Tamanmartani Kalasan Inisiasi Desa Pemajuan Kebudayaan

share on:
Plt Kades Tamanmartani Joko Susilo dan Wahjudi Djaja saat pengukuhan Lembaga Pemajuan Kebudayaan Desa Tamanmartani || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Zaman bergerak cepat penuh dinamika yang ditandai kemajuan teknologi. Perubahan adalah keniscayaan jika kita mau tetap eksis. Untuk mengantisipasi kondisi itu, restrukturisasi kelembagaan desa menjadi keniscayaan. Pemerintah desa Tamanmartani meresponnya dengan merevitalisasi dan merestrukturisasi lembaga budaya menjadi lembaga pemajuan kebudayaan desa. Dengan restrukturisasi ini, kebudayaan diharapkan bisa berkembang lebih baik sesuai norma dan kearifan lokal yang ada.

Kepala Desa Tamanmartani Kalasan (Plt), Joko Susilo, mengatakan hal itu saat mengukuhkan pengurus Lembaga Pemajuan Kebudayaan Desa (LPKD) di aula Desa Tamanmartani, Selasa (29/9/2020). LPKD meliputi empat kelompok kerja (Pokja) yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.

Lebih jauh disampaikan, restrukturisasi adalah kebutuhan organisasi untuk melaksanakan fungsi organisasi agar maksimal perannya. "Kami berharap agar kebudayaan bukan lagi dilihat secara sempit tetapi dengan perspektif yang luas menyangkut rasa, cita dan karsa. Budaya itu bukan hanya soal seni pertunjukan, tetapi harus dipahami secara lebih kompleks menyangkut segala aspek kehidupan,” katanya.

Terkait masa depan pembangunan dan pengembangan potensi desa, Joko memandang perlu diintegrasikan ke dalam wisata desa yang terpadu. "Dengan didukung kemajuan teknologi, akan mendorong tumbuh kembangnya kebudayaan yang bermanfaat bagi peningkatan kemakmuran warga,” tandasnya.

Sementara itu Wahjudi Djaja SS MPd selaku narasumber mengapresiasi inisiasi dan inovasi yang dilakukan beragam elemen dan tokoh masyarakat Desa Tamanmartani. “UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dengan jelas mengamanatkan bahwa dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, masyarakat harus terlibat aktif dalam pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Maka langkah Pemdes Tamanmartani ini perlu didukung, baik oleh pemerintah, warga, maupun sejumlah pemangku kepentingan yang terkait kebudayaan,” kata anggota Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) ini.

Selama ini, lanjut dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta ini, kita hanya mengenal adanya desa budaya yang masih belum optimal peranannya bagi upaya pemajuan kebudayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Apa yang disampaikan Pak Kades untuk menjadikan 22 padukuhan di Tamanmartani sebagai wisata desa yang terintegrasi merupakan langkah terobosan yang visioner. Dengan keberadaan Lembaga Pemajuan Kebudayaan Desa yang melibatkan sinergi sejumlah elemen masyarakat yang peduli dan berkompeten, pengelolaan potensi desa akan lebih terarah dan berfaedah", tutur wakil ketua Lembaga Kebudayaan Jawa (LKJ) Sekar Pangawikan ini.

Pembicara lain, Cunduk Bagus Sudarwo dari Konsursium Desa Pinter, menjelaskan integrasi antara teknologi dan kebudayaan melalui keberadaan LPKD Tamanmartani ini merupakan pendekatan baru dalam pembangunan desa. "Kita tersadar bahwa kebutuhan kuota internet sedemikian vital bagi masyarakat. Pada saat yang sama, masyarakat sudah melakukan belanja rutin tiap bulan untuk membeli kuota. Untuk itulah kami mencoba menawarkan solusi seperti yang kami lakukan di Desa Tirtoadi Mlati Sleman dengan membangun infrastruktur internet,” tandasnya.

Harapannya, lanjut Cunduk, Tamanmartani juga akan melakukan hal yang sama menuju smart village. "UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan jelas memberi harapan besar kepada Bumdes agar bisa menjadi akselerator pembangunan desa. Dirjen PDT Kemendes PDTT pun menginstruksikan bahwa dana desa pun bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur internet. Saya kira, ini merupakan momentum bagi Desa Tamanmartani,” jelasnya.

 

Hadir dalam pengukuhan itu selain perangkat desa Tamanmartani, juga lembaga desa, para kepala dukuh, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan pendamping desa. Acara diakhiri dengan ramah tamah sesuai protokol adaptasi kebiasaan baru. (Iud)

 

 

 


share on: