Yogyapos.com (BANTUL) - Hingga kini diyakini masih banyak warga miskin di Kabupaten Bantul yang terlewatkan tidak memperoleh bantuan sosial (bansos) penanganan dan percepatan Covid-19 yang dianggarkan dari Pemerintah Pusat, DIY dan dari Pemerintah Kabupaten Bantul.
Itu sebabnya, kalangan wakil rakyat di DPRD Bantul meminta Pemkab setempat mengakomodir mereka dan dilanjutkan ekskusi pemberian penyaluran bansos kepada mereka.
"Fakta itu bisa dilihat dalam data yang ada di Posko Pengaduan dan Asiprasi Covid-19 yang didirikan dan ada di DPRD Bantul,” kata Aryunadi dan Teguh Santoso selaku anggota DPRD yang juga bertugas piket di posko ini, saat menyambangi ke rumah pengadu, Maryono (50) warga Gandekan RT 2 Goasari Pajangan Bantul, Rabu (17/6/2020).
Data di Posko itu menunjukan bahwa hingga kini jumlah warga yang telah mengadu dan mengajukan untuk memperoleh bansos tidak kurang ada 350 orang.
Pada umumnya mereka merasa pantas untuk memperoleh bansos, namun namanya tidak masuk dalam daftar. Maka otomatis tidak bisa mendapatkannya. “Nah kali ini kami ingin mengetahui data riil di lapangan dengan cara terjun dan ngecek ke lokasi secara langsung. Salah satunya di rumah Maryono (45) Gandekan Goasari Pajangan,” kata Aryunadi.
Dijelaskan, seharusnya mereka yang mengadu di cek langsung ke lapangan. Bila masuk dalam kriteria, maka langsung diberikan bansos APBD 2 (Kabupaten) . Itu dilakukan alasannya adalah kini masih tersedia anggaran untuk pemberian bantuan kepada mereka.
Anggaran untuk percepatan penanganan Covid-19 di Bantul sekitar Rp 74 Miliar. Sedangkan yang sudah terserap sekitar Rp 27 Milar. Maka masih ada sisa dan bisa untuk menangani para pengadu dengan secepatnya.
"Hingga kini apabila didata dengan sungguh-sunggauh dan cermat, maka masih banyak warga yang pantas mendapatkan bansos namun jutru terlewatkan,” sambung Teguh Santoso.
Sementara itu, Maryono, ketika ditemui di rumahnya Gandekan, mengaku pihaknya belum pernah mendapatkan bansos sama sekali. Ketika menanyakan ke pengurus kampung dijawab datanya dari atas. Dan bila bertanya ke orang atas dijawab data nama penerima dari bawah.
"Ini membingungkan saya yang kini miskin, duda, patah kaki dan sebagai tukang pijat yang bahkan kini nganggur akibat tidak ada pasien. Harapan saya mbok iyao saya bisa mmperoleh bansos untuk menyambung hidup atau diberikan bantuan permodalan untuk beternak" keluhya.
Warga yang mengadu ke Posko Aspirasi di DPRD Bantul semakin bertambah. Pada umumnya mereka merasa pantas mendapatkan bansos, namun nyatanya tidak. (Supardi)
