Penyelenggara Arisan Online KCA Diganjar Hukuman Penjara 2 Tahun

share on:
Korban Arsol KCA Deru Jingga Puspakelana Zahra didampingi Tim Kuasa Hukum Kantor Palugada Law Firm || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (YOGYA) - Terdakwa kasus penipuan arisan online Kim Central Asia (Arisol KCA), Novita Wahyuningsih divonis 2 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sleman, Kamis (19/5/2022) siang. Vonis yang disampaikan majelis hakim diketuai Sagum Bunga Mayasaputri Antara SH ini lebih ringan 6 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Yunik Widayatmi SH.

"Vonis nomor perkara 86/Pid. B/2022/PN Smn sudah dibacakan majelis hakim. Terdakwa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 378 KUHP dan divonis dua tahun penjara,” kata Kahumas PN Sleman, Cahyono SH menjawab konfirmasi yogyapos.com, pasca pembacaan putusan oleh majelis hakim.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Sleman, Andika Romadona SH mengatakan bahwa JPU belum menentukan sikap untuk banding ataupun menerima putusan dan menunggu arahan dari pimpinan.

"Dengan putusan pidana penjara selama dua tahun potong masa penahanan atas perkara penipuan dengan terdakwa Novita Wahyuningsih, kami akan lapor dulu ke pimpinan,” kata Andika.

Sedangkan salah satu korban Arsol KCA, Deru Jingga Puspakelana Zahra menyatakan apresiasi kepada seluruh jajaran penegak hukum yang telah memperjuangkan hak dan keadilan korban arisan online sehingga perkara diproses secara hukum dengan vonis 2 tahun penjara bagi terdakwa.

“Kami selaku korban arisan online KCA mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada jajaran Kepolisian, Kejaksaan dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sleman serta penasehat hukum kami dari Kantor Palugada Law Firm yang telah membantu memperjuangkan hak-hak keadilan kami untuk memproses permasalahan yang kami  alami sehingga majelis hakim telah memvonis terdakwa selama dua tahun penjara,” ungkap Jingga kepada wartawan, Jumat (20/5/2022).

Dirinya berharap, perkara serupa tidak terulang  dan menjadi pelajaran baginsemua pihak kembali khususnya untuk KIM agar berbuat baik setelah nanti menjalani masa tahanan.

“Kedepan kami didampingi penasehat hukum sedang mempersiapkan untuk memperjuangkan hak dari segi kerugian materi yang kami alami,” ujarnya.

Senada disampaikan Tim Penasehat Hukum dari Kantor Palugada Law Firm yang terdiri dari Aziz Nuzula Hafid SH, Bramantya Puja Kesuma SH, Mangasi Pardomuan Sianturi SH, bahwa pada umumnya arisan online bermasalah merupakan bentuk kejahatan yang sudah tersistem secara sistematis dan terstruktur. Itu semua tentu ada hukumnya.

Pihaknya menyarankan kepada masyarakat korban arisan online yang bermasalah segera melaporkan kerugian yang dialami agar pelaku atau owner arisan online dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Kedepannya dari putusan ini kami sedang menyusun draft perdata agar para korban mendapatkan haknya kembali serta kerugian 

yang ditanggung bisa kembali,” tandas Aziz.

Menanggapi vonis majelis hakim, Novita Wahyuningsih melalui kuasa Hukumnya, Budi Wijaya Hamdi SH menyatakan akan melayangkan memori banding ke Pengadilan Tinggi Yogyakarta.

"Insya Allah kami ajukan banding ke Pengadilan Tinggi,” kata Budi, singkat.

Kasus penipuan yang menyeret terdakwa Novita Wahyuningsih, karena terdakwa merupakan penyelenggara arisan online KCA dengan sistem tanpa tatap muka melalui grup pada aplikasi WhatsApp atau WAG (WA Grup) yang dilakukan pada tahun 2020 hingga 2021. Lalu terjadi permasalahan.

Sedangkan kerugian para korban yang melaporkan pada perkara ini mencapai Rp 450 juta. Salah satu korban atau pelapor yakni Deru Jingga Puspakelana Zahra menderita kerugian hingga Rp 150 juta. Selain itu terdapat dua korban  lain yaitu Heni Ekawati dan  Nabila Nurul Ulfa, masing-masing kehilangan senilai Rp 150 juta.

Dalam dakwaan, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yunik Widayatmi SH, Novita didakwa dengan dua Pasal, yakni 378 KUHP dan 372 KUHP. (Opo)

 

 


share on: