Peneliti UWM dan UMY: Wonosobo Potensial Menjadi Sentra Industri Jamur Terbesar di Indonesia

share on:
Tim peneliti UWM dan UMY || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Limbah atau serbuk gergaji memiliki potensi pemanfaatan yang signifikan dalam berbagai sektor. Indonesia menghasilkan sekitar 2,4 juta ton serbuk gergaji per tahun. Sebagian besar dari limbah ini berasal dari industri pengolahan kayu yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Pemanfaatan serbuk gergaji bias sebagai bahan bakar bio massa untuk pembangkit listrik, bahan baku untuk pembuatan papan partikel dan MDF (medium-density fiberboard), pembuatan kompos dan media tanam. Potensi ini mendukung upaya pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan dan meningkatkan nilai ekonomi

BACA JUGA: Polairud Polri-KKP Gagalkan Penyelundupan Lobster Senilai Rp 19 Miliar

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berkolaborasi dengan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta mengadakan Pengabdian Masyarakat Skema PKM Teknologi Tepat Guna di Desa Karangsari Wonosobo Kegiatan mengusung tema “Teknologi Pemanfaatan Limbah Gergaji Kayu dalam Pengembangan Jamur Tiramdi Desa Karangsari, Sapuran, Wonosobo, Jawa Tengah”, dengan pemanfatan serbuk gergaji sebagai media tanam untuk budidaya jamur. Hal ini didukung oleh kondisi Wonosobo memiliki kelembaban udara yang efektif untuk budidaya jamur dengan rata-rata suhu harian 27º–29ºC dan kelembaban berkisar 70–80%, sehingga sesuai untuk pertumbuhan jamur tiram.

BACA JUGA: HUT ke-7 Bahana 703 Yogyakarta, Sepuluh Tim akan Berlaga di Turnamen Voli SMA-SMK

Ditengah sosialisasi yang dilakukan di Balai Desa Karangsari pada Sabtu pekan lalu, Ketua PPM dari UMY Aris Slamet Widodo menyampaikan bahwa pengabdian ini adalah mengenalkan dan menginisiasi budidaya jamur tiram kepada masyarakat Desa Karangsari sekaligus pendampingan usaha Badan Usaha Milik Desa Mutiara Karangsari dalam pembuatan Baglog dan pemasaran komoditas jamur tiram. Pengabdian ini akan berlangsung selama 3 bulan, sejak Mei hingga Juli tahun 2024.

Puji Qomariyah wakil dari Universitas Widya Mataram yang sebagai dosen Sosiologi Lingkungan mengatakan bahwa dengan memanfaatkan limbah gergaji, kita dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi dari bahan yang biasanya dianggap sebagai limbah.

BACA JUGA: Hari Ini Puluhan Jurnalis DIY Siap Ikuti Turnamen Biliar Piala Danang Maharsa

Aris Slamet Widodo yang juga dosen Agribisnis menambahkan bahwa pemanfaatan limbah serbuk gergaji di Indonesia bervariasi, tetapi salah satu penggunaan terbesar adalah sebagai media tanam (baglog) terutama untuk budidaya jamur.

Terjun langsung di lokasi penelitian || YP-Ist

“Di Jawa Tengah, misalnya, inovasi pemanfaatan limbah serbuk gergaji sebagai media tanam jamur cukup signifikan. Selain itu media ini ramah lingkungan karena berbahan dasar limbah serbuk gergaji kayu. Dan prosesnya menjadi media tanam setelah melalui beberapa tahapan, kayu yang dimafaatkan adalah jenis kayu yang tidak mengandung kadar getah tinggi seperti sengon dan albasia,” jelasnya, Sabtu (18/5/2024).

BACA JUGA: Kapolda Irjen Suwondo Nainggolan: Tindak Tegas Pengedar Narkoba!

Secara umum, data di Jawa Tengah menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah serbuk gergaji banyak diarahkan untuk sektor agrikultur, terutama sebagai media tanam yang hemat biaya dan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan tren pemanfaatan limbah serupa di Indonesia secara keseluruhan, di mana selain untuk media tanam, limbah serbuk gergaji juga digunakan untuk pembuatan briket, bahan bakar alternatif, dan material komposit untuk konstruksi ringan.

“Pemanfaatan ini tidak hanya membantu mengurangi limbah industri kayu tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat, terutama di daerah yang memiliki banyak industri mebel seperti di Jawa Tengah. Inisiatif ini sejalan dengan upaya keberlanjutan dan pengembangan berkelanjutan yang memperhatikan keseimbangan lingkungan dan ekonomi,” pungkas Puji yang berusaha menganalisis dari perspektif sosiologi. (*)


share on: