Ustad Jazir ASP dan Restorasi Sosial Peradaban

share on:
Almarhum Ustad Jazir ASP dan Penulis || YP-Dok Redaksi

Mangga Mas Yudi, di masjid atau di rumah? Atau di pesantren saya Cangkringan. Mangga rawuh nggriya kula kemawon, Jln Jogokariyan 56 ngajeng omah dakwah...

Pesan itu beliau kirim pada 10 Februari 2023. Bersama tim, saya diminta membantu salah satu program Dinas Sosial DIY. Dan salah satu narasumber yang harus kami hadirkan adalah beliau. Apa yang ditulis, itulah gambaran apa yang ada dalam hati. Ramah, santun, terbuka dan sangat menghargai siapapun yang diajak komunikasi.

BACA JUGA: Ribuan Pelayat Iringi Pemakaman Ustad Jazir, Salim A Filah: Almarhum Tinggalkan Jejak Peradaban

Akhirnya, kami datang di rumahnya, di lain hari yang disepakati, beberapa meter dari Masjid Jogokariyan. Kecil tapi teduh, serupa oase di Jogokariyan yang bergerak seirama pola perkotaan, menyisakan halaman depan untuk parkir atau manuver kendaraan tamu. Panjang lebar kami mendengar paparan, Kiai Muhammad Jazir ASP, tepatnya obrolan hangat berbudaya, mengenai restorasi sosial di Yogyakarta. Berpindah tempat, dari rumah ke studio yang ada di kompleks Masjid Jogokariyan.

BACA JUGA: Bahasa Ibu Pembentuk Karakter Bangsa, Sekilas Refleksi Hari Ibu dan Obituari Kyai Jazir

Penjaga Peradaban Kampung

Jika Kampung Jogokariyan, salah satu kampung sekaligus markas prajurit Keraton Yogyakarta, menjadi tertata, humanis dan berbudaya, Ustad Jazir termasuk sosok yang berjuang keras untuk mewujudkannya. Imaji masa kecilnya tentang sebuah kampung, diperkaya pendalamannya tentang sejarah, tak pernah pudar. Dibalut komitmennya untuk membumikan ajaran Islam dalam kehidupan, jadilah Jogokariyan sebagai kampung seperti yang kita kenal selama ini

BACA JUGA: Pak Hakim Yanto Mainkan Lakon 'Pandu Swargo' Dihadiri Kapolri, Danrem dan Titiek Soeharto

Baginya, kampung adalah representasi kehidupan warganya. Dia harus membuka ruang bagi orang lain. Baik dalam pola tata ruang rumah, dimana ruang depan yang terbuka, maupun dalam memberikan layanan sosial bagi pejalan. Dikenallah pekiwan, sumur yang berada di depan atau kendi dan padasan, untuk pelepas dahaga bagi pejalan yang kehausan menapaki perjalanan.

BACA JUGA: Sri Sultan HB X: Hukum Mengupayakan Pemulihan Martabat Manusia & Keteraturan Sosial Berkelanjutan

Peradaban boleh maju dan berkembang, tetapi soal kehangatan sosial tak bisa dilepaskan atau ditanggalkan. Imaji masa kecil tentang ruh dan budaya kampung nampaknya sangat membekas di benak Ustad Jazir sehingga menginspirasinya untuk menjaga dan mengembangkan Jogokariyan menjadi hidup dan toleran.

BACA JUGA: Seorang Pengembang Dituntut 3,5 Tahun, Kuasa Hukum Minta Vonis NO atau Hukuman Ringan

Menghidupkan dan Membumikan Masjid

Lebih dari sekedar tempat ibadah, bagi Ustad Jazir, masjid adalah generator peradaban. Secara sistematis dan tertata, masjid dijadikan ruang untuk mendiskusikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, lalu menggerakkannya dalam realita kehidupan. Tidak menjaga jarak dengan siapapun, selalu siap dengan solusi, dan karenanya, bisa dijadikan teladan. 

BACA JUGA: Sri Purnomo akan Ajukan Eksepsi, Kuasa Hukum: Ini Soal Debat Penafsiran Kebijakan

Manajemen saldo masjid Rp 0 bagi adalah contoh betapa amanah dan tanggung jawabnya beliau saat menjadi takmir masjid. Tiap Ramadhan kita menyaksikan betapa Jogokariyan benar-benar menjadi magnet bagi siapapun, baik yang mau berbuka maupun berusaha bisnis. Tak ada yang keberatan, dari masyarakat sekitar, saat jalan sempit mereka menjadi titik kumpul hamba Allah dari berbagai kota. Masjid Jogokariyan pun menjadi model terbaik bagi aktivis muslim yang ingin menjadikan masjid sebagai simbol kemajuan dan kemakmuran.

BACA JUGA: Jogja Hanyengkuyung Sumatra, Aksi Penggalangan Dana Musisi Yogya untuk Korban Bencana Sumatera

Apa yang dikerjakan dan diteladankan Ustad Jazir adalah bukti konkret ilmu amaliah dan amal ilmiah. Agama bukan dogma mati yang gagal memberikan solusi bagi masalah sosial kemasyarakatan. Beliau mencontoh Nabi Muhammad SAW yang menjadikan masjid sebagai pusat gerakan peradaban. Kini, seperti pesan Ustad Salim A Fillah saat melepas jenazah beliau, tanggung jawab ada di pundak kita untuk meneruskan perjalanan dan perjuangan beliau.

Sugeng kondur Ustad Jazir, mugi kasuwargan, husnul khatimah, aamiin. (Penulis: Wahjudi Djaja MPd, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada-Kasagama)

 


share on: