Every day the word 'gift' is used to define talent, ability, and performance. Being gifted has an even deeper meaning, a meaning that isn't always measured in points per game or win/loss records - it's measured by heart, effort, and desire. (Alan Cohen)
KEHADIRAN Anak Berbakat (AB) tidaklah turun dari langit ke bumi, melainkan muncul di muka bumi melalui seorang Isteri (Ibu) yang hidup bersama suami (Bapak) yang saling mencintai, di samping anugerah dari-Nya. Kehadiran AB bisa juga disebabkan oleh rencana yang sungguh2, atau lahir secara tiba-tiba semata-mata dari karunia (gift) dari sang Pencipta. Yang jelas kehadiran AB bersifat kontekstual.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-forpi-yogya-kawal-pelaksanaan-perwal-motor-listrik-9382
Menurut Aliran Nativisme, yang ahlinya bernama Schopenhauer, seorang filosof Jerman (1788-1880) berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir. Pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasiI perkembangannya. Menurut kaum nativisme bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-market-tumbuh-pesat-phi-home-bersiap-lebarkan-sayap-9381
Berdasarkan atas aliran Nativisme bahwa kelahiran AB merupakan keturunan dari orangtua, baik dari gen Ibu maupun gen Bapak. Kedua orangtuanya memiliki bibit unggul yang dapat diturunkan ke anaknya. Keunggulan orangtua bisa didasarkan oleh status sosialnya yang tinggi, atau bisa didasarkan oleh posisinya sebagai pembawa keberbakatan yang didapat dari kakek dan atau nenek dan seterusnya jalur ke atas.
Menurut Aliran Tabularasa, yang ahlinya bernama John Locke (1632-1704), berasal dari UK, mengemukakan bahwa manusia dilahirkan dengan suatu keadaan dimana tidak ada bawaan yang akan dibangun pada saat lahir. Locke menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita pelajari dalam hidup adalah hasil dari hal-hal yang kita amati dengan menggunakan indera kita. Berdasarkan atas Teori Lock, maka keunggulan AB itu didapatkan dari hasil interaksi secara fisik maupun sosial dengan lingkungannya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-bawaslu-ingatkan-kpu-agar-terbuka-dalam-tahapan-pemilu-2024-9380
Aliran Konvergensi yang ahlinya bernama William Sterm (1871-1938) berasal dari Jerman. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia. Aliran ini memadukan antara pembawaan sejak lahir dengan pengaruh lingkungan yang diistilahkan dengan faktor dasar dan faktor ajar.
Memperhatikan kondisi ini, keberbakatan itu dalam praktek kehidupan bisa muncul dimulai dari saat kelahiran atau masa kecil, yang dijaga dan dibina denfan baik secara terus menerus yang akhirnya pada usia puncak dapat tampil dengan prestasi yang gemilang. Ada juga di saat kecil berpotensi unggul, namun saat pertumbuhan dan perkembangannya terabaikan, karena orangtua sibuk dan tidak mampu mengasuh dan mendidiknya, maka akhirnya bakat itu sirna, terjadi underachiever. Sebaliknya ketika kecil anak itu berpotensi unggul tetapi belum nampak, secara berangsur-angsur anak itu diberikan pembinaan yang sesuai dan intensif, maka akhirnya anak itu bisa aktualisasikan potensinya dengan baik, sehingga bisa unjuk kinerja yang optimal.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-rsps-bantul-peroleh-penghargaan-bintang-5-9365
Karena itulah kehadiran AB tidak bisa dibiarkan secara alamiah saja, melainkan perlu intervensi yang proporsional dari orangtua, pendidik, dan ahlinya. Intervensi berlebihan atau intervensi minimal pada prakteknya tidak menguntungkan bagi kehidupan AB, sebaliknya bisa merugikan bagi keberlangsungan hidup AB. Tidak seorangpun AB mau gagal hidupnya, karena orangtua, pendidik, dan ahli perlu menghadapi AB dengan strategi yang terbaik.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-dua-pembobol-rumah-jaksa-diringkus-di-jakarta-9341
Akhirnya bahwa secara sunnatulah potensi AB bisa hadir di tengah-tengah keluarga dengan status apapun. Karunia keberbakatan diberikan kepada hamba-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Orangtua dan pendidik perlu terus berinisiatif mengenali anak atau anak didiknya. Jika menemukan sejumlah fenomena yang muncul sebagai tanda-tanda keberbakatan, maka dipandang perlu dapat berkonsultasi ke ahlinya untuk bisa membuat tindakan yang terbaik.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-aliansi-aksi-sejuta-buruh-minta-presiden-cabut-perppu-cipta-kerja-9361
Jika sudah bisa ditemukan AB, maka AB sangat perlu difasilitasi untuk bisa berkembang potensinya secara optimal, sehingga AB tetap menjadi berbakat dan berprestasi di saat dewasanya. Usahakan menjadi orangtua dan guru yang terbaik untuk anak dan anak didiknya yang berpotensi AB, sehingga menjadi golongan yang beruntung dan sukses. Aamiin YRA. (Prof Dr H Rochmat Wahab MPd MA adalah mantan Rektor UNY 2009-2017)
