Ustad Cahyono SAg: Pendidikan Akhlak Dimulai dari Keluarga

share on:
Ustad cahyono SAg menyampaikan tausiyah di hadapan wali murid SMP Muhammadiyah 9 Yogyakarta, Sabtu (14/3/2020) || YP/Mufti

Yogyapos.com (YOGYA) - Kebahagiaan orangtua adalah apabila memiliki anak berakhlak mulia. Hal ini menjadi impian setiap orang mengingat kondisi sekarang dibandingkan dulu sangat jauh berbeda. Sekarang eranya orang sangat akrab dengan teknologi dimana perangkat komunikasi (hape) sulit lepas dari aktivitas. Hape berpotensi menjerumuskan anak berperilaku negatif jauh dari nilai agama. Orangtua berkewajiban memberikan landasan kuat guna membentuk generasi berakhlak dan berkualitas. Pendidikan akhlak dimulai dari dalam keluarga.

Ustadz Cahyono SAg menyampaikan bagaimana peran keluarga pada Pengajian Orangtua Siswa yang diselenggarakan oleh SMP Muhammadiyah 9 Yogyakarta, Sabtu (14/03/2020), di Gedung SMK Muhammadiyah 3, Jalan Pramuka Giwangan, Yogyakarta. Pengajian diikuti sekitar 400 orangtua siswa, guru dan karyawan, serta komite sekolah.

Anak yang baik akan memiliki kasih sayang kepada orangtua, juga orang lain, bukan menyakiti. Menurut ustadz, Ayah, ibu, dan anak adalah anggota keluarga inti. Mereka dapat berperan sebagai apa saja, sehingga butuh kesabaran saat berinteraksi maupun berkomunikasi ketika mengambil nilai-nilai pendidikan di keluarga. Jangan sampai mengutamakan amarah apabila terjadi gesekan.

“Proses pendidikannya berlandaskan kasih sayang atau saling mencintai, luas sabarnya, besar rasa syukurnya. Semua mudah terwujud apabila komunikasi antar anggota keluarga efektif. Semua sekolah Muhammadiyah mengajarkan itu,” terang ustadz.

Ustadz yang menjabat Kepala SD Muhammadiyah Wirobrajan 3 ini menambahkan, materi utama pendidikan keluarga adalah aqidah (keyakinan). Dia memaparkan, dulu Surat Makkiyah diturunkan untuk memperbaiki aqidah sekaligus akhlak masyarakat. Hal sama ditunjukkan Lukman tatkala memberi anaknya pelajaran. Nabi Ibrahim pun membimbing putranya Ismail memiliki akhlak dan keyakinan tinggi pada Allah.

Shalat merupakan hal penting berikutnya, karena shalat mampu mengatur ritme, hati, serta pikiran. Shalat mengajarkan sikap perbuatan baik, dan terpenting unsur ketaatan akan diperoleh. Demikian terus melekat sepanjang hidupnya.

“Apabila anak mampu melaksanakan shalat secara mandiri tanpa disuruh, itu menunjukkan sudah terwujud ketaatan. Tidak saja ketaatan terhadap orangtua, namun juga ketaatan pada Allah,” jelas ustadz Cahyono.

Selain kedua hal di atas, mengajarkan Al Qur’an jangan sampai terlupa. Orangtua harus memberikan pemahaman anak tentang Al Qur’an bukan hanya bacaannya saja. Memahami dan mengamalkan yang terkandung dalam kitab suci umat Islam jadi satu rangkaian penting mendidik anak. Dia mencontohkan, kalau jam belajar saja ada maka jam membaca Al Qur’an pun mestinya diterapkan. Kegiatannya dilakukan bila semua anggota keluarga sudah berada di rumah.

 “Contoh atau teladan dari orangtua sangat berpengaruh terhadap anak. Terus berdoa sembari bertawakal pada Allah, berharap supaya anak-anak terarah ke jalan yang baik dan benar,” ujarnya.

Sekolah, imbuh ustadz, berfungsi membantu melanjutkan pendidikan keluarga. Antara keluarga bersama sekolah mestinya saling mendukung, saling menerima kemudian menguatkan. Dengan demikian tujuan dari keluarga itu sendiri akan tercapai yakni kebahagiaan dunia akhirat melalui anak shaleh shalehah. Model pembelajaran keluarga ada disebutkan oleh Al Qur’an.

 “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur,” tutup ustadz Cahyono mengutip Surat An Nahl ayat 78. (Muf)

 

 


share on: