69 TAHUN GARUDA PANCASILA : Pesan Kesejarahan dari Yogyakarta

share on:
Nanang Rakhmad Hidayat MSn | YP/Wahjudi

Yogyapos.com (YOGYA) - Tak banyak yang tahu dan memahami kapan lambang negara Garuda Pancasila disahkan secara resmi. Bila sejarah dan filosofi yang melatari hadirnya saja tak diketahui, jangan harap generasi penerus bangsa akan paham tentang lambang yang sarat pesan moral itu. Untuk itulah amat vital digelar pembelajaran kepada siapapun yang masih mencintai bangsa dan negara Republik Indonesia.

Dosen ISI Yogyakarta yang juga pemilik Rumah Garuda Nanang Rakhmad Hidayat M Sn menyampaikan hal itu usai rapat koordinasi pelaksanaan Pekan Garuda dalam rangka Peringatan 69 Tahun Lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila di  Diskominfo DIY, Selasa (5/2/2019).

Lebih lanjut sosok yang akrab disapa dengan Nanang Garuda ini menjelaskan, Pekan Garuda diharapkan akan mengelaborasi tiga hal mendasar tentang Garuda Pancasila. Ketiganya adalah aspek historis, aspek ekonografis, dan aspek legal formal. Harapan kami adalah bangsa ini bisa kembali ke jalan yang lurus, sesuai amanat sejarah para pendiri bangsa yang susah payah mencari dan menemukan lambang negara.

Kegiatan itu juga akan mensosialisasikan vektor Garuda Pancasila yang resmi, dilanjutkan beragam aplikasi yang bisa dan boleh dikreasi menyangkut penggunaan lambang negara.

Menurut catatan sejarah yang berhasil dihimpun Rumah Garuda, bangsa ini pertama kali menggunakan lambang negara pada tanggal 11 Februari 1950. "Pada hari itu disepakati disepakati sebuah desain hasil perpaduan aspirasi seluruh Panitia Lencana Negara. Itulah saat kita, bangsa ini pertama kali memiliki lambang negara,” tandasnya.

Proses yang melatari relatif panjang dan berliku. Tercatat pada 13 Juli 1945, dalam rapat Panitia Perancangan Undang-Undang Dasar, Parada Harahap mengusulkan lambang negara sebagai salah satu simbol negara Indonesia. Dua tahun setelah merdeka, pemerintah baru membentuk Panitia Indonesia Raya untuk menyusun rancangan lambang negara yang diketuai Ki Hajar Dewantara dengan sekretaris Mohamad Yamin. Dari penelian Ki Hajar ditemukan Garuda di berbagai candi di Indonesia.

Pada tanggal 10 Januari 1950 pemerintah membentuk Panitia Lencana Negara yang diketuai Mohamad Yamin. Di dalamnya ada Sultan Hamid II (koordinator) dengan anggota Ki Hajar Dewantara MA Pellaupessy, Moh Natsir dan Ng Poetbatjaraka. Sultan Hamid II membuat rancangan lambang negara berbentuk elang pada 8 Februari 1950. Presiden Soekarno mengusulkan agar pita Merah Putih yang dicengkeram elang diganti dengan seloka Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Penyempurnaan kemudian dilakukan dengan memberikan simbol-simbol berupa Nur Cahaya (Moh Natsir), Rantai (Sultan Hamid II), Pohon Astana (R Ng Poerbatjaraka), Kepala Banteng (Moh Yamin) serta Padi dan Kapas (Ki Hajar Dewantara). Desain ini kemudian disempurnakan oleh Dirk Ruhl Jr, ahli semiotika Jerman, dengan menambah jambul dan posisi arah cakar. Setelah disepakati desain itu dilukis oleh Dullah dan diresmikan Presiden Soekarno pada 22 Juli 1958 melalui PP Nomor 43 Tahun 1958 dengan nama "Elang Rajawali Garuda Pancasila".

Di tempat yang sama Sigit Sugito menambahkan bahwa kondisi saat ini sangat pas dengan keinginan untuk mengenalkan kembali lambang negara Garuda Pancasila. "Kita berharap agar Pesan Yogyakarta bisa dipahami seluruh bangsa dan rekomendasi yang nanti keluar dari momen ini bisa sampai ke Presiden,” tandasnya.

Terkait acara Pekan Garuda, dia menjelaskan antara lain peringatan rencanananya akan dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dilanjut dengan serangkaian sarasehan dan diskusi menampilkan tokoh-tokoh yang berkompeten. Tema yang diangkat antara lain Membangun Literasi Kebangsaan Melalui Media (11/2/2019), Standarisasi Bentuk dan Proporsi Lambang Negara (12/2/2019), Historiografi Lambang Negara Garuda Pancasila (13/2/2019), Aplikasi Lambang Negara Garuda Pancasila Sebagai Brand Negara Ditinjau dari Aspek Komunikasi Visual dan Hukum (14/2/2019) dan Orasi Kebudayaan Prof Mahfud MD (25/2/2019) serta pameran Garuda yang berlangsung 11-15 Februari 2019. (Udi)

 

 

 

 


share on: