Yogyapos.com (YOGYA) - Setelah vakum selama 2 tahun, Festival makanan dan jajanan khas tempo doeloe bertajuk Pasar Kangen Jogja (PKJ) kembali digelar pada 18-27 Agustus 2022 di Taman Budaya Yogyakarta. Mengusung tema ‘Kumandange Pasar - Ora Cucul Ora Ngebul’.
Selama event PKJ 2022 ini terselenggara, para pengunjung akan dibawa ke masa tempo dulu bahkan masyarakat dapat bernostalgia di acara festival ini. Pengunjung akan dapat merasakan nilai-nilai kearifan lokal seperti bertegur sapa sehingga para pengunjung dapat merasakan transaksi jual beli seperti di pasar tradisional.
Penggagas Pasar Kangen Jogja Ong Hari Wahyu menjelaskan, tema yang diusung oleh panitia kali ini untuk mengingatkan pada masyarakat bahwa pasar bukan sekedar tempat transaksi, tetapi sekaligus sebagai pusat dari kegiatan kebudayaan. Pada masa pandemi, budaya pasar ini nyaris hilang karena kegiatan jual beli beralih di dunia maya, sehingga ciri khas pasar yang sesungguhnya nyaris tak ada.
“Pasar itu bukan sekedar jual beli. Ditempat itu terdapat kegiatan budaya yang tak bisa tergantikan di dunia online. Misalnya, soal tawar menawar. Atau yang jual makanan ya kadang pakai acara ngicipi. Itu tak ada di pasar online. Karena itu, tema Kumandangane Pasar ini mencoba mengembalikan lagi budaya pasar, yang selama pandemi hilang,” ujar Ong kepada para awak media yang hadir dalam acara Konferensi Pers Pasar Kangen Jogja 2022 di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (16/8/2022 ).
Ditambahkan Ong, Kumandhange Pasar dalam PKJ 2022 lebih dimaksudkan sebagai upaya mempertahankan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, ketahanan pangan melalui revitalisasi-rcaktualisasi pangan mengenalkan, memproduksi, mengkonsumsi berbagai jenis pangan yang pernah ada dan dimiliki bangsa ini.

Spirit dan relasi dari kegiatan ini tidak hanya dialami oleh antar para pedangang, namun kegiatan ini mempertemukan pedagang dengan pembeli sehingga acara ini tidak hanya sebatas transaksi ekonomi namun terjalin relasi kemanusiaan yang intim. Sementara itu, tagline ‘Ora Cucul Ora Ngebul’ merupakan semangat baru pasca pandemik dalam kehidupan, yang tidak bekerja maka tidak akan mendapatkan apa-apa.
Pasar Kangen merupakan juga ajang kreativitas dan produktivitas dalam pengolahan pangan berbasis nilai-nilai lokal dan bahan-bahan pangan local. Pasar Kangen bukan berarti berhenti dalam hal kelawasannya saja namun juga mempunyai niatan untuk bisa bersanding dan menghadapi perkembangan jaman kedepan tanpa menghilangkan Jati Diri Budaya Bangsa.
Melihat perkembangan jaman yang serba cepat banayak budaya-budaya dari luar yang masuk dan mulai menggeser kebudayaan kita atau bahkan menghilangkan kebudayaan yang pernah kita miliki. Serangan itu begitu kuat sampai pada ruas-ruas dan cita rasa lidah kita dalam hal kuliner sehingga mempengaruhi selera cita rasa kita. Sekarang banyak bermunculan makanan-makanan, jajanan dari luar dijajakan dan dikonsumsi masyarakat kita. Dalam hal ini kami harus mewaspadai fenomena tersebut, kerna kuliner adalah salah satu kebudayaan dalam kehidupan berbangsa.
Dalam PKJ 2022 ini para pedagang dibebaskan dari biaya sewa lapak. Sementara untuk operasional kegiatanlainnya disokong dengan Dana Keistimewaan. Oleh karena itu, selain mengusung misi pemberdayaan ekonomi, PKJ 2022 juga mencoba mengusung kesadaran lingkungan. Salah satunya terwujud dengan aturan pelarangan penggunaan alat makan berbahan stereofoam. Untuk masalah ini, Ong menyatakan panitia penyelenggara akan bertindak tegas, jika ternyata ada pedagang yang mencoba untuk tidak mentaati peraturan yang ditetapkan panitia.
“Untuk masalah (penggunaan stereofoam-red) ini kami tegas. Kalau kami mengetahuinya, pilihannya cuma dua. Mau berhenti berjualan atau taat peraturan,” tandas Ong.
Peserta Tahun ini peserta pendaftar berjumlah 1300, yang masuk dalam kurasi atau peserta Pasar kangentahun ini berjumlah 277 peserta, terdiri 170 peserta kuliner, 77 peserta penjual barang-barang lawasan, kerajinan dan komunitas seni yang akan menampilkan aktifitas workshop keseniannya. Selain pameran kuliner dan barang lawasan, setiap harinya juga dimeriahkan berbagai pertunjukan tradisi dari berbagai daerah di Yogyakarta serta performance art dari seniman-seniman Yogyakarta. (Sulistyawan Ds)
