Yogyapos.com (SLEMAN) - Sinergi antara kalangan akademisi dengan masyarakat bukan hal asing bagi Universitas Gadjah Mada. Dikenal sebagai Kampus Kerakyatan, mahasiswa dan alumninya mengambil peran penting dalam ikut mencarikan solusi atas masalah sosial kemasyarakatan. Masyarakat membutuhkan teman perjuangan melalui aksi terprogram agar beragam potensi yang dimiliki bisa diangkat dan dikelola seiring menguatnya otonomi desa. Dari situ kita berharap, kehidupan warga masyarakat bisa meningkat.
Demikian perbincangan yogyapos.com dengan Wahjudi Djaja selaku Ketua Panitia Reuni Alumni Sejarah UGM di Bulaksumur, Jumat (19/8/2022). Reuni yang rencananya digelar Sabtu, 17 September 2022 di Kompleks Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM ini mengangkat tema ‘Merajut Kenang Merenda Juang’. Harapannya, seluruh alumni dari semua angkatan bisa hadir tidak saja memeriahkan tetapi juga memaknai peran sejarawan ke depan.
Terkait tema lebih jauh disampaikan, kehadiran kembali para alumni di Bulaksumur tentu akan membuka memori dan kenangan. Mereka bisa merajut kenang dengan teman, dosen bahkan tempat kuliah dan beragam momen yang pernah diikuti.
“Tetapi ada tanggung jawab kesejarahan yang tak boleh dilupakan, sejarawan sesungguhnya bisa menjadi nahkoda masyarakat dalam menapaki transformasi. Inilah makna merenda juang,” jelas Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY ini.
Sementara itu, Dr Mutiah Amini MHum dari Departemen Sejarah FIB UGM mendukung rencana reuni alumni Sejarah UGM. Selain bisa merekatkan kembali persaudaraan dan kekeluargaan, diharapkan alumni bisa bekerjasama dengan Departemen Sejarah dalam menggerakkan pengabdian masyarakat.
“Kita bisa mengoptimalkan pengabdian masyarakat dengan menjalin kerjasama dengan pemerintah desa atau kalurahan seperti laboratorium hidup yang bisa dijadikan tempat pembelajaran bagi mahasiswa terkait Sejarah Keluarga, Sejarah Lingkungan, Sejarah Pedesaan dll,” tandas Kaprodi S1 Sejarah ini.
Menanggapi hal itu, Wahjudi Djaja sangat mendukung sepenuhnya dengan memberikan contoh beberapa desa wisata berbasis sejarah. Salah satu alternatif yang siap diajak kerjasama adalah Kalurahan Pucung, Girisubo, Gunung Kidul. Mereka memiliki geo heritage yang diakui UNESCO yakni Bengawan Solo Purba dengan jejak pelarian Majapahit yang monumental.
“Pemerintah setempat bersama warga tengah mendesain desanya sebagai sebuah destinasi berbasis sejarah kepurbakalaan. Kami rasa ini akan match dengan visi Departemen Sejarah FIB UGM,” ujarnya.
Terkait agenda reuni Alumni Sejarah UGM pada 17 September 2022, disampaikan akan diisi dengan beragam acara mulai temu lintas angkatan, pentas tiap angkatan, serap aspirasi dan rembug kesejarahan, orasi ilmiah singkat serta restrukturisasi pengurus Kasagama. Pendaftaran bisa melalui https://bit.ly/3dp8mR5 dan konfirmasi ke WA 081802754984. (Iud)
