Penerbitan Buku 'Pasbuja' Tindak Lanjut Lokakarya Merawat Mitos Air

share on:

Yogyapos.com (SLEMAN) - Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi, Sleman merencanakan penerbitan buku tentang sumber air di Kabupaten Sleman. Penerbitan buku sebagai upaya tindak lanjut dari forum Lokakarya yang telah digelar dengan fasilitasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan X DIY-Jateng, Jumat (16/8) di Pendapa Kopi Kebul, Ndeso, Cilikan, Umbulmartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Konten buku antara lain perihal perawatan, pengelolaan, sejarah, dan pelestarian sumber-sumber air yang terdapat di Kabupaten Sleman oleh masyarakat dan pemerintah.

Budi Sardjono selaku salah satu pengurus Pasbuja yang juga narasumber Lokakarya “Merawat Mitos air: Pelestarian Eksistensi Sungai sebagai Ekosistem Budaya dan Kehidupan” mengatakan, penerbitan buku sebagai tindak lanjut dan output darimateri yang dibahas dan didiskusikan dalam lokakarya.

Selain Budi, tiga narasumber lainnya yang menyampaikan perspektif masing-masing tentang air, sungai, embung, dan semacamnya, yaitu Wedana Suraksa Harga Asihono (jurukunci Gunung Merapi), Julianto Ibrahim, M Hum (Fakultas Ilmu Budaya UGM), dan Nindito Setyono (Komunitas Sungai Sleman).

Juru Kunci Gunung Merapi Wedana Suraksa Harga Asihono mengatakan, sepekan lalu ia mengecek keadaan Umbul Bebeng di Lokasi mendekati puncak Gunung Merapi. Kondisinya baik dengan bentuk seperti sumur yang dibubungkan gorong-gorong. Sumber air di Bebeng itu justru lebih banyak diakses masyarakat di Kabupaten Klaten.

Masyarakat setempat melakukan upacara bersih umbul yang dikenal dengan istilah dandan kali. Kegiatan yang sudah digelar leluhur itu berlangsung digelar becekan (kenduri) dengan menyembelih kambing. Dandan kali dan bencekan merupakan upaya masyarakat di lereng Gunung Merapi dalam mensyukuri kehidupannya.

Menurut Budi Sardjono, hampir semua sungai punya mitos. Semua mitos tentang sungai diciptakan leluhur untuk hal yang positif. Misalnya, menjaga kelestarian agar sungai tetap bersih dan jernih. Sehingga, masyarakat takut kalua ingin berbuat semena-mena terhadap Sungai.

Dosen FIB UGM Julianto Ibrahim menambahkan, dalam sejarahnya, air menjadi sumber kehidupan manusia di bumi. Manusia akan menempati kawasan di tepian sungai dan menciptakan peradaban dari interaksinya dengan sungai dan ekosistemnya.

“Memang dalam sejarah, manusia purba untuk memutuskan tinggal, yang menjadi acuan adanya air,” katanya.

Mitos yang dicptakan masyarakat zaman dulu memang memiliki tujuan. Dalam halitu sejarah tak mampu menjangkau mitos. Dalam konteksnya dengan pelestarian dan perlindungan terhadap sungai, masyarakat zaman dulu cenderung menciptakan mitos untuk melindungi benda yang berisi koterancam kerusakan.

Sementara itu, Nindito Setyono menawarkan perlunya diciptakan mitos baru dengan tujuan sama, yakni untuk perawatan dan pelestarian Sungai. Dengan begitu masyarakat dari kalangan generasi muda dapat menerima hal itu. (R Toto Sugiharto)

 


share on: