Atasi Pencemaran Udara dengan Air Purifier Drone

share on:
Tiga mahasiswa UNY peneliti pencemaran udara || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Pencemaran udara menjadi masalah bagi banyak negara di dunia, terutama kota-kota besar. Polusi udara ini menyebabkan kualitas udara ambien yang buruk berpotensi membahayakan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai, buruknya kualitas udara diIndonesia karena akumulasi dari musim kemarau dan polusi. Salah satu polusi udara dari kendaraan bermotor bensin (sparkignition engine) menyumbang 70% karbon monoksida(CO), 100% plumbum (Pb), 60% hidrokarbon (HC), dan 60% oksidanitrogen (NOx). Bahkan beberapa daerah yang tinggi kepadatan lalu lintasnya menunjukkan bahan pencemar telah melampaui ambang batas. Karbon monoksida adalah gas pencemar udara yang sangat berbahaya bagi tubuh. Ia dapat berikatan dengan hemoglobin dalam tubuh, sehingga pengikatan oksigen oleh darah menjadi terganggu. Bahkan kalau manusia menghirup gas CO dalam kadar tinggi, resikonya adalah kematian. Jika dalam kadar sedikit, menghirup CO dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mata berkunang-kunang, lemas dan mual-mual. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya terobosan pada beberapa kota besar yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi.

Sekelompok mahasiswa Fakultas MIPA UNY mempunyai gagasan untuk membuat suatu modul atau alat yang dapat memfilter atau menyaring udara sehingga dapat mengurangi pencemaran udara setiap harinya. Mereka adalah Fitri Nurhidayati prodi Pendidikan Fisika, Ag Sangga Buana prodi Fisika dan Fatcul Solikhan prodi Pendidikan Kimia.

Menurut Fitri Nurhidayati, alat yang dinamai Air Purifier Drone ini dapat diterbangkan ke tempat-tempat yang memiliki tingkat polusi udara tinggi dan dapat dikendalikan dengan remote control sehingga memiliki jangkauan yang lebih luas.

“Ini merupakan inovasi untuk mengurangi polusi udara. Karena berdasarkan penelitian WHO, negara dengan polusi udara tinggi justru dapat memperparah dan meningkatkan resiko virus corona,” kata Fitri.

Sangga Buana menambahkan bahwa dalam drone ini dilengkapi dengan adsorbenyaitu zat padat yang dapat menyerap partikel fluida dalam suatu proses adsorpsi yang bersifat spesifik dan terbuat dari bahan-bahan yang berpori. “Adsorbe yang digunakan dalam tahapan ini adalah jenis adsorben Fly Ash,” paparnya.

Untuk meningkatkan performa adsorben, maka flyash akan diaktifkan dengan cara direfluks dengan larutan H2SO 43% dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori dari senyawa pengotor yang dapat mengganggu penyerap anemisi gas buang. Flyash kemudian dicuci dengan aquades sampai netral dan selanjutnya dikeringkan.

Selanjutnya dilakukan pemanasan terhadap flyash dengan tujuan untuk menguapkan air yang terperangkap dalam pori-pori flyash sehingga luas permukaan pori-pori bertambah.

Fatcul Solikhan menjelaskan teknologi yang digunakan dalam drone ini adalah DT-Sense Carbon Monoxide Sensor, sebuah modul sensor yang berbasiskan MQ-7 yaitu sensor yang bereaksi terhadap kadar gas karbon monoksida yang terdapat dalam udara.

“Juga ada superkapasitor dan adsorben,” kata Fatcul. Drone juga dikembangkan dengan menggunakan sensor karbon monoksida dalam perakitannya. Perakitan sensor meliputi pemasangan sensor, super capasitor dan komponen-komponenlain yang dibutuhkan pada sebuah pcb. Selain itu, perakitan drone juga dilakukan pada airpurifier yang telah dibuat. Pemasangan air purifier pada drone disesuaikan pada rancangan, dimana air purifier terdapat pada sisi atas badan drone. Perakitan alat dimulai dari memasang frame karbon, lalu memasang brussless pada keempat sisi motor drone sekaligus menyesuaian Electronic Speed Control (ESC) padamotor dan memasangnya.  Kemudian meghubungkan setiap ESC ke flight control. Pasang buzzer dan receiver, tingkatkan frame drone menjadi 2 tingkat, pasang modul MQ-7 dan super kapasitor, memasang fanexhaust/kotak air purifier yang dilengkapi adsorben yang sudah dibuat serta memasang propler pada motor brussless. Drone bisa diujicoba.

Karya ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karya Cipta dan lolos seleksi Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional tahun 2020 yang akan dilaksanakan Rabu-Sabtu (25-28/11/2020). (*/Deddy Herdito)


share on: