Ratri Kartika Sari: Tantangan Terbesar Pengusaha Adalah Berani Ambil Risiko

share on:
Para peserta Workshop Artpreneurship and Sustainable Development Workshop menjalani praktik rancangan usaha || YP-Ist

Yogyapos.com (SURAKARTA) - Ratri Kartika Sari SPd MBA yang memiliki pengalaman belajar menciptakan dan mengelola bisnis seni sejak tahun 2010, menyatakan setiap usaha harus diikuti dengan inovasi, supaya tidak stuck atau ambyar. 

Pernyataan itu disampaikannya selaku pemateri hari kedua Workshop Artpreneurship and Sustainable Development Workshop, di Gedung Sungging Prabangkara FSRD ISI Surakarta, Jumat (18/3/2022).

Workshop kewirausahaan kali ini menitikberatkan materi perencanaan bisnis melalui analisis bisnis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat) dan BMC (Business Model Canvas), sebagai follow up dari diskusi hari pertama. Output workshop hari kedua ini adalah mahasiswa (peserta workshop) mampu menganalisa ide bisnisnya dan menuangkannya menjadi sebuah konsep pemetaan strategi untuk memulai dan mengembangkan serta pemeliharaannya, dengan konsep BMC (Business Model Canvas). 

“Tantangan terbesar pengusaha adalah berani ambil resiko, berani rugi,” tegas Ratri. Namun, lanjut dia,  jika mampu menciptakan lapangan kerja baru, maka memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, studi kelayakan bisnis (riset ide usaha) dipandang penting untuk dilakukan sebelum melangkah. Terkait hal ini, ia memberikan wawasan mengenai produk, marketing (target dan segmentasi), sumber daya manusia, organisasi, dan keuangan. 

Dijelaskannya, aspek-aspek dalam BMC (Business Model Canvas) yang akan peserta pergunakan untuk menganalisis ide bisnis dirumuskan di hari pertama workshop, yang meliputi: customer relationship, customer segments (segmen pasar), channels (saluran), revenue streams (sumber pendapatan), value propositions (proporsi nilai), key partners (relasi kunci), key activities (aktivitas kunci), key resources (kunci sumber daya), dan cost structure (struktur biaya).  

Kelebihan pengusaha muda adalah pada product development, karena mereka punya ide dan skill untuk menciptakan. Namun, kelemahan mereka adalah pada/pemasaran, strategi bagaimana caranya agar target pasar atau konsumen mencintai produk yang mereka ciptakan. tandas Ratri. “Saya berharap dengan analisis bisnis ini, peserta dapat menyusun strategi pemasaran yang lebih baik,” katanya. 

 

Interaktif

Sesi pagi pada hari kedua kegiatan ini berlangsung interaktif, diberi penjelasan aspek BMC. Bahkan peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan contoh sesuai ide bisnis mereka. Selain itu diberikan saran atau masukan terkait aktivitas utama sebagai sumber pendapatan utama dan aktivitas pendukung ketika aktivitas utama sudah berjalan baik, dalam rencana bisnis mereka.

”Kunci utama dalam membangun, mengembangkan, dan memelihara bisnis adalah komitmen dan konsisten,” ujarnya seraya memaparkan studi kasus berupa contoh-contoh riil pengelolaan bisnis, salah satunya detail aktivitas bisnis di Eko Nugroho Art Class. 

Pada sesi siang, Ratri mendampingi peserta menuliskan outline (kerangka) analisis bisnis BMC sesuai ide bisnis kelompok mereka masing-masing, pada kertas poster yang telah disediakan oleh panitia yang ditempel di dinding dalam gedung tempat pelaksanaan workshop.

Dengan begitu, poster tiap-tiap kelompok bisa mendapatkan respons, baik pertanyaan maupun saran, dari pembacanya. Sebagai tindak lanjut, tiap-tiap kelompok akan diberikan waktu beberapa hari oleh panitia, untuk menyelesaikan proposal bisnis mereka dengan melengkapi: profil usaha, visi usaha, misi usaha, keunggulan produk/brand value, kompetitor, peluang pasar, akuisisi pasar, strategi implementasi bisnis, dan rencana keuangan. Dari hasil seleksi review, akan dipilih lima proposal terbaik yang akan mendapatkan reward sebagai modal realisasi usaha yang telah mereka rencanakan. 

Ketua panitia pelaksana workshop, Ipung Kurniawan Yunianto SSn MSn, menyatakan dalam kegiatan yang diinisiasi program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ini nampak semangat dan motivasi peserta mahasiswa khususnya dari FSRD ISI Surakarta untuk lebih menggali potensi diri dalam berwirausaha di bidangnya. Mereka terdiri 63 mahasiswa dari 8 program studi FSRD. (*)


share on: