Rachmat Djoko Pradopo, Mahaguru Bersahaja Pencipta Mars Fakultas Sastra itu Berpulang

share on:
Jenazah Prof Rachmat Djoko Pradopo dilepas dari Balairung UGM || YP-Wahjudi Djaja

Rugilah mereka yang berbuat sia-sia

Rugilah mereka yang berkubang

dalam ketakacuhan

Begitu cepatnya waktu

Begitu cepatnya usia

(Pradopo, Demi Waktu)

 

DUNIA sastra kehilangan salah satu tokoh yang tidak saja menjadi rujukan tetapi juga teladan. Sejumlah kolega, Guru Besar, dosen, mahasiswa dan berbagai kalangan sastrawan budayawan terlihat melepas kepergian Guru Besar Emiritus FIB UGM Prof Dr Rachmat Djoko Pradopo (86 tahun) di Balairung UGM.

Almarhum meninggal dunia pada Kamis 1 Juni 2023 pukul 20.17 WIB. Sosok yang lahir di Klaten 3 Nopember 1939 ini meraih Sarjana di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM tahun 1965. Menyelesaikan Program Doktor 1989 dan meraih Guru Besar FIB UGM tahun 2003. 

Meninggalkan seorang istri, Dra Sri Widati dan empat anak yakni Hindria Listyadi, Andria Sonhedi, Nadia Fibria Warastri dan Briandara Yossy serta enam cucu.

Mewakili keluarga, salah satu anaknya Hendria Listyadi mengungkapkan betapa besar cinta almarhum kepada UGM. “Beberapa bulan lalu Bapak berpesan kepada saya. Le, sesuk nek aku ora ona tulung makamno neng Sawitsari, soale kanca-kancaku neng kono kabeh. Itu tanda saking cintanya Bapak pada UGM,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Dewan Guru Besar UGM Prof Dr Ir Mochammad Maksum MSc dalam sambutannya menyampaikan, karya-karya beliau menjadi referensi yang penting di dunia sastra.

“Beliau adalah pencipta Mars Sastra yang sampai hari ini diperdengarkan setiap kali Dies Natalis. Pintu rumahnya selalu terbuka untuk mahasiswa yang memerlukan bimbingan atau ingin belajar menulis puisi,” tandasnya.

Dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar UGM tahun 1994, lanjutnya, beliau menyampaikan pidato berjudul Kritik Ilmiah Sebagai Sarana Pemaknaan Sastra.

“Dalam pidato tersebut beliau menyampaikan bahwa kritik sastra menjembatani kesenjangan antara pembaca dengan karya sastra,” ungkapnya.

Dalam kesaksian Dekan FIB UGM Prof Dr Setiadi SSos MSi, almarhum dikenal sebagai mahaguru yang penuh kesederhanaan. “Teringat saat beliau datang mengajar mengendarai motor Yamaha Bebek Merah. Berhenti sebelum sampai tempat parkir dan menuntunnya. Namun ada hal yang lebih membanggakan dari beliau. Royalti dari beberapa buku yang beliau tulis dikembalikan untuk beberapa kegiatan demi tumbuh kembang puisi dan sastra,” tandasnya.

Salah seorang mahasiswa yang kini menjadi dosen di FIB UGM, Rudi Ekasiswanto, Prof Djoko adalah seorang akademikus yang rendah hati dan total dalam menjalani profesinya.

Prof Rachmat Djoko Pradopo saat launching antologi karya Aprinus Salam || YP-Wahjudi Djaja

“Beliau mendidik dengan hati, memberikan ilmunya ke anak-anak muridnya dengan cara berpikir kritis yang luar biasa, tetapi tetap santun. Bahkan di luar sebagai pendidik sejati beliau mendirikan YASAYO (Yayasan Sastra Yogyakarta) yang memberikan apresiasi bagi sastrawan jogya juga akademisi,” kenangnya kepada yogyapos.com.

Pak Djoko, lanjut Rudi, adalah sosok kebapakan yang penuh keikhlasan tresno ke murid-muridnya setulus ucapan dan tindakannya. “Semoga ilmunya menjadikan ladang pahala yang tak pernah henti. Sugeng tindak Ramanda Mahaguruku,” pungkasnya beriring doa.

Budayawan Aguk Irawan Mn yang hadir bersama para kolega, menyampaikan tak banyak sastrawan, sekaligus aktivis kebudayaan yang menonjol periode 1966 (pendukung Manifesto Kebudayaan), sekaligus akademisi dan guru besar, salah satunya adalah Prof Dr Rachmat Djoko Pradopo. “Saya mengirim berita duka ke beberapa WAG. Anehnya, malah banyak yang tanya dan tidak tahu siapa beliau. Dikiranya keluarga saya. Ini menunjukkan betapa semakin dangkal pemahaman generasi penerus tentang peta kebudayaan,” ungkapanya kepada yogyapos.com, di sela takziyah.

Selain mendedikasikan royalti untuk tumbuh kembang YAYASO, Prof Djoko juga tak sungkan menghadiri acara yang dihelat para yuniornya. Dalam sebuah kesempatan tahun 2016 beliau menghadiri acara launching antologi puisi karya Aprinus Salam yang berjudul Mantra Bumi di destinasi wisata Omah Kecebong. Tidak saja hadir tetapi beliau berkenan membacakan beberapa puisi dalam antologi tersebut. Beberapa tokoh sastra juga pernah menerima penghargaan YASAYO seperti Prof Dr Wiyatmi, Suminto A Sayuti, R. Bambang Nursinggih, Iman Budhi Santosa, Tirto Suwondo, dll.

Setelah disemayamkan di Balairung UGM untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari rekan-rekan dosen, karyawan, mahasiswa dan civitas akademika UGM, jenazah diberangkatkan ke pemakaman UGM Sawit Sari, Jl. Ring Road Utara, Sleman DIY.

Beberapa karyanya antara lain Matahari Pagi di Tanah Air (kumpulan sajak, 1967), Bahasa Puisi Penyair Utama Indonesia Modern (1985), Pengkajian Puisi (1987), Prinsip-Prinsip Kritik Sastra (1988), Hutan Bunga (kumpulan sajak, 1993), Beberapa Teori dan Metode Kritik Sastra (1995), Aubade (kumpulan sajak, 1999), Kritik Sastra Indonesia Modern (2003) dan Mitos Kentut Semar (kumpulan sajak, 2006). (Wahjudi Djaja, alumni FS UGM)

 

 

 

 

 


share on: