Trisno Keukeh dengan Realismenya

share on:
Trisno Utoyo selalu tampil santai, ketika melukis selalu diiringi tembang-tembang lama || YP/Agung Dwi Purwanto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Trisno Utoyo, pelukis  jebolan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta, karya-karyanya mudah dikenal dengan degradasi warna-warni yang cerah. Ide-ide yang termanifestasi dalam karya-karyanya selalu segar tentang realitas keseharian yang alami.

Karya-karya perupa kelahiran 57 tahun lalu ini sangat jujur. Setiap sapuan kuas yang ditampilkannya merupakan ekspresi  yang benar-benar mimesis (tiruan) sesuai aslinya, detail sebagaimana yang ia lihat dengan mata telanjang dan mata batinnya.

Ketika melukis sebuah foto, ia akan selalu berusaha mengamati secara detail kemudian menirukan sesuai bentuk yang akurat. Sehingga karyanya pun terasa hidup. “Saya tidak beralih atau beranjak dari realisme,” ungkap pelukis yang sudah berkarja sejak SD ini, di rumahnya Kadisobo, Kalasan, Sleman.

Ketika terjadi booming lukisan beberapa tahun, bahkan terjadi kecenderungan gaya tertentu dalam jagat lukis, ia tetap bergeming. Suntuk bergerak dalam realisme, bahkan hingga kini tetap melukis realisme dengan beragam obyek.

Baginya, realisme adalah suatu kejujuran. Obyeknya adalah lingkungan sekitar. Makhluk hidup maupun panorama alam. Dan ini menimbulkan suatu kenikmatan tersendiri karena setiap saat bisa mengabadikan momen-momen keseharian.

Dengan pilihan yang demikian, maka langsung atau tidak dirinya bagian dari pelaku yang ikut mengabadikan gerak zaman. “Banyak pelukis yang meninggalkan realisme dalam karyanya, tapi saya tidak. Ini pilihan yang akan terus dilakukan,” ujar Sutrisno yang juga kolektor tembang-tembang lama. (Agung DP) 


share on: