Pemanfaatan Limbah Pertanian untuk Budidaya Ikan Nila

share on:

Yogyapos.com (SLEMAN) - Nila adalah jenis ikan air tawar yang sangat populer dan memiliki permintaan yang stabil di pasar Budidaya ikan nila memiliki beberapa keuntungan sebagai sumber penghasilan, di antaranya permintaan pasar yang tinggi.. Hal ini membuat budidaya ikan nila sebagai sumber penghasilan sangat menjanjikan.

Demikian disampaikan Dosen Program Studi (Prodi) Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) di Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram (UWM) Samsul Bakri SE MM kepada yogyapos.com, Selasa (14/3/2023).

Menururnya, ikan nila juga memiliki pertumbuhan yang cepat, sehingga dapat dipanen dalam waktu yang relatif singkat. Dalam waktu 6-8 bulan, ikan nila dapat mencapai ukuran panen yang ideal. Ikan nila juga mudah dipelihara, tidak memerlukan perawatan yang rumit.

“Ikan nila juga dapat hidup dalam berbagai kondisi lingkungan air, sehingga dapat dibudidayakan di berbagai daerah,” tandasnya.

Samsul mengungkapkan bahwa ada beberapa masalah yang sering dihadapi dalam budidaya ikan nila. Pertama, harga pelet dan konsentrat untuk pakan ikan nila semakin meningkat. Kedua, belum adanya mesin pelet untuk membuat pakan tambahan untuk ikan nila. Ketiga, alat-alat yang digunakan untuk mengolah pakan tambahan dari limbah pertanian masih bersifat manual. Karena alasan-alasan tersebut, pembuatan pakan memakan waktu yang lama, kapasitasnya terbatas sehingga kualitas pakan rendah, dan ini menghambat pertumbuhan ikan nila.

“Oleh karena itu, teknik fermentasi diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan limbah dalam rangka pemanfaatannya untuk pakan ikan nila,” ungkapnya.

Limbah pertanian yang dapat digunakan dalam pembuatan pakan tambahan antara lain adalah tongkol jagung. Tongkol jagung dapat digunakan sebagai bahan konsentrat pada pakan ternak, yangpemanfaatannya sebagai bahan pakan tambahan, perlu ditingkatkan kualitasnya dengan teknologi pengolahanamoniasi fermentasi.

Bahan lain yang dapat digunakan adalah ampas tahu, yang merupakan limbah dari industri pengolahan tahu yang memiliki protein yang terdapat tiap 100gram ampas tahu sebesar 26,6 %, lemak 18,3 % dan karbohidrat 41,3%. Ampas tahu memiliki kandungan gizi yang baik untuk pakan ternak. Ampas tahu mengandung protein 8,6 %, lemak 3,79 %, air 51,63 %.

Selain itu, limbah kulit ari kedelai dapat juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Setiap 50 kg kedelai dihasilkan ±7,5 kg kulit ari. Kulit ari kacang kedelai dapat digunakan sebagai pakan pengganti seluruh atau sebagian konsentrat untuk memacu pertumbuhan. Zat gizi yang terkandung pada kulit ari kedelai yaitu: bahan kering 14,26 %, protein kasar 13,27 %, serat kasar 51,89 %, lemak kasar 1,27 %, abu 2,34 %.

“Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ikan merupakan suatu langkah positif dalam upaya memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ikan nila,” pungkasnya. (Bhenu)

 

 


share on: