Yogyapos.com (BANTUL) - Pandemi Covid-19 dipandang sebagai tantangan yang harus dihadapi oleh Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) bagi para lulusannya untuk terjun di dunia kerja.
"Kami memang terdampak Covid-19, namun tetap mempunyai kiat dan bertekad agar para lulusannya tetap mampu bersaing dan terjun di dunia kerja penerbangan ataupun lainnya yang relevan,” kata Wakil Ketua II STTKD Yogyakarta, M Wasfan Wahyu Widodo MSi dadimpingi Humas sekolah tinggi ini, Teguh Aribowo SS MHum kepada yogyapos.com di Kampus STTKD, Banguntapan Bantul, Kamis (18/6/2020).
Menurutnya, dampak Covid-19 yang dirasakan oleh STTKD Yogyakarta adalah harus dan telah melaksanakan misalnya tentang protokoler terkiat dengan perkuliahan, pendaftaran mahasiswa (taruna) baru dan kegiatan lainya. Semua harus sesuai dengan ketentuan resmi dari Pemerintah.
Pemberlakuan ketentuan untuk mentaati protokoler termasuk larangan adanya PSBB diterapkan bagi para civitas akedemika, dosen, karyawan dan mahasiswanya. Kini belajar mengajar (perkuliyahan) juga tidak secara tetap muka secara langsung, namun melalui seluler (online) atupun yang lainnya.
Demikian pula dalam melaksanakan Pendaftaran Mahasiswa Baru. Ini dilaksanakan secara disiplin. Pemberlakuan sistem ini tetap akan dilakukan sesuai dengan ketentuan. Apabila ada ketentuan perubahan dari Pemerintah secara resmi, juga akan dilakukan perubahan.
"Dalam pendataran Calon Mahasisiwa (Taruna) Baru Tahun 2020, STTKD yang Kampusnya berada di Jalan Parangtritis km 4,5 Yogyakarta , kini sudah memperoleh ribuan pendaftar. Namun yang sudah positif melakukan regristasi ada sekitar 600 orang,” tambah M Wasfan.
Mengenai aksi sosial yang terkait dengan Covid-19, STTKD Yogyakarta juga telah melakukan sejumlah aksi sosial. Salah satunya membagikan sembako sekitar 380 paket kepada masyarakat sekitar kampus dan mahasiswanya.
Terkait dengan pemberlakukan protokoler berkenaan dengan perkuliyahan, maka mayoritas (sekitar 80 persen) para mahasiwannya pulang kampung. Sisanya sekitar 20 persen masih berada di asrama dan tempat kontrak di sekitar kampusm
Para mahasiswa yang pulang kampung, sebelumnya juga telah dilakukan rephit tes bagi mereka. Ini adalah sebagai ujud kedisiplinan dalam protokoler pencegahan Covid-19. (Supardi)
