UAD Sosialisasi 'Pembelajaran Terbalik' di SD Muhammadiyah Domban 2

share on:
Dr Muhammad Zuhaery MA saat lakukan sosialisasi pembelajaran terbalik || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Pasca pandemi Covid-19 terjadi perubahan perilaku sosial orang dewasa atau pada diri anak-anak. Pandemi sudah diangkat menjadi endemi, tetapi bukan berarti bebas, melainkan masih perlu diwaspadai dampaknya pada diri anak didik. 

Hal tersebut disampaikan Dr Muhammad Zuhaery MA selaku Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat oleh Prodi Manajemen Pendidikan (MP) UAD Yogyakarta, Kamis (18/8/2022). Terkait hal ini pihaknya telah melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan model pembelajaran pasca pandemi Covid-19 di SD Muhammadiyah Domban 2 Tempel di Kalurahan Mororejo Kapanewon Tempel pada 15 Agustus 2022.

“Program tersebut melibatkan tiga mahasiswa dari prodi MP yang ada di UAD, bentuk kegiatan berupa sosialisasi dan pelatihan model pembelajaran atau flipped classroom sebagai solusi pembelajaran tatap muka pasca Pandemi Covid-19, diikuti Kepala Sekolah, guru dan orang tua siswa,” jelas Zuhaery.

Tujuan kegiatan tersebut, sebagai ajang silaturahmi dan ujud tanggung jawab bersama dalam mendidik maupun menyebarkan ilmu, mengangkat anak yang sebelumnya tidak mengerti apa-apa, menjadi mengerti sikap, ilmu dan hal lain yang bermanfaat.

Menurut dia, anak sekarang adalah generasi Z yaitu generasi yang tidak mendapatkan budaya ketimuran, yang mendidik anak  adalah handphone, bukan guru pada saat ini. 

“Meneladani, mengajari dan mengawasi. Apabila salah dibetulkan. Jadilah orang tua dan bapak, ibu, guru yang menyenangkan. Minimal menanyakan apa yang harus dilakukan oleh anak pada pelajaran sekolah. Jangan sampai anak dididik oleh alam yang negatif. Otak anak adalah hardisk-nya tentang apa yang dilakukan orang tua. Tugas guru adalah mentransfer nilai dan ilmu yang menyenangkan,” imbaunya.

Ditambahkan salah satu anggota tim, Dr Enung Hasanah MPd dalam menyampaiakan bahwa flipped classroom atau pembelajaran terbalik adalah model pembelajaran dimana siswa sebelum belajar di kelas mempelajari materi lebih dahulu di rumah sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru. 

“Di dalam proses mendidik ada banyak pihak yang terlibat, ada komunikasi, semua paham dan memiliki pemahaman yang sama yaitu orang tua, siswa, guru, masyarakat. Flipped classroom hanya bisa dilakukan oleh kultur yang semuanya paham bagaimana membahagiakan anak, semuanya terpenuhi artinya menyejahterakan anak. Sejahtera subjektif artinya kesejahteraan anak yang satu dan yang lainnya berbeda,” jelasnya.

Menurutnya, flipped classroom prinsipnya adalah membalik kelas. Kalau di kelas tradisional itu, guru mengajar, anak diberi PR. Ketika hanya mengandalkan pembelajaran tradisional, anak hanya akan melakukan pembelajaran di dalam kelas. Model pembelajaran flipped classroom, memberi peluang bagi anak sesuai dengan gaya belajar, kemampuan, daya tangkap seorang siswa. 

“Konsekwensinya dapat mengarahkan dan menyambungkan dengan hidup anak secara terus menerus. Flipped classroom untuk guru yakni guru membagi materi menjadi dua kategori, dipelajari siswa secara mandiri dan dipandu didiskusikan dengan guru dan teman sebaya, setelah anak-anak belajar di rumah, masuk kelas dan mengulangi pembelajaran di kelas. Ketika akan memulai flipped maka sekolah harus solid dulu, briefing dulu supaya semua jelas dan bisa sepaham,” pungkasnya.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat oleh Prodi Manajemen Pendidikan (MP-UAD) terdiri Dr Muhammad Zuhaery MA (Ketua), Dr Enung Hasanah MPd dan Dr Dian Hidayati MPd serta 3 orang mahasiswa Beni Setiawan, Evik Munawaroh dan Anjar Sidi Melawati (Anggota). (*/Opo)

 


share on: