Yogyapos.com (YOGYA) - Menulis opini boleh dikatakan mengasah atau menajamkan pikiran sehingga muncul ide gagasan baru yang dikonsumsi masyarakat melalui media. Tujuan utama menulis opini di media adalah memberikan wawasan dan pengetahuan kepada orang lain berdasarkan sudut pandang penulisnya. Kegiatan membaca pun diperlukan sebagai pendukung guna menghasilkan tulisan.
Pada acara Temu Expert virtual bertajuk ‘Kupas Tuntas Menulis Opini Menembus Meja Redaksi’ yang diselenggarakan Science Hunter bekerja sama dengan Komunitas Ketikata Yogyakarta, Arifah Suryaningsih SPd MBA selaku narasumber, mengatakan tulisan opini memang bersifat subyektif. Tulisan itu lebih mengedepankan pendapat pribadi. Sementara teori dan fakta berfungsi mendukung sekaligus memperkuat isi tulisan.
“Karena itulah, penulis bebas mengungkapkan gagasannya dari berbagai latar serta sudut pandang,” tutur Arifah dalam pemaparan materi secara virtual di kediamannya Yogyakarta, Jumat (18/9/2020) sore.
Arifah mengutarakan banyak orang ingin tulisannya tayang di media, namun mereka justru tidak pernah memulai kegiatan menulis. Ia mengemukakan sejumlah alasan mengapa orang tidak menulis, antara lain disebabkan rasa malas, sibuk (tak ada waktu), tidak berbakat, kurang wawasan, tidak butuh menghasilkan tulisan, tak mampu menulis, dan lain-lain.
“Mestinya kita harus menanamkan dahulu bahwa menulis itu ada konsekuensinya, misalnya ketika diberi tugas menulis oleh dosen di perkuliahan. Tidak menulis konsekuensinya ya tidak mendapatkan nilai sehingga mau tidak mau harus dikerjakan. Demikian juga waktu mengerjakan tugas akhir menulis skripsi, kalau tidak menulis maka tidak akan lulus,” papar Arifah.
Sementara kegiatan menulis sebagai aktivitas harian tidak mempunyai konsekuensi apa-apa bila tidak tidak dilaksanakan. Hal tersebut menurutnya membuat orang kemudian mengesampingkan aktivitas menulis. Orang harus memiliki motivasi tersendiri manakala mau menulis opini.
“Ada yang termotivasi karena ingin mencari poin dan koin, menulis merupakan tuntutan kewajiban, berbagi pengalaman pengetahuan, sampai menulis saat diterpa masalah (galau). Ada pula yang ingin mengaktualisasikan diri lewat tulisan untuk dibaca orang,” ujarnya.
Guru SMK Negeri 2 Sewon Bantul ini menjelaskan menulis membutuhkan proses. Menuliskan suatu hal melalui media cetak seperti koran, tulisan takkan serta merta langsung muncul, apalagi kategori pemula. Setiap penulis selalu mengalami tahapan berbeda-beda dengan penulis lainnya. Termasuk mencari waktu-waktu tertentu dan nyaman tatkala proses menulis.
“Bagi pemula lebih baik fokus dulu membuat tulisan opininya. Setelahnya baru berpikir bagaimana menembus media, jangan dulu memikirkan tentang honor tulisan. Menembus media punya tingkat kesulitan tersendiri,” saran Arifah.
Dari pengalamannya, menulis opini bisa dipelajari secara otodidak dan peluangnya pun cukup besar dimuat redaksi sebuah media. Biasanya redaksi mempertimbangkan tulisan bedasarkan kapasitas, latar belakang, dan kompetensi penulis. Selain itu tulisan harus update, mengikuti tren sedang berkembang, serta menyesuaikan momen kejadian.
“Menulis opini tidak sekadar menyampaikan gagasan, ide, ataupun informasi baru, namun menampilkan pendapat penulis terhadap suatu hal didukung serangkaian data. Dan terpenting tulisan opini mampu mengukuhkan posisioning penulis mengenai isu sesuai kompetensinya,” urai Arifah.
Ia menyebutkan tahapan menulis opini, mulai dari menemukan ide, menentukan sudut pandang penulisan apakah penting, menarik, baru, atau mendesak. Lalu membuat kerangka (outline) supaya tulisan tidak melebar ke topik lain, melakukan riset, baik riset akademis maupun literatur dari sumber terpercaya. Riset diperlukan agar tulisan tidak menyesatkan. Akhirnya membuat lead, paragraf, dan judul tulisan.
“Sedangkan eksekusi naskahnya ada tiga hal perlu diperhatikan yaitu: mengenal karakteristik medianya dulu, setelah itu mulai menulis, disusul mempublikasikan tulisan yang sudah jadi,” ujar peraih penghargaan Peringkat pertama Pemilihan Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Bantul dan Juara ketiga Tingkat DIY Tahun 2015.
Mengakhiri paparannya, Arifah menyitir ungkapan Pramoedya Ananta Toer, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian’. (Muf)
