SPS Yogya Persembahkan 'Kumandang Sastra Jawa Sambang Desa' di Sambirejo

share on:
Mustofa W Hasyim || YP/Latief S Nugraha

Yogyapos.com (YOGYA) - Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta bekerjasama dengan Karang Taruna Hargo Puspito mempersembahkan ‘Kumandang: Sastra Jawa Sambang Desa’, pada Rabu, 20 November 2019 pukul 19.00, di Dusun Dawangsari, Sambirejo, Prambanan, Sleman.

Acara ini menampilkan sandiwara basa Jawa “Jumbleng” karya Wage Daksinarga oleh Karang Taruna Hargo Puspito Dawangsari disutradarai Ali Syafaat; dolanan bocah “Ayo Dolanan” karya Annisa Siwi Prastiwi oleh Bocah-Bicah Dawangsari; Dramatic Reading Crita Cekak “Lading” karya Krishna Mihardja oleh Teater HIMA Jawa UNY; Joged Gurit “Loro Blonyo” karya Djaimin K. Oleh Ardhanariwari dan Gandhang.

Ketua Panitia Mustofa W Hasyim mengungkapkan, Sastra Jawa di Yogyakarta memiliki usia yang tua. Sejarah mencatat hadirnya karya sastra Jawa yang memiliki mutu tinggi. Serat babad, kitab-kitab berisi naskah Jawa kuno, hingga karya sastra Jawa modern dengan adanya media massa berbahasa Jawa menunjukkan bahwa sastra Jawa di Yogyakarta tak bisa dipandang sebelah mata.

“Belakangan juga hadir di tengah-tengah kita adanya sayembara penulisan karya sastra Jawa dari kampus maupun instansi-instansi kebudayaan di DIY,” ujarnya.

Mustofa menambahkan, merawat kekayaan intelektual berupa karya sastra Jawa amatlah penting. Oleh karenyanya, Studio Pertunjukan Sastra menggelar pementasan sastra Jawa di desa-desa. Ini adalah tahun kedua, setelah pada tahun 2018 hal serupa berlangsung di Dusun Onggopatran, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Acara ini merupakan perwujudan dari perkembangan sastra Jawa di era milenial yang perlu ditunjang dengan berbagai inovasi kemasan pergelaran dengan bahan baku sastra Jawa sehingga dapat dekat dan merakyat. Dengan format menyambangi desa-desa di DIY, Studio Pertunjukan Sastra berupaya menyosialisasikan gerakan literasi melalui satu pementasan seni budaya dengan bahan baku karya sastra Jawa.

“Sastra Jawa memiliki beban berat dalam hal bahasa dan budaya, sehingga sudah selayaknya diusung bersama bahu-membahu untuk menyampaikannya kepada khalayak ramai. Dengan menggubah teks menjadi sebuah pertunjukan maka karya sastra akan dapat hadir secara langsung dan dekat di hadapan masyarakat,” terangnya.

Sukandar, koordinator acara ini menambahkan, kali ini SPS menggandeng teman-teman Karang Taruna Hargo Puspito Dusun Dawangsari, Sambirejo, Prambanan, bocah-bocah Dusun Dawangsari, dan mahasiswa Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNY yang terhimpun dalam Teater HIMA Jawa UNY. Generasi muda, itulah inti dari kegiatan ini.

“Sebisa mungkin semangat muda menjadi pendorong utama hadirnya acara ini.”

Sastra, kata Sukandar,  merupakan sebuah dunia reflektif, sebagai sebuah sarana pembelajaran manusia di Nusantara sejak sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sastra Jawa dan kebudayaan Jawa bersipaut membentuk masyarakat di bidang spiritual, sosial, mental, moral, beradab baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional. Di dalam karya sastra Jawa tersimpan kearifan yang menjadi penuntun tata nilai di masyarakat. Sastra Jawa berpegang dan memegang teguh hal tersebut sebagai sebuah cerminan kehidupan.

Dengan menampilkan karya para sastrawan Jawa dalam sebuah pertunjukan oleh para sastrawan dan pelaku seni komunitas sastra di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikemas modern semoga masyarakat secara luas dapat menikmatinya sebagai tontonan dan menghikmatinya sebagai tuntunan. Melengkapi acara pementasan sastra Jawa ini juga diterbitkan buku yang memuat karya sastra yang dipentaskan. (Latief S Nugraha)

 

 


share on: