Menyelami Laut Kerinduan dalam 'Gelombang Laut Ibu' Karya Ulfatin Ch

share on:
Adya Sa'dan S, Penulis dan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY || YP-Ist

APA yang sebenarnya kita cari ketika mengingat seorang ibu? Mungkin sebuah pelukan yang pernah membuat kita merasa aman. Mungkin suara yang selalu menenangkan ketika hidup terasa berantakan. Atau mungkin sebuah rumah yang tak lagi bisa kita datangi, tetapi terus hidup dalam ingatan. Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang seolah mengalir di lembar-lembar antologi puisi Gelombang Laut Ibu karya Ulfatin Ch.

BACA JUGA: Lebih Berbahaya Wiji Thukul atau Saiful Mujani?

Sejak membaca judulnya, saya sudah membayangkan sebuah hubungan yang erat antara sosok ibu dan laut. Laut adalah sesuatu yang luas, dalam, kadang tenang, kadang bergelombang, tetapi selalu menyimpan kehidupan di dalamnya. Demikian pula ibu dalam puisi-puisi Ulfatin Ch. Ia hadir bukan sekadar sebagai sosok biologis, melainkan sebagai ruang emosional tempat aku lirik kembali pulang.

Penyair Ulfatin Ch dalam sebuah pembacaan puisi || YP-Ist

Antologi yang terbit pada tahun 2024 ini memuat 83 puisi dengan tema yang beragam, tercatat masuk kedalam 5 Besar Antologi Buku Sastra Pilihan Majalah Tempo. Ada puisi yang berbicara tentang kemanusiaan, pengalaman hidup, hingga peristiwa sosial. Namun, di antara semua tema tersebut, ibu tetap menjadi pusat semesta yang mengikat keseluruhan antologi.

BACA JUGA: Gubernur DIY: Keberhasilan Pemerintah Daerah Tercermin dari Menurunnya Kemiskinan

Kekuatan pertama yang langsung terasa adalah kesederhanaan bahasanya. Ulfatin Ch tidak berusaha mempersulit pembaca dengan metafora yang terlalu rumit. Ia justru memilih kata-kata yang akrab dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, dari kesederhanaan itulah muncul kekuatan emosional yang perlahan mengendap dalam benak pembaca.

BACA JUGA: Sleman akan Jadi Tuan Rumah Konferensi Pendidikan Indonesia

Dalam puisi Membaca Ibu, misalnya, terdapat larik yang sangat sederhana:

“Di halaman satu hanya ada nama ibu”
(hlm. 13)

Sekilas larik tersebut tampak biasa. Akan tetapi, semakin direnungkan, semakin terasa kedalamannya. Ibu ditempatkan sebagai “halaman pertama” kehidupan. Sebelum mengenal dunia, sebelum mengenal orang lain, bahkan sebelum mengenal diri sendiri, yang pertama kali hadir adalah ibu.

BACA JUGA: Puisi Jelek untuk Penguasa Buruk

Perasaan yang sama juga muncul dalam puisi Ibu yang Mengalirkan Doa:

“Ibu yang mengalir dalam tubuhku
mengalir dalam rongga napasku
mengalir dalam nadiku”

(hlm. 11)

Pengulangan kata mengalir membuat sosok ibu terasa begitu dekat, bahkan menyatu dengan tubuh dan jiwa aku lirik. Ibu bukan lagi seseorang yang berada di luar dirinya, melainkan telah menjadi bagian dari keberadaannya sendiri.

BACA JUGA: Gubrak! Lurah Condongcatur Resmi Tersangka Korupsi, Polda DIY: Kerugian Negara Rp 1 M

Membaca puisi-puisi tersebut, saya teringat pada pemikiran Jacques Lacan tentang kerinduan manusia terhadap sesuatu yang pernah membuatnya merasa utuh. Menurut Lacan, manusia selalu hidup dalam keadaan kurang (lack). Kita terus mencari sesuatu yang hilang, sesuatu yang dahulu pernah memberi rasa aman. Dalam antologi ini, ibu tampaknya menjadi simbol dari rasa aman tersebut.

BACA JUGA: Pasca Penangkapan Dadan, Kejagung Sita BB Motor Listrik hingga Ribuan Barang Elektronik

Ketika aku lirik berulang kali berbicara tentang pulang, doa, dan kenangan, yang sebenarnya dicari bukan sekadar sosok ibu, melainkan perasaan utuh yang pernah dihadirkan oleh ibu. Karena itu, kerinduan dalam puisi-puisi Ulfatin Ch terasa begitu kuat dan terus berulang. Kerinduan tersebut tampak jelas dalam puisi Di Rumah Ibu:

“Di rumah ibu hanya ada
rindu”

(hlm. 12)

Hanya dua larik pendek, tetapi daya pukul emosionalnya sangat besar. Kata rindu berdiri sendiri, seolah menjadi satu-satunya penghuni rumah itu. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada uraian berlebihan. Justru karena kesederhanaannya, pembaca diberi ruang untuk mengisi makna dengan pengalaman masing-masing.

BACA JUGA: Dugaan Korupsi Kredit BUKP Rp 2,1 M, Polresta Sleman Tetapkan 3 Tersangka

Selain menghadirkan kerinduan, Ulfatin Ch juga menampilkan ibu sebagai pusat nilai dan kehidupan. Dalam puisi Ibu yang Meminta, ia menulis:

“Ibu yang meminta
dan aku mengaminkannya”

(hlm. 4)

BACA JUGA: Asah Kemampuan Public Speaking, Mahasiswa Agribisnis UMY Bekali Diri Jadi PR Profesional

Larik ini menunjukkan hubungan yang begitu erat antara ibu dan anak. Ibu menjadi sumber doa, harapan, sekaligus arah hidup. Aku lirik menerima dan mempercayai apa yang datang dari ibu tanpa keraguan. Namun, justru di titik inilah saya menemukan sisi yang menarik untuk dikritisi.

Hampir seluruh puisi dalam antologi ini menampilkan ibu sebagai sosok yang sempurna. Ibu selalu hadir sebagai pelindung, pemberi kasih sayang, dan sumber kebaikan. Dalam puisi Menjaga Anak Perempuan, misalnya, terdapat larik:

“Tak perlu kau gelisah
karena ibu masih di sini”

(hlm. 5)

Antologi puisi 'Gelombang Laut Ibu' karya Ulfatin Ch, penerbit Interlude (2024) || YP-Ist

Ibu digambarkan sebagai tempat perlindungan yang mampu menghapus segala kecemasan. Gambaran semacam ini memang menyentuh, tetapi lama-kelamaan menghadirkan kesan bahwa ibu tidak memiliki sisi lain sebagai manusia.

BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Ditetapkan Sebagai SMA Unggul Garuda Transformasi

Padahal, dalam kehidupan nyata, seorang ibu juga bisa merasa lelah, kecewa, marah, atau bahkan rapuh. Kompleksitas semacam itu hampir tidak muncul dalam antologi ini. Akibatnya, ibu lebih tampil sebagai simbol kesempurnaan daripada manusia yang hidup dengan berbagai kemungkinan konflik.

BACA JUGA: Rakor di Yogya, Mendagri: Stabilitas Poliitik dan Keamanan Faktor Utama Dukung Pembangunan

Selain itu, simbol-simbol yang digunakan juga cukup sering diulang. Laut, gelombang, hujan, jalan pulang, cahaya, dan doa hadir berkali-kali dalam berbagai puisi. Memang, pengulangan tersebut berhasil menciptakan kesatuan tema yang kuat. Akan tetapi, di sisi lain, pembaca juga dapat merasakan bahwa simbol-simbol tersebut tidak banyak bergerak menuju makna yang baru.

Meski demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi daya tarik utama antologi ini. Justru kekuatan terbesar Gelombang Laut Ibu terletak pada kemampuannya menghidupkan pengalaman yang sangat personal menjadi pengalaman yang terasa universal. Hampir setiap pembaca dapat menemukan dirinya sendiri dalam puisi-puisi tersebut: mengenang ibu, merindukan ibu, atau sekadar mengingat seseorang yang pernah menjadi tempat pulang.

BACA JUGA: Embung Kaliaji Memakan Korban, Dua Orang Ditemukan Meninggal Dunia

Pada akhirnya, membaca Gelombang Laut Ibu serupa berdiri di tepi pantai sambil mendengarkan ombak datang silih berganti. Gelombang-gelombang itu membawa kenangan, doa, kehilangan, dan kerinduan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ulfatin Ch berhasil menunjukkan bahwa sosok ibu bukan hanya seseorang yang hidup dalam kenyataan, tetapi juga sebuah ruang dalam ingatan yang terus berdenyut sepanjang hidup manusia.

Dan mungkin itulah alasan mengapa setelah halaman terakhir ditutup, yang tersisa bukan sekadar puisi-puisi tentang ibu, melainkan perasaan ingin pulang. Pulang kepada seseorang yang namanya selalu menjadi halaman pertama dalam hidup kita. (Sa'dan Adya A adalah penulis muda yang memiliki ketertarikan pada dunia bahasa dan sastra. Ia lahir dan tinggal di Bantul pada 21 September 2006, sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Jurusan Sastra Indonesia. Instagram @sadan_adya, email: [email protected])

 


share on: