Yogyapos.com (BANTUL) - Ada hal yang berbeda dari Rumah Pilah Sampah Goasari Bantul, yakni adanya penangkaran lalat hitam atau BSF (Black Soldier Fly). Lalat hitam ini sengaja ditangkarkan untuk membantu proses penguraian sampah organik agar lebih cepat menjadi kompos.
Ditangan Bayu Imam Toko inilah Lalat hitam berhasil ditangkarkan dan ditangannya juga pengolahan sampah di rumah pilah sampah Goasari ini menjadi lebih ramah lingkungan.
Bayu yang juga ditunjuk oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul sebagai pendamping untuk pegelolaan sampah di rumah pilah sampah Desa Goasari, Bantul ini menuturkan, untuk dirumah pilah sampah Goasari ini setiap harinya menerima kurang lebih sekitar 300 KK dengan jumlah sampah yang masuk sekitar 300 sampai 500 kilo setiap harinya.
“Untuk rumah pilah sampah Goasari ini kami menerima sampah kurang lebih dari 300 kk penduduk desa Goasari.Adapun untuk sampah yang masuk ke sini ada sekitar 300 sampai 500 kilogram perharinya,” tuturnya saat ditemui dilokasi rumah pilah sampah desa Goasari, Bantul.
Dibantu dengan beberapa warga sekitar, Bayu memilah secara manual sampah yang masuk menjadi dua, yakni sampah non organik dan sampah organik.Untuk sampah non organik seperti plastik pun juga dipisahkan tergantung jenisnya untuk dipisahkan dengan sampah yang mempunyai nilai jual yang tinggi.
“Untuk setiap sampah yang masuk kesini, langsung kami pilah dan kami pisahkan antara yang organik dan non organik. Adapun untuk yang organik, langsung kami masukkan ke bagian margot untuk mengurangi baunya, sedangkan untuk non organik seperti plastik juga kami bedakan dengan yang punya nilai jual tinggi,” jelasnya.
Bayu menambahkan, untuk sampah khususnya yang organik inilah yang langsung diurai dengan memanfaatkan lalat hitam tadi, atau magot nama lainya. Sampah organik menjadi makanan buat magot selama 12 hari dan stlh itu akan menjadi kompos. Disamping menghasilkan kompos, magot ini juga sangat bagus untuk pakan ternak seperti ayam ataupun ikan.
“Untuk sampah organik ini, kami pisah untuk jadi makanan buat magot dan selama 12 hari kemudian sampah organik ini akan menghasilkan kompos.Hasil lain nya selain kompos, kami juga menghasilkan magot itu sendiri yang sangat bagus untuk pakan ternak, seperti ayam atau pun ikan,” imbuhnya.
Magot ini sendiri berasal dari lalat hitam atau BSF (Black Soldier Fly). Lalat hitam ini akan mendekati sampah organik dan kemudian akan bertelur disampah organik tersebut. Kemudian dari telur tersebut akan berkembang biak menjadi larva dan menjadi magot.
Bayu Imam Toko berharap, pengolahan sampah organik dengan magot ini bisa menjadi lebih cepat dan tidak memakan banyak tempat. Karena hampir 60% sampai 70 %sampah didominasi oleh sampah organik.
Untuk saat ini support dari pemerintah daerah khususnya Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul untuk TPS Goasari ini, yakni fasilitas berupa peralatan pengolahan sampah, bangunan atau rumah pilah sampah, juga kadang ada kunjungan yang tujuanya untuk memberikan edukasi untuk pengelolaan sampah di TPS Goasari.
“Untuk saat ini kendala kami dipengolahan sampah organik. Mengingat hampir 60 sampai 70%sendiri sampah kita yakni sampah organik,jadi melalui magot ini harapanya pengolahan sampah organik ini akan menjadi lebih cepat dan tidak terlalu banyak makan tempat. Kami juga saat ini ada support dari pemerintah daerah dalam hal ini melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul yakni fasilitas peralatan pengolahan sampah,bangunan rumah pilah sampah ,juga kami ada kunjungan dan pantauan dari dinas,juga edukasi terkait pengelolaan sampah di goasari,” pungkasnya. (Arifin)
