Sulastri Bertahan Memproduksi Minyak Klenthik, Produksinya Masih Diminai Masyarakat

share on:
Bagian depan rumah produksi minyak klenthik milik Sulastri di Dusun Mangiran Trimurti Srandakan Bantul || YP-Supardi

BOLEH jadi generasi milenial sekarang tidak tahu bahwa pada zaman dahulu para nenek kita banyak yang menggunakan minyak goreng hasil produksi sedniri, yakni minyak goreng yang oleh orang Jawa disebut minyak klenthik, relatif non kolesterol.       

Sedangkan yang kini sering beredar dan dikenal di pasaran oleh banyak orang adalah berbagai jenis minyak goreng produksi pabrikan ataupun yang terbuat dari kelapa sawit sebagai bahan bakunya.

Sulastri (65) warga Dusun Mangiran Kalurahan Trimurti Kapanewon Srandakan Kabupaten Bantul adalah satu dari sedikit produsen minyak klenthik. Ia menekuni pekerjaan ini sejak tahun 1980, melanjutkan pekerjaan ibunya yaitu Mbah Marsiyem Giyono yang dilakoninya selama puluhan tahun.

“Alhamdulillah membuat minyak klenthik tetap menguntungkan. Produksinya relatif laku dipasaran. Bahan baku berupa kelapa mudah diperoleh langsunhlg dari para petani atau pedagang pengumpul. Memproduksinya juga mudah meski harus telaten dan perlu waktu lama,” ungkap Sulastri saat mengawasi dan memimpin empat orang karyawanya berproduksi, di rumahnya Dusun Mangiran Trimurti Srandakan Bantul, Jumat (9/9/2022).

Ia menjelaskan, dengan mempergunakan 500 buah kelapa seharga Rp 600.000 menghasilkan 45 kg minyak klenthik dengan harga jual Rp 14.000 per kg. Selain itu juga menghasilkan ketakaatau blondho (untuk bahan makanan ketak jadi) sebanyak 25 kg dengan harga Rp 400.000 per kg.

“Saya dapat untung, karena harga penjualan produksi klenthik bisa untuk menutup harga bahan baku kelapa. Penjualan blonddho/kethak juga turah guna membayar tenaga kerja 4 orang Rp 100.000 per hari per hari /orang. Selain itu juga dapat untuk membeli bahan bakar kayu untuk memasak (memanasi) santan. Tempurung kelapanya juga laku terjual sekitar Rp 500 per buah,” jelas Sulastri sambil raut mukanya nampak gembira.

Ditanya tentang cara dan proses memproduksi klenthik, ia mengatakan sederhana. Namun harus teliti dan lama. Daging kepala yang sudah terkupas direndamn air selama tiga hari. Setelah itu diparut (dilembutkan) secara manual mempergunakan alat parut.

Setelah itu diperas. Santannya terpisah dengan ampas (limbah). Santan dipanaskan selama dua hingga tiga jam. Kemudian santan yang dipanasi dikrengseng (diperas dan disaring). Maka minyaknya (klenthik) akan terpisah dengan blondo. Minyak tinggal dimasukan dalam kemasan. Blondonya di sendirikan pula.

Minyak siap untuk dijual ke pasaran ataupun ke pengepul, penyuling atau konsumen umum di Wilayaj DIY dan Purworejo  Jawa Tengah. Sedangkan kethak/blondo yang rasanya masih anyepl dijual untuk dijadikan bahan makanan kethak gurih, manis ataupun pedas sesuai selera pemasaknya.

“Minyak klenthik jadi ataupun yang telah disuling memang relatif mahal dibanding minyak pabrikan. Namun alam, non kolesterol dan hasil masakannya lebih terasa enak. Harga minyak klenthik yang telah disuling Rp 26.000 per liter,” sambunya.

Dari rangkaian proses pembuatan minyak klenthik ini, boleh dibilang tak ada yang tersisa atau tidak bermanfaat. Bahkan tempurung kelapa diantaranya pun dapat digunakan untuk bahan baku kerajinan, bahan bakar dan arang bakar. Sedangkan limbah kelapa dan kenthos (bakalan tunas) berguna untuk pembuatan makanan dan pakan ternak. (Spd)

 


share on: