Afnan Malay dan Rudy Gunawan akan Tinggal di Chili Selama 1 Bulan

share on:
Afnan Malay (kanan) dan kawan-kawan || YP-Ist

DUA sastrawan dan penulis asal Yogyakarta diundang untuk mengikuti program residensi di negara Chile. Melalui program yang bertajuk "de Intercambio Literario y Cultural Indonesia - Chile", kedua sastrawan akan tinggal di salah satu negara Amerika Latin tersebut selama empat bulan. Sebuah kehormatan tidak saja bagi kalangan sastrawan di Yogyakarta tetapi juga Indonesia.

Tak kurang dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, mendukung kedua tokoh yang juga aktivis mahasiswa pada masanya itu untuk melakukan anjangsana budaya dan sastra di negara asal Pablo Neruda dan Robert Bolano tersebut. Dukungan itu disampaikan saat keduanya bertemu Dirjen Kebudayaan belum lama ini di Jakarta.

Afnan Malay dikenal sebagai pencetus Sumpah Mahasiswa tahun 1988. Sumpah tersebut menjadi icon gerakan mahasiswa yang menentang Orde Baru. Sebagai seorang penyair, Afnan tergolong produktif. Beberapa antologinya antara lain To Kill The Invisible Killer (2020), Tentang Presiden (2020), Pelajaran Membaca (2020). Puisinya juga banyak dimuat di berbagai antologi. Selain aktivis dan penyair, alumni Fakultas Hukum UGM ini juga dikenal sebagai penulis yang kritis.

Sedang Rudi Gunawan yang merupakan alumni Fakultas Filsafat UGM dikenal sebagai penulis yang produktif. Beberapa novelnya antara lain Mata Yang Malas, 170.8 fm: Radio Negeri Biru, K-O-M-A, dan berbagai buku esai tentang sosial politik. Selain aktivis dan penulis novel yang andal, Rudi juga seorang wartawan. Pendiri penerbit GagasMedia ini juga merupakan praktisi perfilman serta sering memberikan workshop jurnalistic dan creative writing.

Residensi adalah sebuah program yang memberikan ruang dan waktu secara intens kepada seniman atau sastrawan untuk berkarya. Mereka diharuskan tinggal dan berkarya di wilayah atau negara tertentu untuk menemukan pengalaman dan impresi yang baru. Model residensi juga bisa membuka terbentuknya jaringan kerja kolaboratif antara negara asal peserta dengan negara tuan rumah.

Dalam konteks Indonesia, peran penyair, sastrawan dan penulis sebetulnya juga sangat diharapkan terutama dalam membuka potensi desa-desa yang kaya dengan kearifan lokal dan aspek kesejarahan. Mengandalkan memori kolektif warga masyarakat jelas bukan tindakan yang bijaksana karena akan terbatas pada usia generasi tua desa tersebut. Menyelamatkan nilai keutamaan dan keteladanan dalam sebuah karya atau buku merupakan kerja peradaban yang harus segera digerakkan agar mutiara kehidupan tak hilang begitu saja. Bukankah verba volant schripta manent. (Wahjudi Djaja)

 


share on: