Saparan Ki Ageng Wonolelo, Masyarakat Berebut 1,5 Ton Apem

share on:
Suasana merriah masyarakat berebut gunungan apem Saparan ke-59 Ki Ageng Wonolelo, di Wedomartani, Jumat (24/7/2026)

Yogyapos.com (SLEMAN ) - Upacara Adat Saparan ke-59 Ki Ageng Wonolelo kembali digelar secara khitmad sekaligus meriah pada Jumat (24/7/2026) sore. Kegiatan yang rutin diadakan tiap tahun oleh warga masyarakat Kalurahan Widodomartani ini turut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Sleman.

BACA JUGA: Pria 54 Tahun Ditemukan Tewas Terapung di Kolam Ikan, Punya Riwayat Epilepsi

Upacara adat ini diadakan guna mengenang serta mendoakan sosok Ki Ageng Wonolelo yang memiliki jasa yang sangat besar bagi pembangunan spiritual maupun sosial masyarakat setempat. Tradisi tahunan ini juga merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan berkah, rezeki, dan keselamatan.

BACA JUGA: Integritas dan Meritokrasi Jadi Fondasi Budaya Baru Kementerian Haji dan Umrah

Dalam sambutannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya mengaku bangga serta mengapresiasi kegiatan tradisi ini. Menurutnya kegiatan yang berlangsung di Kalurahan Widodomartani ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya adiluhung peninggalan para leluhur. 

Bupati Harda dan istri diarak diatas kereta || YP-Ist

"Tradisi Saparan Wonolelo ini menjadi sarana kita untuk selalu ingat akan asal-usul dan sejarah, sekaligus mempererat tali silaturahmi serta memperkokoh semangat gotong royong antarwarga," ujar Bupati Sleman.

BACA JUGA: Indonesia-Turki Sepakati Joint Action Plan: Wujudkan Pasar Kerja Inklusif

Salah satu prosesi yang paling dinanti dalam rangkaian acara ini adalah tradisi rebutan apem. Adapun kue apem yang disebar dan diperebutkan oleh warga yang hadir kurang lebih seberat 1,5 ton.

BACA JUGA: Silaturahmi dengan Sri Sultan HB X, Menteri LH Jumhur: Kita Harus Mengayomi Lingkungan

Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, Kawit Sudiyono, menerangkan bahwa Kue apem memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Kata 'apem' diserap dari bahasa Arab 'afwun', yang berarti memohon ampunan kepada Allah SWT.

"Tradisi sebar dan rebutan apem merupakan lambang agar kita senantiasa bersikap rendah hati (andhap asor). Menebar apem juga melambangkan penyebaran harapan, rasa kasih sayang, kerukunan, serta persaudaraan di tengah masyarakat," tambahnya.

BACA JUGA: Kolaborasi Universitas Amikom dan Kalurahan Condongcatur Perkuat Kompetensi Pendidik PAU

Selain menyebar kue apem, pada kegiatan upacara adat ini juga diadakan Prosesi Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo, dan pembacaan doa tahlil serta ziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo. (Agn)


share on: