EPISODE revolusi kemerdekaan menyisakan banyak jejak dan kisah di Yogyakarta. Sejak 1946-1949 Yogyakarta menjadi ibukota negara Indonesia. Bukan hal aneh jika di penjuru Yogyakarta masih bisa ditemukan situs, jejak dan peninggalan sejarah yang memuat beragam kisah. Jika dikelola dengan benar, akan menjadi destinasi wisata yang berkarakter.
Salah satu tempat yang menyimpan kenangan sejarah itu adalah Kapanewon Minggir Kabupaten Sleman. Di dusun Nanggulan Kalurahan Sendangagung terdapat situs berupa rumah tua yang dulu pernah menjadi tempat Akademi Kepolisian selama masa perang kemerdekaan. Dalam catatan sejarah, Sekolah Akademi Kepolisian sejak Indonesia merdeka berdiri di Sukabumi Jawa Barat.
Saat ibukota negara pindah ke Yogyakarta pada 1946, sekolah polisi tersebut ikut pindah dan berada di Mertoyudan Magelang, lalu pindah ke Yogyakarta (susteran jalan Senopati). Ketika Belanda menyerang Yogyakarta dalam Clash II 1948, sekolah polisi pindah ke pedesaan tepatnya di Dusun Nanggulan Kalurahan Sendangagung Kapanewon Minggir, Sleman. Peninggalan sejarah tersebut masih terawat dengan baik sampai saat ini. Situs tersebut menempati area seluas 10.000 m dengan luas bangunan 1000 m.
Tak jauh dari Akademi Kepolisian Nanggulan, juga ada Monumen Sekolah Polisi Negara "Wira Nara" yang terletak di Dusun Kwayuhan Kalurahan Sendangmulyo Kapanewon Minggir. Dahulu para siswa yang lolos dari seleksi di sekolah ini dikirim ke akademi yang berada di Nanggulan. Tiap tahun monumen ini dijadikan salah satu titik simpul long march bagi para taruna kepolisian menuju Polda DIY.
Menurut Oscar Ranyo, generasi ketiga yang menempati rumah bersejarah ini, bangunan induk bergaya campuran Jawa Indie ini dibangun sekitar 1885. "Eyang kami dulu seorang demang. Meskipun sudah ada yang diganti seperti langit-langit dan ubin, tetapi perangkat dan rumah inti tak banyak berubah. Namun karena ini milik pribadi maka pengelolaannya ya, semampu kami,” jelasnya.
Tercatat beberapa tokoh penting pernah mengunjungi tempat ini, seperti Kapolri Jenderal Anton Sujarwo dan segenap jajaran kepolisian Republik Indonesia hingga Kapolsek. Dalam perkembangannya rumah bersejarah ini menjadi tempat pembuatan beragam film, baik layar lebar maupun FTV. Para aktor dan aktris papan atas Indonesia serta beberapa sutradara ternama seperti Slamet Raharjo pernah menjadikan tempat ini sebagai tempat pembuatan film. Beberapa film yang dibuat ditempat ini antara lain Kereta Api Terakhir, Nyai Ahmad Dahlan, dan beberapa film televisi.

Oscar dan tamu di situs bagian samping
Oscar berharap karena ini menjadi jejak bersejarah, pihak-pihak yang terkait bisa ikut terlibat dalam pengelolaan dan perawatan. "Kalau hanya diserahkan kepada kami sekeluarga, ya tergantung kemampuan kami,” tandas pria yang sering dipanggil Sinyo ini.
Di tempat terpisah Lurah Sendangagung R. Heru Prasetya Wibawa SE MIP menyampaikan bahwa potensi yang ada di Nanggulan hanya merupakan bagian kecil dari potensi yang dimiliki Sendangagung. "Potensi yang dimiliki Sendangagung sangat lengkap, baik seni, kerajinan, kebudayaan, sejarah, kuliner, maupun UMKM. Kami sedang berusaha mencari pintu dan jalan agar potensi tersebut bisa dikelola menjadi unggulan pariwisata yang berbasis budaya,” jelasnya.
Sementara itu, Wahjudi Djaja SS MPd, selaku Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) menyambut baik keinginan Lurah Sendangagung tersebut. "Potensi pariwisata Sendangagung sangat lengkap dan unik. Dari aspek kesejarahan saja kita bisa mendesain sebuah destinasi yang berkarakter. Harapannya, destinasi ini nantinya bisa mengangkat pariwisata di Sleman bagian barat yang berbasis pertanian,” simpulnya. (*)
