Yani Sapto Hudoyo: Yogya Butuh Gedung Pertunjukan

share on:
Yani Sapto Hudoyo (kiri) di Gallery miliknya || YP/Yuliantoro

Yogyapos.com (SLEMAN) - Perkembangan seni dan budaya di Jogja memang luar biasa pesat. Setiap hari di beberapa tempat berbagai even digelar, baik berupa pameran lukisan, pertunjukan wayang kulit, serta berbagai festival kesenian. Pameran lukisan bahkan tidak hanya berlangsung di berbagai gallery yang ada, namun juga merambah ke beberapa kedai kopi yang tersebar hingga pelosok desa. Ironisnya hingga saat ini Yogya tidak punya gedung kesenian yang digunakan khusus untuk seni pertunjukan.

“Memang gedung kesenian ada di mana-mana, namun Yogya tidak punya gedung kesenian yang khusus digunakan untuk seni pertunjukan. Solo punya  Taman Sriwedari, yang menjadi tempat pagelaran rutin wayang wong. Setiap hari ada jadwal pertunjukan sehingga wisatawan yang ingin menyaksikan wayang wong tinggal menyesuaikan dengan jadwal pertunjukan yang sudah ditentukan. Jogja, yang diidentikkan dengan kethoprak, tidak punya gedung khusus untuk mengadakan pagelaran. Sehingga wisatawan yang ingin menyaksikan pagelaran kethoprak bingung harus pergi ke mana bila ingin menyaksikannya,” ujar Yani Sapto Hudoyo belum lama ini, di kediamannya Jalan Solo – Yogyakarta,

Konsep gedung kesenian yang dimaksud lanjut Yani, setiap hari ada pertunjukan kesenian ketoprak, wayang orang, wayang kulit, teater dan sebagainya. Menurut dia, Yogyakarta itu memiliki banyak seniman yang mana hal itu bisa diberdayakan dalam pentas sehingga keberlangsungan seni budaya terus terjaga dan berkembang.

“Kalau para seniman itu selalu mendapatkan tempat pentas atau manggung, maka semangat berkesenian dan berbudaya akan terus terjaga. “Banyak lahir seniman dan budayawan, tapi kesempatan tampilnya tidak maksimal, itu bisa mengganggu eksistensi.”

Istri mendiang Maestro Seni Sapto Hoedjojo ini mengatakan, sebenarnya gagasan pembangunan gedung kesenian ini sudah lama, sejak tahun 2000 awal. Namun entah karena apa hingga sekarang belum juga terealisasi. Oleh karena itu, dia berharap pemerintahan sekarang bisa merealisasikan seiring dengan keistimewaan Yogyakarta.    

Yani Sapto Hoedjojo adalah istri mendiang maestro seniman serba bisa Almarhum Sapto Hoedjojo. Selama hidupnya dibadikan untuk seni dan budaya. Beliau sering melanglang buana ke berbagai negara di penjuru dunia untuk memperkenalkan kesenian dan kebudayaan Indonesia.  

“Hidup ini saya diabdikan untuk kepentingan seni dan budaya. Ke mana pun pergi, entah itu ke luar negeri, maupun keliling kota dari Sabang sampai Merauke, semua untuk mempromosikan seni dan budaya Indonesia yang agung, penuh estetika dan peradaban tinggi,” begitu Yani berujar.

Pemilik nama asli Mulyani ini, lahir 25 November 1953 di Kota “Mendoan” Purwokerto, menjalankan ekspedisi seni dan budaya sejak tahun 1972, selepas dipersunting Sapto Hudoyo, awalnya hanya merupakan kebiasaan mendampingi sang suami ke mana pun Saptohoedojo pergi. Kini selepas seniman kondang pencetus Desa “Gerabah” Kasongan, Yogyakarta ini meninggal tahun 2003 pun, perjalanan seni tetap dijalankan. Hasil perjalanan seninya itu membuat perempuan satu ini memiliki kedekatan dengan banyak pemimpin Negara dan duta besar Negara di dunia.

“Indonesia dulu sangat diperhitungkan oleh negara-negara di dunia. Namun, sekarang terpuruk. Kita harus mengangkat kembali Indonesia di dunia internasional. Caranya ya melalui budaya, seperti tarian, lukisan, produk etnik kerajinan serta seni budaya lainnya. Ke mana pun saya pergi ke luar negeri, selalu membawa souvenir etnik khas Indonesia,” ujar Yani.

Pendamping setia maestro lukis Saptohoedojo sangat peduli terhadap industri kecil di Indonesia. Tujuh puluh lima persen penghasilan yang diperoleh dari ekspedisi maupun gallery, ia salurkan untuk menghidupi industri kecil. Sedangkan 25 persen penghasilannya untuk kebutuhan keluarganya dan melestarikan gallerynya.

Menurut dia, industri kecil itu harus hidup  karena mereka juga  seniman. Kata Yani, image seniman harus diubah agar lebih bergengsi di mata masyarakat. Jangan sampai orang apriori dengan  profesi seniman yang selama ini dianggap kere (miskin), tidak menjanjikan. Sehingga bila ada seorang gadis hendak menikah dengan seorang seniman calon mertuanya akan keberatan. Image seniman harus dirubah agar lebih bergengsi di mata masyarakat. 

“Punya uang tidak untuk membeli mobil bagus atau apa. Karena mobil yang ada masih memadai, tapi untuk pembinaan usaha kecil dan membuat museum berisi koleksi barang-barang etnik nusantara adalah kebanggaan tersendiri. Karena bisa menyumbangkan sesuatu bagi bangsa dan Negara. Kalau bukan kita yang nguri-uri (menjaga) budaya, siapa lagi yang akan melakukannya, Ini amanat Papi (panggilan mesra Yani pada Sapto) sebelum meninggal,” begitu perempuan seni ini mengutip pesan mediang Saptohoedojo ketika masih hidup.

Semangat hidupnya memang luar biasa. Walau usia senja, 65 tahun, kesibukan Yani tidak berkurang. Membuka berbagai pameran seni para seniman muda di berbagai tempat dan membina berbagai organisasi perempuan, seniman, kemanusian adalah kesibukan kesehariannya.  Perempuan ahli batik yang pernah mendapat penghargaan sebagai pembuat batik terbaik KTT Non Blok tahun 1990  ini hingga kini masih membina perajin batik di Yogyakarta dan Jawa Tengah serta industri kecil di berbagai wilayah Indonesia.

“Hampir pada seluruh wilayah Indonesia dari Aceh hingga Papua yang pernah dikunjungi, saya selalu mengajarkan tehnik membatik atau pewarnaan alami pada perajin di sana. Bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat kami terus membina perajin agar berkembang maju. Kegiatan ini meneruskan alm papi (Saptohoedojo) yang sangat cinta pada kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia,” tutur Yani yang juga membidangi Komite Kebudayaan. pada Lions Club Nasional.

Ia juga selalu menjaga berbagai karya seni, lukisan-lukisan maupun patung peninggalan Saptohoedojo berikut benda-benda etnik dari berbagai daerah di nusantara. Benda-benda etnik tersebut digelar di galerinya Maguwoharjo, Jalan Solo Km 9 Yogyakarta. (Yuliantoro)

 

 

 

 

 

 


share on: