Pandemi Berdampak pada Olah Raga, Hiburan dan Prestasi

share on:
Dosen, termasuk Rektor UWM Yogya tetap giat olah raga demi kesehatan dan prestasi || YP-Ilutrasi Mkb

Yogyapos.com (YOGYA) - Dua tahun pandemi Covid-19 berdampak serius pada olah raga hiburan dan prestasi akibat berbagai fasilitas publik dan sarana olah raga ditutup dengan alasan mengantisipasi terjadi kluster penderita corona.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta Dr Joko Sulistyono MPd menyatakan berbagai kegiatan olah raga massal tertunda dengan alasan kerumunan massa membahayakan kesehatan para olah ragawan dan  masyarakat pada umumnya. Akibatnya prestasi olah raga prestasi  jeblok alias menurun drastis, sedang olah raga hiburan yang melibatkan massa sempat dibatasi kegiatannya layaknya mati suri.

Pendapat tersebut disampaikan dalam Webinar Refleksi Dua Tahun Pandemi Dalam Perspektif Ketahanan Pangan dan Kebugaran Jasmani, yang diselenggarakan oleh Universitas Widya Mataram (UWM) dan Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, Selasa (29/3/2022). Dua pembicara lainnya dalam webinar tersebut Rektor UWM Prof Dr Edy Suandi Hamid yang menyampaikan refleksi soal pandemi dalam perspektif ekonomi (ketahanan pangan) dan Wakil Rektor III UWM Puji Qomariyah SSos MSi.

Kepala SDM Deputi V Kementerian Pemuda dan Olahraga (2008-2009) dan Asdep Iptek Olahraga Deputi IV Kemenpora (2014-2016) itu menjelaskan, olah raga hiburan atau dikenal dengan even-even berbasis Sport Tourism seperti jalan sehat bersama, senam bersama, dan sejenisnya tidak bisa berjalan ketika melibatkan banyak orang.

Begitu juga olah raga prestasi yang bersifat kelompok maupun perorangan, tidak bisa dilaksanakan. Sejumlah olah raga profesional yang berhenti total pada 2020 sampai pertengahan 2021 semacam Liga Sepakbola, Indonesian Basket Ball League (IBL), ProLiga Voli dan event lainnya.

“Ketika olah raga massal itu berhenti maka dampak ekonominya serius, permintaan apparel serta sport industry (barang & jasa) dan penunjang lainnya menjadi terhenti,” kata dia.

Yang bisa dilihat dampak bagi olahragawan dari segi kebugaran dan prestasi menurun serius. Para pelatih memerintahkan para atletnya latihan mandiri di rumah, faktanya latihan dilakukan tetapi hasilnya tidak efektif.

“Banyak atlet latihan mandiri (saat stay at home) sehingga interaksi sosial baik di Pelatnas maupun di Sentra-sentra pembinaan menjadi tidak optimal. Demikian pula aktifitas olahraga masyarakat di ruang-ruang public menjadi terhenti. Saya perhatian banyak atlet profesional menurun prestasi mereka,” pungkasnya.  (Mkb)


share on: