Bendera Pusaka Iringi Kirab Palakiyah Kebumen

share on:
Bendera pusaka Merah Putih tinggalan masa proklamasi disertakan dalam kirab Agung Palakiyah || YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KEBUMEN) - Kirab Palakiyah adalah media pewarisan nilai-nilai luhur nenek moyang yang telah berlangsung secara turun-temurun. Ada kearifan yang hendak disampaikan agar kehidupan berlangsung penuh harmoni, selaras dan penuh kebersamaan. Kita harus menjaga kelangsungan tradisi ini agar generasi penerus tak kehilangan jatidiri.

Demikian sambutan Camat Pejagoan Kebumen, Farita Listiati, saat melepas Kirab Agung Palakiyah Desa Watulawang dari halaman rumah Kades Watulawang, Kamis (26/9/2019). Disampaikan, acara tradisi ini bisa dikembangkan lebih lanjut untuk kepentingan pariwisata dengan tidak meninggalkan karakter dan jatidiri. Kirab diikuti ribuan warga Desa Watulawang dan Desa Peniron. Diawali dengan pemotongan kambing kendhit, penanaman kepala kambing kendhit di batas desa Watulawang dan Peniron, kenduri dan pentas seni tradisi cepetan.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Watulawang, Wasita, menjelaskan digelarnya Kirab Palakiyah ini dimaksudkan untuk bekti bumi, ruwat bumi, dan merti bumi agar kehidupan warga selamat, sentosa, sejahtera dan makmur merata. “Ada potensi yang harus kita kembangkan untuk meningkatkan penghasilan. Kita memiliki alam yang aneh dengan kepundan gunung api purba, potensi seni budaya yang lengkap, jejak sejarah yang ada sejak zaman purba dan flora fauna seperti genitri dan tembakau tali abang, serta kuliner ingkung kluweg dan ayam kukus bumbu,” tandas Kades muda yang baru menjabat tiga bulan. 

Kepada yogyapos.com Wasita mengisahkan, ada amanah sejarah yang amat penting tidak saja bagi Watulawang tetapi juga bangsa Indonesia, yakni bendera merah putih. “Bendera Merah Putih ini dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tiap kali terjadi pergantian kepala desa, bendera ini diserahkan sebagai amanah untuk dipelihara di kades yang menjabat. Oleh karena itu, mulai tahun ini kita arak dalam Kirab Palakiyah,” jelasnya bangga.

Kirab Palakiyah merupakan momen pembuka pemberdayaan potensi dan masyarakat Watulawang. Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Wahyu Pancasila, Ravie Ananda SPd bahwa modernisasi memang tak bisa dihindari, tetapi kesejatian dan kepribadian tak bisa ditinggalkan.

“Para kasepuhan sebagai penjaga warisan leluhur tak bisa ditinggalkan. Merekalah pewaris tradisi akuwu yang telah ada sejak zaman Majapahit. Oleh karena itu, mengawali Kirab Palakiyah diadakan ziarah ke leluhur Watulawang yakni Kuwu Kabayeman yang makamnya berada di atas bukit Dukuh Kabayeman,” jelasnya.

Kirab Palakiyah dipimpin R. Bambang Nursinggih (Ketua LKJ Sekar Pangawikan) Yogyakarta, dihadiri jajaran Muspika Kecamatan Pejagoan, para kepala desa, kasepuhan, LPMD, BPD, RT/RW, Karang Taruna, dan warga Watulawang, Peniron, Kajoran, Pengaringan. Setelah kirab, acara ditutup dengan kenduri massal di jalan desa antara Watulawang dan Peniron. (Iud)

 


share on: