Yogyapos.com (BANTUL) - Sedianya Djaduk Feriyanto bersama Kua Etnika akan tampil dalam perhelatan Ngayogjazz 2019 dilaksanakan pada Sabtu (16/11) di Kwagon Godean Sleman. Dalam gelaran tersebut, seniman kontemporer ini bakal kolaborasi dengan Didi Kempot serta Soimah. Latihan pun sudah dilakukan intens. Sejumlah repertoar juga sudah disiapkan.
Namun takdir berkata lain. Putra bungsu Bagong Kussudiarjo ini telah mendahului kita. Seniman yang aktif bergulat di Teater Gandrik ini meninggal pada Rabu (13/11) dinihari sekitar pukul 02.30, di usia 55 tahun. Mendiang Djaduk meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.
Informasi tentang berpulangnya Djaduk Feriyanto pun menyebar secara luas. Kaget dan terhenyak dirasakan oleh mayoritas panitia Ngayogjazz 2019, yang pada Selasa (12/11) malam masih mengadakan final meeting bersama Djaduk Feriyanto.
Ketua Panitia Ngayogjazz 2019, Aji Wartono ditemui di sela melayat di Padepokan Bagong Kussudiarjo Kasihan Bantul mengatakan, pada Selasa malam, almarhum dan panitia masih berembug menggodog persiapan final Ngayogjazz yang diadakan akhir pecan nanti. “Mas Djaduk begitu bersemangat pada rapat malam tersebut. Tidak nampak gurat kecapekan pada fisiknya. Almarhum juga tidak mengeluh tentang kesehatannya. Namun menjelang Ngayogjazz kali ini, tenaga dan pikiran almarhum nampak sangat terforsir. Sekitar jam 24.00, Mas Djaduk pamit untuk pulang ke rumahnya di Kembaran kasihan Bantul. Tak ada firasat apapun. Dan saya kaget pada subuh jam 04.00 mendapat kabar kalau Mas Djaduk meninggal karena serangan jantung,” ungkap Aji Wartono terbata-bata.
Tidak hanya panitia Ngayogjazz yang kehilangan sosok pendiri musik humor Sinten Remen ini, seluruh masyarakat Yogyakarta dan Indonesia pun berduka hebat. Menurut Aji Wartono, kendati Ngayogjazz kehilangan figure inisiatornya, namun show must go on. Acara harus tetap jalan terus. “Ngayogjazz besok Sabtu akan tetap berlangsung. Ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengapresiasi karya almarhum. Mas Djaduk juga telah menyiapkan kejutan pada hajatan tersebut. Almarhum telah menggodog ide untuk menyiapkan kejutan tersebut. Sedikit bocoran, akan ada space untuk menampilkan karya seni Mas Djaduk, diluar bidang music,” jelas Aji Wartono.
Sementara kakak almarhum, Butet Kertaradjasa membenarkan jika adiknya kena serangan jantung saat berada di rumah. “Sekitar jam 02.30 Djaduk mendapatkan serangan jantung di rumah. Pihak keluarga juga telah memanggil dokter RS JIH untuk memastikan kesehatan Djaduk. Tapi takdir tak boleh dilawan. Dokter yang memeriksa menyatakan jika Djaduk telah meninggal dunia. Keluarga tidak tahu persis pemicu serangan jantung tersebut. Namun akhir-akhir ini, almarhum sangat sibuk wira-wiri untuk ngurusi acara Ngayogjazz di Godean. Djaduk meninggal di pangkuan istrinya. Mohon doakan semoga mendapat tempat yang indah di surga dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Butet dengan raut wajah yang begitu sedih.
Dalam akun media sosialnya, budayawan yang juga teman karib mendiang, Agus Noor, sangat kehilangan sosok Djaduk Ferianto. “Keluarga besar Teater Gandrik berduka. Kehilangan inisiatornya. Sedianya pada tanggal 6 dan 7 Desember Teater Gandrik akan mementaskan lakon ‘Para Pensiunan’ di Surabaya. Dan almarhum didapuk menjadi sutradara dalam pementasan tersebut. Namun skenario semesta berubah. Dan Djaduk benar-benar ‘pensiun’ dari dunianya. Mari kita doakan semua diberi kekuatan,” ungkap Agus Noor.
Ratusan pelayat datang silih berganti di rumah duka di dusun Kembaran Tamantirto Kasihan Bantul. Sekitar pukul 11.00 jenazah mendiang dibawa keluar dari rumah duka untuk disemayamkan di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo. Dan pada jam 15.00, jenazah dibawa ambulans untuk dikebumikan di makam keluarga di Sembungan Kasihan Bantul. (Dol)
