Yogyapos.com (YOGYA) - Kejutan kreatif tak pernah henti disodorkan pematung Amboro Liring SSn. Sangat liar. Fenomenal. Out of the box. Ada unsur nakal dan komedi, yang sarat pesan. Dan tentunya bakal menjadi objek yang viral.
Ini terjadi dalam helatan Jogjs Sclupture Street Project (JSSP #3), lulusan seni rupa ISI Yogyakarta ini menghadirkan karya patung berjudul ‘Persahabatan’, yang menggambarkan kekariban duo superhero lintas kultur, Spiderman dan Petruk yang dipamerkan di ruang publik, Titik Nol KM dalam rangkaian event JSSP #3. Karya tersebut didisplay 17 November hingga 10 Desember.
Spiderman identik dengan superhero Hollywood. Sedangkan Petruk merupakan salah satu figur Punokawan. Persahabatan lah yang menyatukan mereka berdua, walau dari entitas budaya yang beda. Visual karya yang terbuat dari resin tersebut sangat jenaka. Spiderman dengan kekuatan supernya pun ternyata bisa meriang masuk angin. Melihat temannya sedang dilanda sakit, Petruk lalu berinisiatif ‘mengeroki’ Spiderman. Indahnya persahabatan tanpa memandang perbedaan ras, suku, agama sosial dan budaya.
Ditemui Yogyapos.com, Sabtu (23/11) sore di workshopnya Nitiprayan Kasihan Bantul, Amboro mengatakan jika karya tersebut untuk merespon kondisi sosial masyarakat saat ini. “Penggabungan dua budaya yang berbeda pun akan menjadi sesuatu yang harmonis dalam persahabatan. Setiap daerah ataupun Negara pasti punya kultur yang kuat. Apa salahnya kita menggabungkan dua kutub kultur timur dan barat. Tentunya ada mekanisme filterisasi dan ambil sisi positifnya,” ungkap Amboro yang mengapresiasi support dari pihak terkait terhadap seniman patung.
Lanjut Amboro, karya ‘Persahabatan’ ini adalah seperti sekuel karya sebelumnya yang dipamerkan pada JSSP tahun 2015. Kala itu dirinya menampilkan Spiderman yang tengah makan nasi pincuk. Dan karya tersebut pun viral, menghiasi lini posting media sosial. Lantaran bikin heboh jagat eni rupa, karya tersebut pun akhirnya dibeli oleh kolektor kakap asal Magelang, Oei Hong Djien (OHD).
Pematung yang pernah menggarap proyek monumen bregodo prajurit Kraton ini menambahkan, jika pengerjaan karya Spiderman dan Petruk tersebut membutuhkan waktu 1 bulan, dengan bobot hampir 100kg. Proses pengerjaan berawal dari sketsa gambar, lalu pembuatan maket, modelling, cetak (pengecoran) dan finishing. “Mayoritas patung karya saya beraliran realis dan melahirkan bentuk yang dinamis. Dalam mengkreasi karya, saya juga selalu menyelipkan nilai pesan sosial dan budaya,” tandas Amboro yang bercita-cita menghelat pameran tunggal. (Dol)
