Yogyapos.com (YOGYA) - Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta kini measuki usia 19 tahun. Sedangkan 'anak ideologinya' yakni acara Bincang-Bincang Sastra (BBS) yang digelar setiap bulan sekali menginjak usia 14 tahun. Ibarat remaja, keduanya sama-sama tengah memiliki tenaga dan gairah yang maksimal.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sebagai penanda, SPS mengemasnya dalam acara Hari Bersastra Yogya. Mengusung tajuk ‘Rame Panggung Sepi Dunung’ yang rencananya akan dihelat pada Sabtu, 26 Oktober 2019 pukul 13.00-23.00, di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.
Ada dua rangkaian acara, Sarasehan Komunitas Sastra DIY pada pukul 13.00—16.00, bersama Bernando J. Sujibto (Komunitas Kutub), Hamada Adzani (PKKH UGM), Taufiq Hakim (Komunitas Jangkah), Baiq Intan Cahaya (Klub Buku Yogyakarta). Selain sarasehan dalam acara ini akan disajikan pembacaan karya sastra oleh Unstrat UNY dan Teater JAB. Acara Bincang-Bincang Sastra edisi 169 akan berlangsung pukul 20.00—23.00 menghadirkan Eko “Ompong” Santosa, Muhidin M. Dahlan, dan Kedung Darma Romansha. Di sini akan tampil Komunitas Sakatoya, Komunitas Ngopinyastro, dan Mukhlis Melayoe.
Pergulatan yang terjadi di arena sastra Yogyakarta dalam satu dekade terakhir ini cukup kompleks. Beragam fenomena kegiatan diskusi sastra, pertunjukan sastra, lahirnya eksperimentasi estetika karya sastra, hingga gelaran Festival Sastra Yogyakarta atau Joglitfest 2019 telah menunjukkan bahwa Yogyakarta sebagai salah satu poros kehidupan sastra di Indonesia memiliki gairah yang bergelora. Namun demikian, peristiwa demi peristiwa sastra yang terjadi itu tetaplah perlu direnungkan kembali. Keberadaan SPS di belantika sastra Yogyakarta yang tiada henti selama 14 tahun menggelar acara Bincang-Bincang Satra secara rutin sebulan sekali adalah saksi dan pelaku bagaimana perubahan dan perkembangan iklim kehidupan bersastra di Yogyakarta berlangsung.
Menyadari hal tersebut SPS menggelar sarasehan bersama komunitas sastra di DIY dan bincang-bincang sastra bersama para pakar dari perwakilan komunitas sastra, sastrawan, dan para pelaku seni pertunjukan.
Sukandar selaku koordinator acara mengungkapkan, sarasehan Komunitas Sastra DIY diharapkan dapat menjadi ajang pertemuan gagasan, berbagi pengalaman, dan mengurai persoalan-persoalan komunitas sastra di Yogyakarta. Kali ini Studio Pertunjukan Sastra juga menghadirkan buku kecil berisi profil komunitas sastra di DIY. Tentu saja buku ini tidak menghimpun semua komunitas sastra yang ada, masih perlu dilengkapi di kemudian hari. Namun usaha awal ini semoga bermanfaat dan selain menjadi rujukan juga dapat dijadikan sebagai “rujukan referensial” keberadaan komunitas sastra Yogyakarta.
“Sementara itu, kita tahu, belakangan banyak sekali fenomena pemanggungan sastra diselenggarakan di Yogyakarta. Studio Pertunjukan Sastra juga sempat mengelola acara Pergelaran Musikalisasi Sastra yang bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta. Satu rangaian reportoar yang menyajikan ragam disiplin seni hasil alih wahana karya sastra. Hadirnya sajian pertunjukan sastra dengan ekperimentasi yang dijalin tentu akan melahirkan satu bentuk kesenian baru yang segar. Namun, apakah karya sastra sebagai inti masih bisa dinikmati dan dihikmati? Melalui topik perbincangan ini para tokoh sastra dan pertunjukan diharapkan bisa berbagi wawasan mengenai fenomena pertunjukan sastra yang belakangan terjadi di Yogyakarta, maupun Indonesia,” terang Sukandar yang bos penerbit Interlude Yogyakarta ini.
Dalam acara ini juga dihadirkan lapak buku sastra. Satu penanda yang tidak boleh terlupakan. Buku dan karya satra merupakan satu bagian penting dari keberlangsungan kehidupan kesastraan. “Semoga acara ini dapat hadir sebagai sebuah percik permenungan bersama mengenai kreativitas bersastra di Yogyakarta,” pungkas Sukandar. (*)
