Ngabuburit di Ngasem Kidul Playen, Inilah yang Unik

share on:
Perempuan tua dusun Ngasem Selatan Plembutan Playen Gunung Kidul tengah

DI RUMAH tua model limas yang pernah menjadi markas para pejuang saat Agresi Militer II Belanda 1948, puluhan ibu-ibu berkumpul. Mereka menyiapkan makanan yang akan dijadikan menu buka puasa. Yang unik, mereka masih menjalankan tradisi adang dan biasanya dikerjakan oleh para perempuan yang sudah tua. Dipanggang api tungku memang tak semua perempuan, apalagi yang muda, bisa tahan.

Tradisi adang adalah menanak nasi dengan menggunakan dandang yakni periuk besar yang terbuat dari tembaga. Cara menanaknya menggunakan tungku berbahan bakar kayu dan harus dikaru dengan benar.

Konon, nasi yang ditanak akan lebih sedap dibandingkan jika menggunakan kompor gas. Seorang perempuan tua dengan tekun menanak nasi menggunakan dua dandang pada sebuah tungku. Sedangkan para perempuan lain menyiapkan racikan sayuran dan lauk. Menu khas yang mereka siapkan adalah sayur lombok ijo.

Tradisi menanak nasi dengan dandang ini semakin langka, apalagi dengan semakin massifnya penggunaan rice cooker. Namun, di Dusun Ngasem Selatan, Plembutan, Playen, Gunung Kidul, tradisi itu masih terjaga. “Mereka menanak nasi dengan dandang karena banyaknya jamaah yang berbuka puasa di masjid. Kami iuran, ada yang uang, ada pula yang bahan makanan secara sukarela,” kata Supriyati selaku koordinator kelompok, Minggu (17/4/2022).

Satu kelompok terdiri atas 18 ibu-ibu yang bertugas menyiapkan menu buka puasa di masjid. Dalam pantauan yogyapos.com para ibu itu telah berkumpul sejak pukul 09.00 WIB. “Nanti semua warga datang di masjid untuk berbuka dan makan bersama. Dari situlah kami bisa menjaga kerukunan diantara warga,” tandas perempuan tengah baya ini.

Menurut Kepala Dukuh Ngasem Selatan, Iswarsono, keberadan tradisi adang ini memang telah berlangsung turun-temurun. Hanya saja, imbuhnya, untuk buka puasa di masjid diserahkan kepada masing-masing kelompok. “Hanya saja mereka memang tak bisa meninggalkan tradisi adang dengan menggunakan dandang itu,” jelasnya.

Setelah nasi lengkap dengan sayur dan lauk selesai dimasak, sorenya dibawa ke masjid oleh kelompok yang dapat giliran. Mereka bergerak bersama dari rumah tua limasan dengan tak lupa membawa perlengkapan salat. Setelah didahului dengan pengajian, seluruh warga menikmati menu buka puasa dengan penuh kebahagiaan.  (Wahjudi Djaja)

 


share on: