Yogyapos.com (SLEMAN) -Sanggar Laras Budaya Terwilen menyelenggrakan pergelaran wayang kulit, di Padukuhan Terwilen Margodadi Kapanewon Seyega, Jumat (27/9/2024) malam.
Acara sebagai wujud nguri-nguri budaya leluhur ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat diantaranya Anggota DPRD Provinsi Sofyan Setyo Darmawan, Anggota DPRD Sleman Ramelan, Lurah Margodadi Djalmo, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan ) Yogyakarta, serta para p rangkat Kalurahan Margodadi.
Pagelaran wayang dengan lakon ‘ Wiratha Parwa’ oleh dalang Ki Dalang Sukaryanto ini terselenggara atas dukungan program Dana Keistimewaan (Danais).

Ki Dalang Sukaryanto
Menurut Ki Sukaryanto, lakon cerita tersebut mengisahkan anak tertua Pandawa Lima yakni Yudistira alias Puntadewa kalah bermain dadu dengan Kurawa. Pandawa harus kehilangan negaranya. Tidak hanya itu, Yudistira harus kehilangan istrinya, Durpadi, karena sebagai taruhan yang paling akhir dalam perjudian tersebut.
Kekalahan ini juga mengakibatkan harta kekayaan kerajaan ludess, bahkan merengggut kebebasan diri dari keempat saudaranya yang dilakukan oleh Kurawa.
Dengan kelicikan Sengkuni, Kurawa berhasil memenangkan taruhan tersebut dan istri Yudistira, Drupadi, jatuh ke tangan Dursasana, yang berusaha melecehkannya Durpadi dengan cara menarik pakaiannya. Namun atas perlindungan para dewa, maka kain yang melekat di tubuh Drupadi yang ditarik Dursasana tidak pernah habis dilucuti.
Pidato sambutan sebelum pergelaran || YP-Agung DP
Akhirnya, Kurawa membuat per janjian dengan Pandawa, bahwa mereka harus diasingkan dan menyamar selama 13 tahun tanpa ditemukan oleh para Kurawa. Selanjutnya Pandawa melepas semua tanda kebesarannya ditemani Drupadi menuju hutan Kamaika, hingga kemudian melakukan penyamarannya menuju negeri Wiratha.
“Jangan mencoba untuk melakukan perjudian, jika anda tidak mau hidup berantakan. Selain itu jangan tergesa-gesa mengambil keputusan dalam suatu persoalan. Itulah salah satu pelajaran yang dapat dipetik diambil kisah cerita pagelaran wayang ini,” jelas Ki Sukaryanto kepada yogyapos.com, sebelum dimulai pementasan. (Agung Dwi Purwanto)
