, pertemuan, kegiatan-kegiatan sekarang ini dilaksanakan secara virtual. Mau tidak mau, semua itu memaksa masyarakat menggunakan fasilitas berbasis teknologi,” katanya.

Ia memaparkan beberapa hal jadi bekal generasi muda di masa depan menghadapi perubahan. Pertama, berorientasi tindakan (action oriented). Bila suatu waktu menemui problem segera menentukan langkah-langkah mengatasi persoalan dan memberikan solusi. Jangan cuma bilang so what gitu loh atau bodo amat, tetapi now what (apa yang harus dilakukan). Kedua, berprinsip punya integritas. Maksudnya tahu mana yang benar mana yang salah. Ketika berbuat sesuatu tidak ikut-ikutan, tidak terpengaruh oleh lingkungan.

Ketiga, inovatif memberikan solusi berasal dari ide sendiri. Kalau berasal dari ide orang lain, minimal mampu menjelaskan dan memahami langkah-langkah perubahan yang dilakukan. Keempat, berkomitmen melakukan sesuatu berdasarkan kesadaran, bukan karena disuruh atau diperintah. Kelima, reflektif melihat kelebihan kekurangan diri sendiri. Di samping itu mampu mengoptimalkan kelebihan serta berusaha memperbaiki setiap kekurangan diri.

Keenam, mandiri tatkala bertindak, tidak tergantung orang lain. Apa yang akan diperbuat niat motivasinya berasal dari internal diri sendiri. Ketujuh, punya kemampuan bekerja sama, membina relasi hubungan. Hal itu ditunjang oleh kematangan emosional, berempati pada orang lain (tidak egois) sehingga saling mengisi peran dalam kelompok.

Kedelapan, komunikatif atau keterampilan menguraikan isi hati dan pikiran secara artikulatif melalui pemilihan kata (diksi) agar dapat meyakinkan orang atas argumennya. Kesembilan, cerdas, dalam arti paham. Pemahaman itu dibangun sendiri didukung pengalaman, berpikir dan bernalar. Dengan kata lain memiliki kemampuan literasi untuk mengelola sumber daya dimiliki guna meningkatkan kualitas hidup.

“Semua itu diimbangi tiga hal pula yaitu bermimpi besar, berpikir besar, dan bertindak besar. Bermimpi besar berarti menepikan kata ‘tidak mungkin’ menjadi sebuah motivasi. Ukuran mimpi dan kepercayaan diri itu menentukan kesuksesan. Pribadi yang dikatakan berhasil adalah mereka yang mau mendengarkan orang lain, melihat dari perspektif berbeda. Kemudian melihat masalah sebagai tantangan, tantangan sebagai kesempatan,” urai Najwa.

Sementara, Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca-Perpustakaan Nasional RI, Dr Adin Bondar MSI, mengatakan kompetensi terkait sumber daya manusia (SDM) sebetulnya sudah ditangkap pemerintah melalui Perpustakaan Nasional. SDM unggul adalah mereka yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi supaya bisa bersaing di era globalisasi.

“Masyarakat berpengetahuan merupakan hal utama yang harus dibentuk terutama kognitif skill-nya. Pengetahuan punya potensi mengeluarkan masyarakat dari berbagai persoalan hidup sekaligus meningkatkan kualitas hidupnya,” terang Adin.

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah mendorong perilaku gemar membaca masyarakat dengan memberikan fasilitas akses informasi cepat, luas dan mudah melalui konten-konten literasi sesuai kebutuhan. Ia mengutarakan, informasi dan pengetahuan turut menentukan keberhasilan peningkatan ekonomi suatu bangsa. Perpustakaan berkontribusi besar membangun masyarakat berpengetahuan melalui ikhtiar kolektif menumbuhkan tradisi budaya membaca.

“Peran perpustakaan bagi pembangunan antara lain sebagai pusat ilmu pengetahuan yang mendorong inovasi kreativitas anak bangsa. Perpustakaan juga menjadi pusat pemberdayaan mengembangkan potensi berbasis literasi, di samping pusat kebudayaan untuk memajukan serta melestarikan kebudayaan bangsa. Namun terpenting, perpustakaan punya peran menciptakan SDM unggul, profesional, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Dalam tayangan ditampilkan enam macam kebutuhan skill milenial di era industri 4.0, yaitu: berbicara bahasa asing terutama di dunia kerja untuk mempermudah karir, menulis yang tidak didapatkan secara instan namun perlu dilatih terus menerus, public speaking untuk merepresentasikan hasil kerja. Selanjutnya manajemen waktu dan kecerdasan emosi, kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat, dan terampil bekerja dalam tim guna meningkatkan efisiensi kerja mencapai tujuan bersama.

Sebelumnya disampaikan pula opening speech oleh Kepala DPAD DIY, Dra Monika Nur Lastiyani MM dan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan-Perpustakaan Nasional RI, Drs Deni Kurniadi MHum. Sedangkan Angie Ang, presenter salah satu TV swasta di Indonesia selaku moderator diskusi. Webinar diikuti ribuan peserta yang berasal dari unsur Dinas Perpustakaan Provinsi, Kabupaten/Kota, pustakawan, pengelola perpustakaan, dan pegiat literasi di Indonesia. (Mufti)

 


share on: