Yogyapos.com (YOGYA) - Nonton bareng dan diskusi film The Paintings of War: Agression in the Eyes of Children merupakan upaya Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) untuk menyediakan ruang tegur sapa sesama komunitas agar saling menginspirasi. Film yang mengisahkan lima bocah pelukis yang digembleng Dullah di Yogyakarta pada masa revolusi ini sarat pesan moral dan pendidikan karakter yang amat penting bagi generasi muda bangsa.
Demikian Kepala BPNB Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M. Hum saat membuka nobar dan diskusi film di nDalem Joyodipuran (Jumat 29/11/2019). Film dokumenter karya Agustinus Dwi Nugroho ini diproduksi Montase, Dictiart dan Museum Dullah. Lebih jauh dikatakan, BPNB mempunyai tanggung jawab moral untuk menyediakan referensi bagi generasi penerus terutama tentang seni, tradisi, budaya dan sejarah agar mereka tak tercabut dari jatdiri dan identitasnya.
“Sengaja kami undang mayoritas dari generasi muda sebagai inspirasi untuk mengisi Indonesia. Kreatifitas dan cinta tanah air adalah kunci eksistensi bangsa. Harapan kami, mereka bisa bergandengan tangan memajukan budaya Indonesia dengan kreatifitas yang dimiliki. Ini amanat UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dimana ada sepuluh item yang menjadi tugas dan fungsi BPNB. Kami memfasilitasi arena kreatif agar generasi muda sadar akan kewajibannya untuk mengisi dengan beragam karya,” tandas sejarawan alumni UGM ini.
Sementara itu Ketua Panitia Drs Sukari, melaporkan bahwa ratusan peserta nobar dan diskusi yang memenuhi Pendopo Joyodipuran berasal dari beragam komunitas dannkalangan generasi muda. "Kami ingin mengenalkan nilai kesejarahan kepada generasi muda. Ada Saka Widya Budaya Bhakti, SMA/SMK, mahasiswa, komunitas film, MGMP Sejarah dan seni serta beberapa komunitas peduli sejarah" jelasnya.
Bagi dosen ISI yang juga kurator, Dr Mikke Susanto MA, film ini merupakan artefak sejarah yang amat penting untuk menampilkan sisi lain sejarah era kemerdekaan.
“Keberanian lima pelukis dan masih sangat muda dalam melakukan kreatifitas yang sangat berisiko ini sungguh menginspirasi. Anak-anak ini berani melukis saat perang yang sangat menakutkan tengah terjadi. Mereka berani berkarya yang dampaknya lintas zaman hingga bisa kita nikmati sampai detik ini. Karya mereka mengagumkan orang tidak saja di dalam tetapi dari luar negeri,” paparnya saat menjadi salah satu narasumber.
Sedang Agustinus Dwi Nugroho menjelaskan lima pelukis muda didikan Dullah ini adalah Mohammad Toha (11 tahun), Muhammad Affandi (12), FX. Soepono (15), Sri Suwarno (14) dan Sarjito (14). "Dari kelima pelukis itu, Toha yang paling produktif. Mereka dididik Dullah di Sanggar Seniman Indonesia Muda. Dan mereka melukis secara on the spot," tandas dosen muda ISI ini. (Iud)
