Bantul Sebagai 'Halaman Depan' DIY Dalam Spirit Keistimewaan

share on:
Agung Laksmono Si MSc Mling, Ketua DPD PKS Kabupaten Bantul

PEMERINTAH Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menetapkan kebijakan bahwa ‘halaman’ DIY akan berada di wilayah selatan. Hal ini termuat di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DIY Tahun 2017-2022. Dari aspek pembangunan, kebijakan tersebut diarahkan untuk lebih mendorong pertumbuhan kawasan selatan yang selama ini relatif tertinggal dibanding kawasan utara. Kawasan selatan memiliki potensi besar untuk dikembangkan terutama dari sektor maritim. Pantai selatan DIY memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 113 kilometer yang membentang dari Kulonprogo, Bantul sampai dengan Gunungkidul dengan potensi kekayaan yang melimpah. Kebijakan tersebut sekaligus menghidupkan kembali kearifan tradisional Jawa dalam memadukan ekonomi pertanian dengan ekonomi berbasis maritim melalui konse pamong tani dagang layar.

Kabupaten Bantul yang berada di wilayah selatan juga menjadi bagian halaman depan DIY. Pemerintah Kabupaten Bantul telah menjadikan kawasan pantai selatan sebagai Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) dengan prioritas pengembangan yang bertumpu pada sektor maritim, meliputi; perikanan, pengembangan energi, konservasi alam, ekonomi kreatif serta pariwisata. Pengembangan sektor maritim tersebut dapat bersinergi dengan sektor pertanian, wisata budaya serta industri kerajinan yang selama ini menjadi andalan Bantul.

Posisi Bantul sebagai bagian halaman depan DIY juga memiliki nilai filosofis dari aspek keistimewaan Yogyakarta. Kedudukan keistimewaan Yogyakarta bertumpu pada eksistensi Keraton Yogyakarta beserta Puro Pakualaman, sebagai penerus Kerajaan Mataram Islam yang dikuatkan dengan status keistimewaan melalui UU Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejarah Bantul tidak bisa lepas dari sejarah peradaban Mataram Islam yang pernah menjadi kerajaan terbesar di PulauJawa. Dari aspek kesejarahan, di Bantul lahter letak jejak-jejak kejayaan Mataram Islam, seperti; Masjid Gede Mataram, Situs Kerta Pleret, serta Kompleks Pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri. Kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Panembahan Senopati di atas tanah Mentaok milik ayahnya, Ki Ageng Pemanahan yang terletak di Kalurahan Jagalan dan merupakan hadiah dari Sultan Hadiwijaya.

Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (Graaf, 1986). Kebesaran Sultan Agung terlihat dari luasnya wilayah Mataram Islam, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Palembang hingga Kalimantan di wilayah Sukadana. Disamping berupaya menyatukan Jawa, Sultan Agung juga berjuang mengusir kolonial VOC dari bumi Nusantara melalui serangan tentara Mataram Islam ke Batavia di tahun 1628 dan 1629 Masehi.

Kerajaan Mataram Islam tidak hanya memperkuat politik dan militer, namun juga membangun basis ekonomi rakyat melalui sektor perdagangan yang ditunjang sektor agraris. Di bidang pertanian, Mataram Islam sukses mengembangkan daerah persawahan yang luas dengan sistem pengairan yang baik. Di abad ke 17, Jawa di bawah kekuasaan Mataram Islam telah menjadi lumbung padi yang sangat subur. Disamping penghasil beras, Mataram Islam juga menjadi penghasil kayu, gula, kelapa, kapas juga palawija.

Masa Sultan Agung juga sempat mengukir kemajuan ilmu pengetahuan, sastra dan keagamaan. Salah satu karya adiluhung Sultan Agung adalah Serat Sastra Gending yang berisi ajaran nilai keimanan, moral, serta etika dengan tetap menjaga harmoni sosial budaya. Serat Sastra Gending menjadi salah satu perangkat pendidikan karakter bagi rakyat Mataram Islam. Pendidikan karakter yang kokoh menjadikan rakyat Mataram Islam memiliki karakter kebangsaan yang kuat dan disegani bangsa-bangsa lain.

Pendidikan karakter yang dilakukan Sultan Agung kepada rakyat Mataram Islam dilakukan melalui 3 (tiga) falsafah; mangasah mingising budi, mamasuh malaning bumi dan mamayu hayuning bawana. Mangasah mingising budi bermakna membangun akhlak dan budi pekerti, guna mewujudkan integritas moral. Mamasuh malaning bumi bermakna membersihkan kehidupan dari segala kotoran, baik kotoran fisik, penyimpangan sosial termasuk penyimpangan hukum. Sedangkan mamayu hayuning bawana bermakna memelihara, dan melestarikan kehidupan bumi serta menjadi penebar kebaikan bagi kehidupan dunia.

Pasca Sultan Agung, Mataram Islam mengalami kemunduran dan disintegrasi.  Disamping terjadi konflik dan perpecahan antar elit Mataram Islam serta masuknya campur tangan VOC, yang lebih mendasar akibat pelemahan pada aspek pendidikan karakter sehingga mendegradasi sendi peradaban yang telah dibangun sebelumnya. Spirit Sultan Agung tentumasih relevan pada saat sekarang dalam membangkitkan spirit nasionalisme kebangsaan, melalui pembangunan martabat kemanusiaan berlandaskan spiritualitas Ketuhanan Yang Maha Esa dalam keragaman sosial budaya.

Posisi Bantul sebagai bagian halaman depan DIY, tentunya akan menjadi bagian dari wajah keistimewaan Yogyakarta. Dengan posisi tersebut, disamping harus dapat mewujudkan kemajuan kawasan selatan melalui pengembangan potensi maritim berbasis ekonomi rakyat, sekaligus harus menampilkan jatidiri budaya Istimewa Yogyakarta yang bersumber dari spirit ajaran luhur Mataram Islam sebagai bagian dari penguatan identitas kebangsaan. (Penulis: Agung Laksmono Si MSc Mling, Ketua DPD PKS Kabupaten Bantul)

 

 

 


share on: