Yogyapos.com (YOGYA) - Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Dra Monika Nur Lastiyani MM, mengatakan akreditasi perpustakaan sebuah momentum menjadikan pengelolaan perpustakaan profesional dan berkualitas baik. Perpustakaan memiliki peran penting bagi terciptanya budaya literasi. Akreditasi perpustakaan salah satu wujud pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada perpustakaan.
“Perpustakaan berpredikat terakreditasi menjamin konsistensi kualitas, pelayanan, maupun kinerja penyelenggaraannya. Terlebih apabila itu perpustakaan sekolah, dipastikan memberikan citra positif hingga prestise sekolah di mata masyarakat,” ujar Monika saat memberikan sambutan kegiatan visitasi akreditasi perpustakaan mewakili DIY melalui virtual Zoom di ruang kerjanya, Selasa (13/10/2020).
Dia menjelaskan akreditasi perpustakaan merupakan pengakuan formal oleh Lembaga Akreditasi Perpustakaan (LAP) yang menyatakan bahwa sebuah perpustakaan telah memenuhi persyaratan melakukan kegiatan pengelolaan perpustakaan. Tujuannya menilai secara obyektif dan transparan pelayanan perpustakaan berdasarkan kriteria atau instrument.
“Sejak 2011, DIY telah menghasilkan sebanyak 273 perpustakaan terakreditasi. Dari jumlah sekian itu, 75% mendapat predikat terakreditasi A,” katanya.
Menurut Monika, visitasi online periode 13 Oktober 2020 diikuti perpustakaan dari Gunungkidul, Bantul, dan Kulonprogo masing-masing 10 perpustakaan. Kemudian dari Pemalang, Jawa Tengah ada 7 perpustakaan, dan Kotabaru, Kalimantan Selatan 2 perpustakaan. Pelaksanaannya mengacu surat Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca, Perpustakaan Nasional RI Nomor 1638/4.1/PPM.05/V.2020 mengenai Akreditasi Perpustakaan Secara Online di Masa Pandemi Covid-19.
Ia berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan akreditasi perpustakaan melibatkan berbagai pihak. Dalam hal ini Perpustakaan Nasional serta asesor yang telah meluangkan waktu untuk melakukan asesmen kepada para peserta akreditasi. Demikian pula Perpustakaan Daerah telah memberikan pendampingan rutin di wilayahnya terkait pembuatan bukti fisik pendukung enam komponen akreditasi perpustakaan.
“Semoga kegiatannya berjalan lancar dan jaringan internet sebagai perangkat pendukung utama visitasi online tidak menjadi kendala,” harap Monika.
Di tempat terpisah, Drs Bambang Supriyo Utomo MLib, mewakili asesor menyampaikan bahwa tugas asesor hanyalah memotret kembali instrument yang telah dibuat. Asesor bukan menghakimi atau menjatuhkan usulan nilai dari perpustakaan bersangkutan. Namun semata-mata memastikan sekaligus meluruskan berdasarkan obyektivitas terhadap instrumen beserta bukti pendukung.
“Kita berkomunikasi biasa saja antara asesor dengan pengelola perpustakaan. Mudah-mudahan kegiatan visitasi berjalan lancar dan tidak ada hambatan apa-apa,” katanya.
Bambang menguraikan setiap perpustakaan dibawa masuk ke link khusus sesuai jadwal dan asesor sampai selesai prosesnya. Sedangkan sekilas jalannya visitasi meliputi: paparan profil perpustakaan, penayangan video perpustakaan, tanya jawab, review dari asesor, dan kesimpulan sementara. Nilai akhir dan predikat akreditasi disampaikan menyusul setelah para asesor melaksanakan sidang nasional akreditasi perpustakaan.
“Hasil visitasi yang berlangsung sekarang ini akan kami bawa dalam sidang di Lembaga Akreditasi Perpustakaan,” pungkas Bambang Supriyo Utomo. (Muf)
