Yogyapos.com (SLEMAN) - Sebanyak 17 Dewan Pimpinan Cabang Partai Amanat Nasional (DPC PAN) se-Kabupaten Sleman menyatakan sikapnya menolak dinasti politik dalam Pilkada 2020.
Pernyataan sikap tersebut tertuang dalam Kesepakatan Bersama yang ditanda tangani masing-masing Ketua DPC dan dibacakan di Kantor DPD PAN Sleman, Pandowoharjo Sleman, Kamis (6/8/2020).
“Pernyataan sikap ini murni suara teman-teman dari tingkat kecamatan. Jadi, ini merupakan suara arus bawah. Mereka berhasrat agar dalam Pilkada Sleman 2020 PAN mengusung calonnya dari internal, benar-benar kader PAN,” ungkap Ketua Tim Pilkada, Sekar Maji.
Sekar Maji menyatakan, sejak awal arus bawah menginginkan adanya kaderisasi untuk kepemimpinan Sleman mendatang merupakan kader PAN. Dalam penjaringan tercatat dua nama yang diusulkan yaitu Mumtaz Rais dan Sadar Narima. Dua nama inilah yang melakukan atau mengikuti proses penjaringan dari tingkat DPD hingga DPP, hasil dari akomodasi suara arus bawah internal PAN.
Bahwa kemudian Mumtaz Rais mengundurkan diri, tapi masih ada satu nama lagi yang merupakan hasil suara arus bawah yakni Sadar Narima. Sedangkan Kustini Sri Purnomo (KSP) nota bene istri dari Bupati Sri Purnomo tidak pernah melakukan pendaftaran penjaringan di tingkat daerah.
“Kami sejak awal juga sudah melakukan komunikasi intensif dengan parpol koalisi untuk mengusung Pak Sadar Narima,” tegas Sekar Maji.
Sadar Narima adalah Ketua DPD PAN Sleman yang juga Ketua ‘Koalisi Santun’. Dia selama ini dikenal mengakar kepemimpinannya. Sehingga pasca mundurnya Mumtaz Rais, Sadar Narima merupakan satu-satunya kader PAN yang diusulkan untuk ikut dalam kontestasi Pilkada Sleman 2020. (Agung DP/Met)
