Bertahan Sebagai Pembuat Gula Jawa, Surtarti Butuh Kucuran Modal dari Pemerintah

share on:
Sutarti (45) tetap tekun membuat gula jawa || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Gula jawa hingga kini masih merupakan komoditas yang dibutuhkan dan laku di pangsa pasaran. Hal inilah yang menjadikan sekitar 40 ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Tani (Klomtan) Ngudi Mulyo Butuh Kidul Triwidadi Pajangan Kabupaten Bantul gigih memproduksinya.

Mereka bertekad bertahan melanjutkan wirausaha tinggalan para orang tuanya yaitu sebagai perajin gula jawa, salah satunya Sutarti. Perempuan usia 45 tahun ini setiap hari tetap bertahan sebagai pembuat gula jawa, kendati sekarang jumlah pemanjat pohon kelapa untuk mengambil bahan baku semakin berkurang.

“Pada umunya kami menekuni pekerjaan ini melanjutkan pekerjaan orang tua,” ungkap Sutarti, anggota Kelompok Tani Ngudi Mulyo Butuh Kidul Bantul, kepada yogyapos.com, Rabu (26/7/2023).

Sutarti, yang juga dibenarkan anggota lain Klomtan Ngudi Mulyo, mengaku bekerja sebagai pembuat gula masih cukup menguntungkan. Jika dihitung, dengan membuat gula jawa 7 kg dengan biaya Rp 100.0000 dapat memeroleh keuntungan Rp 50.000. Harga jual di pasaran gula Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kg.

Sistem pengadaan bahan baku berupa legen atau getah bunga kelapa masih dengan secara tradisional. Pemanjat pohon kelapa untuk mengambil legen itu pun kini jumlahnya berkurang, tinggal 15 orang karena kurang regenerasi.

“Cah enom (anak muda) lebih berminat kerja lainnya ketimbang menjadi penderes. Karena memanjat pohon kelapa cukup memeras tenaga dan tidak mendapatkan upah berupa uang,” sela Sutarti.    

Di sini antara pihak penderes dengan pemilik pohon kelapa sistemnya kerjasama. Misalnya, pada minggu ini pohon kelapa yang dideres, getah hasil deresannya untuk pemilik pohon. Sedangkan pada seminggu selanjutnya getah untuk yang menderes.

Untuk mendapatkan uang, bahwa pemilik pohon dan juga penderes harus mengolah getah  menjadi gula serta harus memasarkan gula hingga laku.

“Selama ini, para perajin memasarkan hasil produksinya ke pasar-pasar yang ada di Bantul melalui disetofkan ke tengkulak ataupun secara langsung,” katanya.

Ditanya tentang apakah ada harapan agar usaha para perajin bisa maju, Sutarti dan rekan rekan sepekerjaan mengatakan, pihaknya memerlukan adanya bantuan permodalan dan pemasaran. (Spd)

 


share on: