Di antara hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban, adalah seperti kedudukan sholat sunah qabliyah bagi salat wajib lima waktu. Puasa sunah di bulan Sya’ban akan menjadi penyempurna dari puasa wajib di bulan Ramadan.
BACA JUGA: UU Nomor 20 Tahun 2025 dan Wajah Baru Peran Advokat dalam Peradilan Pidana
Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid RA, ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban?
Beliau SAW menjawab: “Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang “lalai” dari beramal salih, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah swt, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai)
BACA JUGA: Dua Hal Benar dari Rocky Gerung
Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Semua amal-amal salih tadi tidak mungkin bisa dikerjakan dengan istiqomah dan penuh keikhlasan tanpa perlu latihan dan disiplin yang ketat untuk mengerjakannya, serta didukung ilmu pengetahuan tentang agama yang memadahi. Sebagaimana seorang atlit yang selalu giat bertanding untuk mendapatkan prestasi yang maksimal.
BACA JUGA: KPK Ingatkan Perangkat Daerah dan DPRD Sleman Jangan Terima Gratifikasi
Di sinilah bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat utama sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan istiqomah. Dengan latihan tersebut, di Ramadan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal salih akan membuahkan takwa yang sejatinya.
BACA JUGA: Dari Buku Hingga Puisi, IBCF Rayakan Satu Abad NU di Yogyakarta
Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.” Jadi setiap kita harus memanfaatkan bulan Sya’ban dengan maksimal, untuk bergairah menjalankan ibadah-ibadah wajib dan sunnah untuk menyongsong Ramadan 1447 H.
BACA JUGA: HUT ke-79 Megawati Soekarnoputri, Kader PDI Perjuangan DIY Rawat Bumi Pertiwi
Beliau juga berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadaan itu bagaikan hujan.” Hujan ampuan, dan Rahmat Allah swt kepada umat nabi Muhammad saw.
Barangsiapa tidak menanam benih amal salih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadan?
BACA JUGA: Menyambut Ramadhan, FJI Yogyakarta Gelar Tabligh Akbar dan Santunan Sosial
Karena itu, penulis menasehati diri sendiri juga kepada pembaca budiman semuanya, bahwa mumpung di bulan sya’ban yang mulia ini, di mana di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan, wajib bagi kita untuk tidak terlalaikan.
BACA JUGA: Pangdam Mayjen TNI Achiruddin Imbau Prajurit Jauhi Berbagai Bentuk Pelanggaran
Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadan datang. Sebagaimana yang diperintahkan dalam surat QS. Ali Imron ayat 133.” Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, Wallahua’lam. (Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul, DIY)
