Pemandian Pancuran Sempor, Destinasi Wisata Spiritual Sleman Kian Menggeliat

share on:
Gerbang Pemandian Pancuran Sempor, di Padukuhan Beteng, Kalurahan, Tridadi Kapanewon, Sleman, Kabupaten Sleman || YP-Agung Dwi Purwanto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Wilayah Kabupaten Sleman memiliki beragam destinasi wisata. Selain wisata budaya, kuliner, wisata alam dan buatan, ada juga beragam potensi wisata spiritualnya. 

Salah satu wisata spiritual itu yang popular adalah Turgo. Namun kini ada pula wisata spiritual yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat luas namun kian menggeliat, yakni Pemandian Pancuran Sempor, yang terletak di Padukuhan Beteng, Kalurahan, Tridadi Kapanewon, Sleman, Kabupaten Sleman.

Kawasan wisata ini diinisiasi oleh warga dan pemangku kebijakan setempat. Pada hari tertentu sering dikunjungi oleh masyarakat dari dalam dan luar DIY. Mereka menggelar doa dan ritual dengan beragam tujuan.

Dukuh Beteng Tridadi Sleman Joko Triyono || YP-agung Dwi Purwanto

Di Pemandian Pancuran Sempor ini pengunjung juga disediakan tempat khusus yang biasa digunakan untuk tempat beribadah dan tidur. Sejak beberapa waktu terakhir ini, Kawasan wisata spiritual ini dioptimalkan penataannya oleh masyarakat Padukuhan Beteng dan sekitarnya.

Dukuh Beteng Tridadi Sleman Joko Triyono mengungkapkan, untuk mendukung potensi wisata spiritual Pemandian Pancuran Sempor tersebut akan menawarkan ikon lain.

Kawasan yang tenang, kian bersolek siap menerima pengunjung || YP-Agung Dwi Purwanto 

“Optimalisasi kawasan ini berupa cagar budaya bangunan Gudang Mesiu, Cemburan Jaran, Dua Lumpang serta saluran Selokan lebar 50 Cm mengitari dinding luar beteng sejau uh 25 m,” ujarnya kepada yogyapos.com, Rabu (23/10/2024).

Joko mengatakan, berdasar pada prasasti perbaikan irigasi semasa perang Legorok sebagaimana tercatat dalam Babad Diponegoro yang dipimpin oleh Kiai Nuhammad Arafah yang kemudian diberi gelar Seconegorodan Mulyosentiko yang kemudian diberi gelar Raden Tumenggung Kertonegoro. Semua itu dapat disimak, di bagian pemaparan tragedi penyergapan perang Pisangan pada 23 Juli 1825.                         

“Jadi, secara historis kawasan ini memiliki kisah. Nantinya di Kawasan ini juga akan dikembangkan potensi kuliner lokal. Kami akan membangun kios UMKM, posisinya berada di dekat (bagian dalam) pintu masuk sebelum tempat Pemandian Pancuran,” jelasnya.

Sarasehan mengulik sejarah Perang Pisangan Tahun 1825 || YP-Agung Dwi Purwanto

Dalam realisasinya nanti akan melibatkan pihak ketiga. Tentunya minta dukungan pemeritah atau instansi tetkait, dalam hal ini Dinas Pariwisa Sleman,” tukas Joko Triyono usai sarasehan sejarah Perang Pisangan tahun 1825 yang berlangsung akhir pekan lalu, di halaman pakir Pemandian Pancuran Sempur.

Joko optimis, kawasan wisata ini bakal diminati para wisatawan, serta menjadi bagian dari wisata sejarah yang cukup penting dikenali oleh Masyarakat. (Agn)

 

Dukuh Beteng Joko Triyono (Blangkon) || YP-Agung DP

Gapura masuk Wisata Spiritual Pancuran Sempor || YP-Agung DP

Pintu Gerbong Pemandian Pancuran Sempor || YP-agung DP


share on: