Sholat Idul Adha di Balaikota, Charris Zubair Ajak Kurbankan Kepentingan Egosentris

share on:
Achmad Charris Zubair saat khutbah di Balaikota Yogyakarta || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (YOGYA) - Pengorbanan sebagai inti dari Idul Adha selain mengikuti jejak pengorbanan nabiyullah Ibrahim AS dengan puteranya Ismail AS, juga sesungguhnya membangun kesadaran kita sebagai manusia yang cenderung egosentris bahkan egoistik. 

Demikian disampaikan budayawan Achmad Charris Zubair saat menjadi khatib salat Idul Adha di kompleks Balaikota Yogyakarta, Rabu (28/6/2023). Lebih jauh disampaikan, untuk menempa jiwa ikhlas berbagi kepada sesama manusia, bahkan kalau dirasakan perlu, merelakan apa yang sangat kita cintai untuk kepentingan skala ruang yang lebih luas dan waktu yang lebih panjang.

Penghambaan total, kuantum ikhlas sampai ke titik nol, atas seluruh perintah dan keputusan Allah SWT serta melepaskan egosentris dan egoisme untuk hidup lebih peduli terhadap yang lain, papar Ketua Keluarga Alumni Filsafat UGM ini, adalah inti daripada dien Islam dan juga sebenarnya harus diikuti oleh ajaran moral kemanusiaan secara universal.  

“Dalam tradisi Jawa misalnya ada tahapan moralitas seseorang dalam hubungannya dengan sesama. Mulai dari nanding salira yang masih egosentris, tepa salira yang sudah menghormati yang lain dan akhirnya kemampuan mulat salira hangrasawani kemampuan untuk introspeksi dan mawas diri, mengikhlaskan diri pada titik nol yang pada akhirnya justru akan mengangkat derajat manusia pada kedudukan tak terhingga,” jelasnya.

Apa yang disebut dengan berbagi, baik melalui pengorbanan lahir batin, berbagi apa yang dimilikinya untuk kepentingan yang lebih luas, bersedekah untuk orang lain yang membutuhkan, korban yang kita lakukan di hari Idul Adha kali ini, bukan bermakna kehilangan.

“Sebab hukum alam yang juga merupakan rahasia keadilan Allah, apabila kita ikhlas semata mata karena Allah. Ketika titik ikhlas itu berada di titik nol, seluruh energi positif secara tak terhingga akan menghampiri kita semua yang ikhlas. Itulah sunatullah, yang sekaligus menunjukkan kemahakayaan Allah. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim dan Ismail ketika ikhlas menerima perintah Allah,” tandasnya.

Ditengah peningkatan eskalasi kepentingan individu, kelompok, dan golongan serta kepentingan politik kekuasaan terkait Pemilu 2024, pesannya, ada baiknya kita meneladani dan bertindak secara konkret untuk ikhlas berbagi, mengorbankan kepentingan egosentris serta kepentingan sempit demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

“Bukan sebaliknya mengorbankan kepentingan bangsa demi kepentingan kepuasan individu atau ego. Jangan sampai mengorbankan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa dengan cara membuat konflik yang memecah belah demi meraih kekuasaan sesaat, apalagi kalau dikemudian hari ternyata tidak amanah dalam memikul beban kepemimpinan,” pungkasnya. (Iud)

 

 


share on: