Yogyapos.com (SLEMAN) - Tim Pranata Laboratorium Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berhasil merancang alat simulasi curah hujan (rainfall simulator) yang diikutsertakan pada Program Karya Inovasi Laboran (KILAB) Tahun 2025.
BACA JUGA: Rio Banupanitis Pimpin SAR Yogyakarta
Program ini didukung melalui hibah dari Direktorat Sumber Daya di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Oktoditya Ekaputra ST selaku ketua tim bersama dengan Christin Sri Hastuti ST mengembangkan penelitian di bidang Geoteknik dengan judul “Rancang Bangun Alat Simulasi Curah Hujan Berbasis Mikrokontroler ESP32”.
BACA JUGA: Ini yang Dibahas Ketika Para Pakar Konstruksi Hadir di Expo, Short Course dan Seminar HAKI DIY
Alat ini dirancang untuk melakukan simulasi curah hujan secara akurat dan terkontrol. Sistem kendalinya menggunakan mikrokontroler yang dapat mengatur pompa air, sprinkle, dan beberapa sensor, seperti sensor tipping bucket, waterflow, dan kelembaban tanah.
BACA JUGA: Meriah! Ratusan Pelajar Hadiri Pembukaan Lomba Debat Indonesia 2025
Data hasil pengukuran ini dapat langsung ditampilkan secara digital melalui layar LCD, layar OLED, maupun Arduino Cloud, kemudian direkam secara otomatis untuk analisis lebih lanjut. Inovasi ini merupakan salah satu bentuk penerapan Internet of Things (IoT) berbasis mikrokontroler di lingkungan laboratorium UAJY.
BACA JUGA: Kasus Korupsi Bandwidth, Terdakwa Jalani Sidang Perdana Didampingi Advokat Murjiyanto
Dr Ir Sumiyati Gunawan ST MT selaku dosen pendamping mengungkapkan bahwa dalam prosesnya, tim melakukan studi banding ke beberapa universitas kemudian mencari ide untuk dikembangkan menjadi alat baru.
BACA JUGA: Kesadaran Ekoteologis; Sebagai Mitigasi Bencana
“Dari studi banding, kita mendapat ide untuk membuat alat pengukur curah hujan ini, tetapi dengan satu hal baru, yaitu menggunakan mikrokontroler. Jadi misalkan kita mau membuat hujannya lebat atau hujan rintik-rintik itu bisa dikontrol dari alat ini,” ujar Sumiyati.
BACA JUGA: 72 Tahun Yani Saptohoedojo, Inisiasi Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Oktoditya menuturkan bahwa persiapan yang dilakukan untuk merancang alat ini tidak terlalu lama, hanya sekitar satu bulan bersamaan dengan pembuatan proposal dan setelah dinyatakan lolos program KiLab 2025, proses pelaksanaannya dilakukan sekitar 4 bulan. Saat ini alat simulasi curah hujan tersebut sudah selesai dibuat dan nantinya akan diseminasikan pada tingkat nasional yang dilaksanakan di Jakarta, 6 Desember 2025.
BACA JUGA: Danang: Olahraga Bukan Sekadar Kompetisi, Tapi Juga Penghargaan terhadap Individu
“Tantangannya karena kita otodidak, jadi semuanya dimulai dari nol. Kita coba-coba beli sensor, ternyata waktu dipasang kok nggak pas, terus cari sensor lain, coba-coba kode pemrogramannya, sampai kursus basic untuk Arduino,” ungkap Oktoditya, Kamis (27/11/2025).
BACA JUGA: Pemkab Sleman Masuk Kategori Informatif, Ini Buktin
Bagi Christin, penelitian dan perancangan alat ini merupakan sebuah pengalaman yang menantang, tetapi sekaligus mengesankan. “Karena tim kami memulai dari nol, kami berusaha mengembangkannya terkadang hingga kesusahan dan harus melakukan diskusi yang cukup panjang dengan tim, juga mengenai sensor dan lain-lain, tapi justru itu yang membuat proses ini seru dan sangat berharga,” ujar Christin.
BACA JUGA: Merayakan HMPI 2025, Kemenhut Tanam Bibit Pohon Serentak
Tim ini berharap ketika ada penawaran KILAB, UAJY bisa terus ikut dan mengembangkan kemampuan dari sumber daya manusia yang ada di dalamnya agar bisa menambah alat-alat baru yang lebih bervariasi, sehingga memunculkan banyak ide pula untuk penelitian Magister dan Doktoral. (*)
