Yogyapos.com (YOGYA) – Suatu saat Rasulullah Muhammad SAW bertutur kepada sahabatnya, Umar bin Khattab RA, bahwa dirinya pernah diberitahu Allah SWT tentang dua orang bersimpuh di hadapan Allah SWT. Salah satunya memohon agar mengambil perbuatan baik orang yang disampingnya karena selama hidup berbuat zalim padanya.
Allah tidak mengabulkan permohonan itu, dan menjawab “mana mungkin tak ada sedikit pun kebaikan dalam dirinya.”
“Kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya,” tukas di Si Pengadu.
Drs Sunarko, Ketua RW 06 Perumahan Jatimulyo Baru Kota Yogya || YP-Ismet NM Haris
Sampai disini Rasulullah berkaca-kaca matanya. Beliau tak kuasa menahan tangis hingga meneteslah airmata. Ya hari itu adalah hari yang mencekam. Semua manusia ingin agar dosa-dosanya dipikul orang lain.
Rasulullah kemudian melanjutkan kisahnya bahwa Allah menyuruh orang yang mengadu itu agar mengangkat (mendongakkan) kepalanya. Di luar dugaan Si Pengadu, tiba-tiba nampak istana megah terbuat dari emas. Di dalamnya terlihat singgasana bertahtakan berlian.
Pembacaan ayat suci Alquran oleh Ananda Nawfa ZA || YP-Ismet NM Haris
“Ya Allah dimana gerangan istana para nabi diantara istana-istana ini, dimana pula istana untuk orang jujur dan orang yang mati syahid?” tanya Si Pengadu.
Allah pun menjawab, istana-istana itu disediakan bagi siapa saja yang mampu membayar harganya.
“Ya Allah siapakah orang yang mampu membayar harga istana-istana itu,” lanjut Si Pengadu, penasaran.
“Engkau pun mampu membayar harganya,” kata Allah.
“Bagaiman cara aku dapat membayar harganya,” desak Si Pengadu, kian penasaran.
“Caranya adalah engkau memaafkan kesalahan saudaramu yang duduk di sebelahmu itu, yang telah kau adukan kezalimannya padaKu,” tandas Allah SWT.
Warga saling bersalaman bermaafan || YP-Ismet NM Haris
Mendengar jawaban akhir dari Allah SWT, Si Pengadu itu pun sontak memaafkan orang yang diadukan. Bahkan ia, sesuai perintah Allah, menjabat tangannya erat, hingga Allah mempesilahkan keduanya menuju surga.
Peristiwa yang diriwayatkan Anas bin Malik itu diungkapkan oleh Dosen Kehutanan UGM Ustad Dr Ir Suwarno MS dalam acara Halal bi Halal (Syawalan) yang diinisisi Pengurus RT 28 RW 06 Perumahan Jatimulyo Baru, Kricak, Tegalrejo, Kota Yogya, di ruas jalan antara Halaman Rumah Warga (Sutrisno) dan (Almarhum R Susanto) setempat, Senin (1/5/2023) malam.
Acara dihadiri hampir semua warga setempat, nampak pula diantaranya Ketua RW 06 Drs Sunarko, Ketua RT 28 Drs Zainal Arifin, sesepuh warga Prof Dr dr Sutaryo SP.A(K), Dr drg Dibyo Pramono SU MDSC, Drs Setiadi, Ibu Sumarno dan Ibu Bambang Pamuji.
Dr Suwarno menyatakan terdapat pesan sangat religius dari kisah yang diriwayatkan Anas bin Malik tersebut, yakni tentang kemuliaan sikap untuk memaafkan kesalahan orang lain. Memang berat, apalagi terhadap orang yang menzaliminya selama hidup. Tapi itulah harga yang harus kita bayar jika hendak memeroleh surga.
Drs Zainal Arifin, Ketua RT 28 RW 06 Perumahan Jatimulyo Baru Kota Yogyakarta saat memberikan sambutan || YP-Ismet NM Haris
“Memaafkan adalah salah satu ciri orang bertakwa. Orang yang bertakwa adalah yang menafkahkan rizkinya di jalan Allah, sanggup menahan nafsu amarah dan memaafkan orang lain,” jelas Dr Suwarno.
Dalam kaitan Halal bi Halal atau Syawalan inilah, Dr Suwarno mengajak semua warga yang hadir untuk saling memaafkan atas segala khilaf dan salah masing-masing di masa sebelumnya. “Setelah kita menyelesaikan ibadah puasa sebagaimana difirmankan dalam Surat Albaqarah 183, maka kita masih terus berusaha meningkatkan ketakwaan dengan saling memaafkan,” pungkasnya.
Senada diharapkan pula oleh Ketua RW 06, Drs Sunarko tentang pentingnya mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antarwarga. Bahkan jika terjadi suatu perselisihan dan berpotensi menimbulkan kegaduhan, maka sebaiknya diselesaikan secara musyawarah.
“Di RT 28 ini hampir semua warganya adalah perantau. Dengan adanya Syawalan ini dapat mempererat persaudaraan, guyub rukun, memudahkan gotong royong,” ujarnya.
Drs Sunarko juga tak lupa mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan setelah beberapa tahun diterpa Covid-19 yang antara lain mengakibatkan dua kali momentum lebaran tidak diselenggarakan acara Syawalan.

Meski sekarang telah landai Covid, namun varian baru masih ada sehingga kedisiplinan menjaga kesehatan yang mahal harganya itu harus tetap diperhatikan. “Interaksi guyub rukun bergotong royong tetap kita pelihara, tapi pada saat yang sama juga jangan mengabaikan kesehatan,” imbaunya.
Acara yang diawali pembacaan Alquran oleh Ananda Nawfa ZA (Siswi SDIT Luqman Al Hakim) ini dipungkasi doa seremonial bersalaman antarwarga dan tahadust bi nikmah santap makanan bersama. (Met)
